READING

Melintasi Benua, Berkisah tentang Vespa

Melintasi Benua, Berkisah tentang Vespa

Apa uniknya vespa tank karya pemuda kreatif Kediri hingga menarik minat filmmaker Belanda untuk mendokumentasikannya? Ternyata kreativitas modifikasi vespa ekstrem itu hanya ada di Indonesia. Khusus vespa tank bermula (atau malah hanya ada) di Kediri.

KEDIRI – “Di negara lain tidak ada, scooter dibuat seperti itu. Bagi saya menarik. Saya sudah lama ingin memfilmkan. Sejak 3 tahun lalu,” kata Marc Ressang, fotografer dan filmmaker dari Belanda.

Marc bukan sekali ini datang ke Indonesia. Ia pernah mendokumentasikan Rambu Solok di Toraja, pinisi di Bulukumba, mendaki Rinjani, keliling Jawa dengan kereta ekonomi (ketika kereta ekonomi belum ber-AC), dan menyusuri Jakarta. Lebih jauh dari itu, keluarga Marc punya pertalian dengan Indonesia. Paman Marc tinggal di Sulawesi. Ayah Marc pun pernah tinggal di Bogor sejak kecil. Tahun 1965-an, ketika usia remaja dan kondisi politik Indonesia yang mengkhawatirkan, ayahnya kembali ke Belanda.

Marc tak pernah tinggal di Indonesia, namun punya ketertarikan dengan Indonesia. Ia pernah tinggal di Bali untuk belajar bahasa Indonesia meski sampai saya bertemu dengannya, 7 Mei 2019, hasil kursusnya tampaknya belum bisa membantu berkomunikasi. Oleh sebab itu, Marc membutuhkan saya sebagi fixer dan translator proyek pribadinya, membuat film dokumenter tentang vespa atau skuter ekstrim di Indonesia.

Pengambilan video menjelang vespa tank dijalankan. FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

“Proyek pribadi, pakai dana pribadi karena mengajukan dana belum berhasil,” katanya tertawa. Marc seorang pejalan. Itu kesan saya ketika menjemputnya di Stasiun Kediri, pagi itu. Berdiri di pinggir jalan tanpa canggung dan sempat minta tolong pada penjaga kafe stasiun untuk menelepon saya karena ia lupa mengisi pulsa. Sebuah koper besar dan tas punggung yang tak kalah besar dan berat menyertainya. Itu “rumah berjalan” miliknya yang membuat segala keperluan.  90% isinya peralatan kerja, sisanya beberapa potong baju dan sepasang sepatu kets cadangan.

Target kami sehari itu adalah RSJ (Rosok Scooter Jahanam) di Kandat, Kabupaten Kediri. Kami mengawali persiapan di kantor Jatimplus untuk meletakkan sebagian barang yang tak diperlukan. Berhubung puasa, banyak warung tutup. Marc pun bahagia ketika saya menyajikan mie instan yang ada di rak kantor.

“Saya tahu ini Indomie. Perut saya sudah terbiasa. Awalnya saya beberapa kali ke kamar mandi setelah makan ini. Makanan ajaib bagi Indonesia sepertinya. Semua makan Indomie. Kapan-kapan aku ingin membuat film tentang ini,” katanya sambil menikmati mie goreng dengan muka memerah. Rempah yang bagaimanapun negerinya pernah jadi pemburu rempah, tetap tak bersahabat dengan lidahnya. Satu hal lagi, meski mie instan itu tak selalu bermerek Indomie, ia tetap menyebut Indomie.

Aktivitas di bengkel Yogi Hermawan, RSJ, di Kandat, Kediri. FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo.

Kreativitas Tanpa Batas

Saya sudah membuat janji dengan Yogi Hermawan dari RSJ untuk pengambilan gambar pukul 09.00 WIB, waktu bengkel buka. Perjalanan dari kantor ke bengkel harusnya tak lebih dari 30 menit. Rupanya GPS dari HP Marc membawa kami ke sebuah tempat di tengah sawah, sebuah pembakaran batu bata, bukan bengkel RSJ seperti yang tertera. Cara tradisional pun dilakukan, bertanya pada tukang pencari rumput. Satu-satunya manusia yang saya temui di lokasi tersebut. Tiga menit kemudian, kami sampai di RSJ dan disambut ayah Yogi dengan ramah sekaligus heran, bagaimana bengkel anaknya bisa memikat “wong londo” yang datang lintas benua.   

Vespa tank karya RSJ. Konsep vespa tank terinspirasi dari dari bentuk kendaraan tank untuk berperang.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Marc merupakan warga asing kedua yang mendokumentasikan RSJ di bengkelnya. Sebelumnya, fotografer Reuters, Darren Whiteside pernah datang pada bulan Agustus 2018. Kala itu bersamaan dengan festival vespa di Kediri. Sedangkan karya Yogi sebetulnya sudah duluan mendunia. Tahun 2017, vespa tank-nya pernah dipamerkan di salah satu museum di Spanyol. Jatimplus pernah menayangkan tentang RSJ dengan judul Dari Bengkel Rosok hingga Museum Spanyol.

Marc tahu tentang komunitas vespa dari foto-foto yang dihasilkan fotografer Jakarta, Muhammad Fadli kira-kira 3 tahun silam. Karya Fadli soal scooter ekstrim ini dimual di National Geographic dengan judul See The Wild, Customized Creations of Indonesia’s ‘Rebel Rider’. Sejak itu Marc bertekad, suatu hari ia harus memfilmkannya.

“Saya ingin mendokumentasikan kenapa Yogi melakukannya. Bagaimana kehidupan mereka. Bagaimana proses pembuatannya,” kata Marc kembali mengecek daftar pertanyaan yang sudah ia susun jauh-jauh hari dan kami diskusikan. Sebagaimana di film-film sebelumnya yang ia buat, Marc tertarik mendokumentasikan kehidupan yang tak biasa. Meski latar belakang pendidikannya tentang bisnis di Erasmus University Rotterdam, ia suka isu sosial dan antropologi bila dilihat dari karya-karyanya. Sebab dari sana ia merasa menemukan banyak cara menjalani hidup. Misalnya kehidupan malam di Shanghai, slumberjack di Serawak, komunitas kung fu di Afganistan dan lain-lain. Karya-karya Marc bisa dilihat di laman Marc Ressang.

Meski ia kerap kerja soliter, Marc mempersiapkan peralatan dan sistem kerja yang detail. Itulah yang menjadikan barang bawaannya banyak yang dipak sedemikan rupa sehingga muat dalam tas punggung. Nyaris tak ada ruang yang tersisa di dalam tas punggung yang tampak ramping, padat, dan sangat berat membebani punggungnya.

“Sebetulnya tidak bagus juga. Punggung dan bahuku pernah cedera karena kecelakaan di Nepal,” katanya mengisahkan luka-lukanya. Juga tato di tubuhnya. Tiap gambar punya kisah. Cara Marc mencatat perjalanan selain dengan film dokumenter.

Dengan peralatan sebanyak itu, ia tetap memilih sepeda motor, bukan mobil. Menurutnya, “feel”-nya akan dapat jika ia bisa merasakan udara dalam perjalanannya. Pun secara teknis lebih mudah untuk mengambil gambar bergerak dengan sepeda motor. Ini yang kemudian akan saya ingat, bagaimana saya harus mengendarai sepeda motor dengan dia di belakang pegang kamera. Tubuh kami yang tidak imbang ini menjadikan saya harus bekerja keras mempertahankan motor tetap stabil dengan obyek vespa yang bergerak itu.

Bengkel RSJ. Di sini ratusan vespa rosok diubah menjadi vespa tank.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Adhi Kusumo

Di dalam bengkel, wawancara kami berlangsung hangat. RSJ sangat kooperatif mendukung keperluan gambar. Bahkan ada yang mengulang lebih dari sekali untuk pengambilan video ketika vespa tank dikendarai di jalanan desa. Yogi dan kawan-kawan optimis vespa tank selalu ada penggemarnya. Sebab sejauh ini selalu ada anggota baru yang masuk. Meski ke depan tentu cara komunitas berkumpul berbeda-beda.

“Tak hanya sekadar ingin tampil beda. Kami juga memperhitungkan keseimbangan ketika dikendarai. Ada kreativitas tanpa batas dengan vespa ini dibanding kendaraan masa kini. Sebab vespa dibuat dari besi, jadi bisa dipotong dan disambung-sambung lagi,” kata Yogi.

Scene demi scene diambil hingga menjelang gelap. Marc mengambil berbagai angle meliputi proses pembuatan, kisah tentang RSJ, hingga video udara (drone) lanskap Kediri.

“Sebetulnya polanya sama dengan kelompok scooter lain di Indonesia. Mereka kebanyakan belajar ototidak. Kebanyakan drop out dari sekolah dan banyak anggota bukan dari golongan ekonomi yang cukup. Dalam segala keterbatasan itu, mereka menciptakan karya yang sangat unik,” kata Marc.

RSJ merupakan salah satu sekuens video yang akan dirakit dengan video sebelumnya yang ia ambil dari komunitas vespa di Jakarta dan Bandung. Usai dari Kediri yang hanya sehari itu, malamnya Marc bergerak ke Jakarta dengan kereta. Esok ia sudah punya janji dengan komunitas vespa di Tangerang.

“Prosesnya juga sudah merupakan perjalanan tersendiri bagi saya. Saya tidak tahu kapan selesainya video ini. Yang jelas saya harus menghadapi perjalanan panjang nanti malam, belasan jam di kereta. Saya sudah pernah. Tinggal memikirkan bagaimana posisi duduk yang memungkinkan,” katanya sambil tergelak. Pukul 20.00 WIB dari stasiun Kediri, Marc pun melanjutkan perjalanannya menuju Tangerang. Saat berita ini tayang, Marc sudah berada di Shanghai. Kota yang beberapa tahun ia tinggali untuk pekerjaannya. Sampai bertemu lagi, Marc. Di sudut bumi entah mana.

Yogi Hermawan (paling kiri) dan Marc Ressang (nomor dua dari kiri) berpose bersama di bengkel RSJ 7/5/2019.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

print

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.