Melawan Hoax Dari Warung Kopi

Hoax dipercaya tersebar masif di media sosial. Dari warung-warung kecil, perlawanan terhadap hoax dilakukan dengan cara tradisional.

Langit masih gelap saat sejumlah pekerja warung Mak Waris bersiap membuka kedainya, Sabtu 26 Oktober 2019. Warung kopi di ujung gang depan Kantor Desa Bolorejo, Kecamatan Kalangbret, Tulungagung ini buka sejak pukul 05.00 WIB.

Meski terlalu pagi untuk nongkrong, tetapi tidak untuk warung Mak Waris. Bahkan ketika seluruh bangku belum tertata sepenuhnya, beberapa pelanggan sudah tampak menunggu di depan warung. “Turun dari masjid (sholat Subuh) langsung ke sini,” kata Rahmawan, salah satu pelanggan warung kopi tersebut.

Rahmawan bukan seorang pengangguran. Dia pekerja di salah satu perusahaan swasta yang memiliki kewajiban ngantor pukul 07.00 WIB. Sejak masih menganggur dan belum berkeluarga, Rahmawan sudah terbiasa nongkrong di warung itu. Rumahnya hanya sepelemparan batu dari warung Mak Waris.

Meski di rumah juga tersedia kopi, Rahmawan tak bisa meninggalkan kebiasannya ngopi di warung. Bahkan sejak duduk di bangku sekolah dasar, dia sudah menyaksikan ayahnya nongkrong di warung. Baginya, warung kopi sudah menjadi rumah kedua.

Rahmawan bukan satu-satunya yang nongkrong di warung Mak Waris. Warung kopi ini memiliki banyak pelanggan dari berbagai usia. Tempatnya juga luas dengan daya tampung lebih dari 100 pengunjung sekaligus. Di Tulungagung, warung kopi ini cukup melegenda karena berdiri sejak tahun 1975.

Seiring tingginya matahari, jumlah pengunjung warung kopi ini makin bertambah. Tak hanya memenuhi bagian dalam, para pelanggan yang hampir seluruhnya pria remaja memenuhi selasar di belakang warung. Mereka bebas memilih tempat nongkrong, baik di atas bangku kayu atau lesehan di lantai.

Keriuhan tak terbendung di seluruh areal warung. Berbagai obrolan berkelindan di sela hilir mudik pengunjung yang menenteng cangkir kopi. Banyaknya pengunjung yang datang memaksa pengelola warung menerapkan sistem self service alias ambil kopi sendiri. Deretan cangkir tertata di atas meja saji dalam posisi siap seduh. Selain mempercepat pelayanan, sistem ini juga memudahkan pengunjung untuk memilih cangkir berisi kopi murni atau kopi susu.

Soal menarik pelanggan, warung Mak Waris memang juara. Tak ada colokan listrik yang berseliweran di sana, dengan jaringan internet (wifi) seadanya. Kalaupun hendak mengisi daya ponsel, pengunjung harus mengantre beberapa colokan listrik yang tak banyak tersedia.

Meski tak dilengkapi sarana penunjang memadai, jumlah pelanggan warung Mak Waris tak surut sedikitpun. Mengingat internet kencang dan colokan telah menjadi kebutuhan pokok tempat nongkrong seperti ini.

Alih-alih kehilangan kesempatan berselancar di dunia maya, para pelanggan warung memiliki cara untuk membunuh kejenuhan, yakni dengan nyethe. Nyethe adalah aktivitas mengoles-oleskan ampas kopi (cethe) ke batang rokok. Cara ini diyakini bisa meningkatkan kenikmatan saat merokok, mengingat kopi dan rokok adalah pasangan yang tak terpisahkan. “Rasanya seperti merokok sambil ngopi sekaligus,” kata Rahmawan.

Seorang pengunjung warung memoles batang rokok dengan ampas kopi. Foto Jatimplus/Arief Priyono

Besarnya kebiasaan pengunjung warung untuk nyethe membuat pengelola warung menyediakan cethe khusus di cangkir. Hal ini memudahkan pengunjung mendapatkan cethe tanpa menunggu kopi mereka tandas.       

Entah siapa yang mempopulerkan, kebiasaan nyethe hanya bisa ditemui di warung kopi Tulungagung. Tak hanya warung kopi Mak Waris, seluruh warung kopi di kabupaten ini menyediakan cethe untuk pelanggan mereka. Nyethe telah menjadi gaya hidup masyarakat Tulungagung, selain nongkrong di warung kopi hingga berjam-jam.

Tak sekedar mengoleskan ampas kopi ke permukaan batang rokok, aktivitas ini lambat laun menjadi sebuah pekerjaan seni. Pengolesan cethe yang semula dengan jari tangan atau sendok, kini beralih menggunakan tusuk gigi. Dengan tusuk gigi, goresan cethe di batang rokok bisa dihias. Berbagai tema dan motif mereka sematkan di atas batang rokok. Mulai bunga, motif batik, hingga tulisan terpampang dengan rapih di batang rokok. “Kalau kualitas cethenya bagus, gambarnya juga akan terlihat bagus,” jelas Rahmawan yang juga menggemari aktivitas nyethe.

Kebiasaan nyethe inilah yang membedakan penampakan perilaku pengunjung warung kopi Tulungagung dengan daerah lain. Jika di tempat lain aktivitas ngopi didominasi dengan mengutak-atik gadget dan berburu wifi, pemandangan itu tak tampak di sini. “Karena begitu duduk langsung nyethe. Sedikit yang main ponsel,” kata Rahmawan.

Besarnya kebiasaan nyethe masyarakat Tulungagung ini bahkan telah menarik beberapa pihak untuk menyelenggarakan kompetisi nyethe. Selain kampus Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, beberapa perusahaan rokok dan kopi telah menggelar kompetisi nyethe di Tulungagung.

Keberadaan lomba ini sedikit banyak telah menarik minat pengunjung warung untuk belajar menggurat ampas kopi. Sehingga aktivitas di warung mereka tak lagi bermain ponsel, tetapi mengutak-atik pola di atas batang rokok.

Gunadi, salah satu anak Mak Waris yang mengelola warung kopi mengaku tak tahu asal muasal nyethe. Sejak ibunya membuka warung puluhan tahun silam, para pengunjung sudah terbiasa mengoles-oleskan ampas kopi ke batang rokok. “Dulu orang pulang dari sawah mampir ke warung. Di sini mereka nyethe dan terus berlanjut hingga sekarang,” jelasnya.

Untuk membuat satu guratan indah pada sebatang rokok setidaknya butuh waktu paling singkat lima menit. Sementara kebiasaan pengunjung di warung ini adalah menggambar satu pack rokok mereka sekaligus. Dengan jumlah rokok 12 batang, waktu menggurat ampas kopi bisa mencapai 60 menit. Sebab rokok yang baru dipoles tak langsung bisa dinikmati. Melainkan diangin-anginkan terlebih dulu hingga ampas kopinya meresap ke dalam rajangan tembakau.

Kebiasaan ini lambat laun mengurangi aktivitas main gadget di warung Mak Waris. Jika tak nyethe, mereka juga terlibat obrolan dengan rekannya. “Melihat ponsel hanya sesekali, setelah itu ditaruh kembali,” kata Rahmawan.

Melukis ampas kopi di batang rokok. Foto Jatimplus/Arief Priyono

Percakapan antar pengunjung warung ini yang membuat warung Mak Waris riuh. Derai tawa terdengar di beberapa sudut sambil menghisap rokok yang tergores ampas kopi. Berbeda dengan suasana cafe di perkotaan yang cenderung senyap dengan mata tersandera di layar gadget.

Herlambang Novian Efendi, pemilik warung kopi di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kota, Tulungagung memberikan kesaksian sama. Rata-rata aktivitas pengunjung di warung kopi Tulungagung lebih hidup dibandingkan kota lain. Kebiasaan nyethe membuat mereka terlibat obrolan dengan pengunjung lain. “Warung tidak sepi karena selalu ada obrolan,” katanya.

Warung kopi, lanjut Novian, juga menjadi tempat bertukar informasi. Semua hal diobrolkan di warung kopi. Mulai soal politik, terorisme, kehidupan artis, hingga hal-hal remeh seperti informasi razia kendaraan dan teknik memelihara unggas mengalir di warung kopi. “Kalau mencari informasi apapun, di warung kopi ada,” seloroh Novian.

Semua percakapan di warung kopi dilakukan secara langsung, tidak menggunakan media sosial. Ini pula yang membuat aktivitas media sosial Tulungagung tak semasif daerah lain. Kebiasaan bertatap muka di warung mulai pagi hingga petang, sedikit banyak mengurangi intensitas bermain gadget, sehingga produksi hoax di media sosial tak begitu mencemaskan.

Banyaknya keberadaan warung kopi yang tersebar di Tulungagung membuat tempat ini favorit sebagai lokasi bertemu. Sebab di setiap sudut kota Tulungagung selalu ada warung kopi.

Sama seperti Mak Waris, warung kopi yang dikelola Novian tak pernah sepi pengunjung. Meski tak buka sepagi warung Mak Waris, warungnya bertahan hingga pukul 24.00 WIB. Novian sendiri terlibat aktif menemani pelanggannya hingga larut.

Kristiono Joni, salah satu tim relawan calon Bupati Tulungagung Syahri Mulyo dalam pilkada tahun 2018 lalu memberikan kesaksian soal ini. Berita penahanan Syahri Mulyo oleh komisi anti rasuah sesaat sebelum pencoblosan tak berdampak besar pada kemenangannya. “Perolehan suara kami hanya turun dua persen dari target semula, dan tetap memenangkan pikada,” katanya.

Salah satu yang berperan dalam hasil itu, menurut Joni, adalah keengganan masyarakat Tulungagung untuk mempercayai berita media sosial. Intensitas para relawan untuk bertatap muka dari warung ke warung jauh lebih kuat dibandingkan strategi propaganda media sosial. “Komunikasi kami jauh lebih efektif dilakukan dari warung ke warung,” katanya.

Sebagai pemain politik, Joni mempercayai bahwa komunikasi langsung jauh lebih efektif dibandingkan media sosial. Sebab propaganda hoax hanya tumbuh subur di ruang-ruang maya yang tak bisa dikonfrontir. Bahkan di tengah gempuran isu korupsi di media sosial, tim relawan Syahri Mulyo masih bisa meyakinkan pemilih dari warung ke warung.      

Aktivitas pengunjung di warung kopi Mak Waris Tulungagung. Foto Jatimplus/Arief Priyono

Membangun komunikasi dengan nyethe, menurut Joni, adalah pintu masuk membendung hoax. Di sini ruang pembicaraan masyarakat terbangun secara langsung tanpa memiliki waktu untuk mengikuti arus media sosial.

Joni memang tak berlebihan saat menyebut masyarakat Tulungagung punya cara sendiri untuk menangkal hoax. Dengan mengurangi bermain medsos dan membiasakan berkomunikasi secara langsung, propaganda hoax akan bisa tereliminir.

Namun sayangnya kesadaran untuk meninggalkan gadget saat nongkrong tak terjadi di luar Tulungagung. Hal ini dialami oleh Abraham Kurnia, pemilik kedai Kawan Lama di Jalan Veteran Kota Kediri. “Di awal merintis kedai saya langsung mengkampanyekan tidak bermain gadget,” katanya.

Meski tetap menyediakan wifi, Bram memberikan kompensasi khusus kepada pelanggan yang mampu bertahan selama satu jam tak bermain gadget. Kompensasi itu bisa berupa minuman atau makanan gratis.

Namun sayang upaya itu tak membuahkan hasil. Keinginan Bram untuk menciptakan ruang ngobrol dan diskusi melalui kedai bertepuk sebelah tangan. Hingga pada akhirnya dia harus menyerah dan menghentikan kampanyenya demi “kenyamanan” konsumen.

Dia mengakui jika keberadaan wifi bisa memperparah ruang media sosial dengan sampah digital. Lebih parah lagi jika diselipi hoax dan informasi menyesatkan. “Tapi kami tak punya solusi mengalihkan perhatian dari medsos, seperti kebiasaan nyethe di Tulungagung,” katanya.

Kekhawatiran Bram melalui kampanye mengurangi bermain gadget cukup beralasan. Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pernah merilis hasil survei tentang informasi palsu (hoax) yang disebarkan melalui media sosial.

Survei yang dilakukan pada Februari 2017 silam menyebutkan jika 92,40 persen dari 1.116 responden tanah air mendapatkan informasi hoax dari media sosial. Selain itu, 62,8 persen responden mengaku menerima hoax dari aplikasi pesan singkat seperti Line atau WhatsApp.

Saluran penyebaran hoax lainnya adalah situs web 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen. Sebanyak 96 persen responden juga berpendapat hoax dapat menghambat pembangunan.

Jika penyebaran hoax sudah sedemikian mengkhawatirkan, tak ada alasan untuk tidak merawat tradisi lokal seperti nyethe. Dan jika hoax adalah sebuah keniscayaan, sejatinya masyarakat sudah memiliki cara untuk menangkalnya.

Penulis : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.