READING

Membangun Kembali Petani Vanili Banyuwangi

Membangun Kembali Petani Vanili Banyuwangi

BANYUWANGI – Era 80 sampai 90-an seluruh petani di Lingkungan Papring Kalipuro Banyuwangi menanam vanili. Harga tanaman berjuluk “si emas hijau” ini pernah tembus jutaan rupiah.

Sempat menjadi ikon komoditas pertanian yang melegenda, vanili mulai sulit ditemukan di Banyuwangi sejak 10 tahun terakhir. Para petani mulai meninggalkan komoditas ini lantaran harga jualnya yang terus tergerus.

Upaya melestarikan vanili sebagai tanaman rakyat kembali dilakukan warga Papring belakangan ini. Bedanya, jika dulu ditanam langsung di tanah, saat ini menggunakan media pot. Memanfaatkan ember plastik bekas cat ukuran 50 kg sebagai pot, wadah ini dilengkapi potongan sabut kelapa yang diikat kawat.

Seperti yang dilakukan Rasid, warga RT 02/01 Lingkungan Papring Kalipuro yang memanfaatkan halaman rumahnya sebagai tempat budidaya vanili. Ia menggunakan kaleng bekas cat sebagai media tanamnya. Menurut Rasid, hal itu dilakukan sebagai upaya pengembangan dari pola tanam konvensional menjadi inovasi, sebagai bentuk memanfaatkan lahan terbatas. “Dengan metode ini kita bisa mengetahui perkembangannya secara langsung serta memudahkan pemeliharaannya,” kata Rasid kepada Jatimplus.ID.

Saat ini Rasid telah membuat 50 ember plastik bekas yang diberi media cocopeat, kotoran sapi yang telah divermentasi, kawat, serta piva PVC dengan ketinggian 180 cm. Sehingga tampilan vanili menjadi lebih rapi.

Upaya melestarikan vanili juga dilakukan Mustofa, warga RT 04/01 Papring Kalipuro. Bedanya, media yang digunakan adalah tanah yang digemburkan, kemudian diberi piva PVC dan diberi kawat.

Menurut Mustofa, sistem metode tanam di atas tanah berbeda dengan konvensional yang langsung ditanam pada tanah. “Selain langsung cor juga menggunakan kaleng cat plastik ukuran 50 kg. Lingkarannya lebih kecil, 50 dengan jarak disesuaikan dengan lahan depan rumah. Nantinya akar juga berpegangan pada sabut kelapa,” kata Mustofa.

Metode tersebut bertujuan untuk mengurangi penyakit pembusukan pada batang dan tak merusak vanili. Untuk kebutuhan air, konsep ini lebih irit air. Dalam satu hari hanya membutuhkan 50-100 liter untuk 100 tanaman. Penyiramannya cukup tiga hari sekali.

Saat ini Mustofa sedang melakukan uji coba dengan memanfaatkan lahan 30 x 7 meter yang menampung 90 tanaman vanili. “Kebiasaan lama kita, vanili ditanam dan dibiarkan menjalar di pohon hidup. Itu justru membuat kualitas dan harganya bisa jatuh,” terang Mustofa.

Karena aroma wanginya akan diserap oleh pohon tersebut. Ia menyarankan agar membuat tiang permanan agar aromanya tidak berkurang dengan kualitas vanili lebih baik.

Penemuan itu bukan dilalui secara gratis oleh Mustofa. Ia mengaku telah menghabiskan Rp 15-18 juta untuk membiayai inovasi tersebut. Jika perawatannya benar, estimasi panen bisa mencapai 8-10 kwintal dalam 2 tahun. Dengan harga jual 250.000/kg, pendapatan yang bisa dikantongi sebesar Rp 25 juta dalam kondisi basah.

Untuk pemasaran, Mustofa dan Rasid tak terlalu risau. Prospek vanili cukup bagus dengan segmentasi industri. Bahkan para pengepul telah memburu vanili itu sejak dalam kondisi basah. “Tak sulit memasarkan. Harga jualnya juga tinggi,” pungkas Mustofa.

Reporter : Widhie Nurmahmudi
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.