READING

Membincang Papua dan Indonesia Timur di Lingkungan...

Membincang Papua dan Indonesia Timur di Lingkungan Kampus Malang

Stigma negatif tentang orang Papua itu sudah sepatutnya dikubur dalam dalam. Ditepis jauh jauh.

MALANG- Malam itu dingin udara Kota Malang terasa menggigit tulang. Diluar, orang orang pada melapisi diri dengan kain tebal. Jaket, sweater, jumper atau baju lengan panjang yang mampu menghangatkan.  

Begitu juga yang dirasakan para mahasiswa yang bereriungan di halaman Kafe Pustaka Univesitas Negeri Malang (UM). Mereka datang dari berbagai penjuru daerah.

Saat berjabat tangan, beberapa mahasiswa mengenalkan diri berasal dari Papua. Ada juga yang bercakap cakap dengan logat NTT, Sumatera, Malang sendiri dan sekitarnya.

Tidak hanya kelompok mahasiswa. Di forum kecil yang dihangati kopi dan cemilan itu sejumlah dosen pengajar lintas universitas, juga hadir. Kamis malam itu (22/8), mereka yang tergabung dalam komunitas Lapak Diskusi ini tengah membincang isu pembangunan di Indonesia Timur, khususnya Papua.  

“Perlakuan diskriminatif yang dialami oleh mahasiswa Papua beberapa hari lalu cukup menyentuh kalbu kita, ”cetus Andhika Yudha Pratama dosen Universitas Wisnuwardhana  Malang, membuka percakapan.

Dosen asal Madiun itu tengah menyikapi peristiwa insiden bentrokan antara massa Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dengan warga di kawasan Kayu Tangan, Kota Malang seminggu lalu (15/8).

Hanya selang sehari, gesekan itu merembet ke wilayah Jalan Kalasan, tempat mahasiswa asal Papua berasrama di Kota Surabaya. Adanya lontaran bernada rasis membuat polemik melebar kemana mana. Peristiwa rasisme di Surabaya memicu unjuk rasa besar besaran di Papua yang disertai aksi pembakaran.  

Menurut Andhika, adanya pendapat tentang orang Papua pemabuk, terbelakang, kasar, tidak beretika, secara fisik kurang cantik atau tampan, hingga kurang beradab, adalah stigma negatif. Sebuah cap diskriminatif yang harusnya tidak boleh ada.

Meski berangsur angsur menipis, pikiran sterotip itu diakui masih ada dan harusnya sudah disingkirkan jauh jauh. “Diskriminasi cukup kentara di masyarakat kita, contohlah kos-kosan. Tidak jarang warga Malang sendiri tidak mau rumahnya dihuni oleh mahasiswa dari Timur khususnya Papua, ”ungkap Andhika.

Stigma yang entah bersumber darimana itu berakibat renggangnya jarak sosial antara mahasiswa dari Indonesia Timur, yakni terutama Papua, dengan mahasiswa dari Barat, khususnya Jawa.  

Jarak sosial yang jauh turut mendorong terjadinya pembelengguan hak berekspresi orang Papua. Setiap menyuarakan pendapat di muka umum, selalu diangggap sebagai upaya melakukan pemberontakan. Sikap itu datang dari masyarakat diluar Papua maupun pemerintah daerah. Setiap berekspresi selalu dikaitkan dengan cita cita kemerdekaan.

“Berkata  merdeka! Itu kan sudah biasa untuk masyarakat kita. Apalagi bulan ini Agustus pastinya banyak orang teriak Merdeka! Tapi mengapa ketika mahasiswa Papua teriak Merdeka! Kesannya sudah beda,”katanya dengan nada heran.

Dalam forum kecil itu, beragam pikiran dan pendapat sontak bermunculan. Menanggapi itu, Petu, mahasiswa dari NTT mengatakan, Sumber Daya Manusia (SDM) orang timur dan barat diakuinya memang beda. Hal itu dipengaruhi perkembangan pendidikan yang beda.

Petu menyadari itu. Dia juga mencontohkan bagaimana orang orang dari Indonesia Timur yang suaranya keras seringkali disimpulkan berkarakter keras. Padahal semua itu alamiah yang sekaligus identitas  yang tidak mungkin diubah.

“Memang karakter kita dari timur ya begitu, tidak bisa dirubah-rubah. Sehingga kita seharusnya bisa saling bisa memahami,” ungkap mahasiswa Wisnu Wardhana ini.

Soal pembangunan di Indonesia Timur yang menjadi topik utama diskusi, Petu melihat masih banyak ketimpangan. Dan bagi orang Indonesia Timur, diakuinya meresahkan.

Dia mengira, keresahan yang sama juga dirasakan para mahasiswa Papua. “Karenanya kritik yang disampaikan mahasiswa Papua itu jangan dianggap sebagai pemberontakan. Tapi harus kita pahami sebagai pendapat dan usaha mereka mendorong pemerataan pembangunan di Indonesia Timur,” tegasnya.

Hal senada diutarakan Thomas, mahasiswa UM asal NTT. Tentang kebhinekaan dan keberagaman, menurut dia harus disikapi dengan cara pandang yang lebih toleran. Jangan mudah keragaman dibelah isu rasisme.

Dia mencontohkan bagaimana toleransi di tempat asalnya tumbuh dengan baik dan semestinya bisa  menjadi teladan. “Soal keyakinan, seperti masyarakat muslim di daerah kami bisa membaur dengan masyarakat NTT yang mayoritas kristiani, ”ujarnya.

Di setiap perayaan natal di daerahnya, kata Thomas, yang bersuka cita bukan hanya umat kristiani. Muslim pun juga terlibat dalam kemeriahan. Saat umat kristiani menggelar acara di gereja, para umat muslim NTT tidak jarang diundang untuk memainkan lagu lagu kasidah dan qiraat  dalam gereja.

“Begitu sebaliknya, ketika umat islam mengadakan lomba MTQ, kita yang kristiani juga ikut membantu. Toleransi tinggi di NTT, ”tuturnya mencontohkan.

Tidak terasa malam semakin larut. Namun justru diskusi semakin hangat. Udara malam yang sebelumnya begitu dingin menjadi tidak terasa.

Faishal Hilmi dosen Sejarah Universitas Bina Nusantara turut angkat bicara. Dia membuat tafsir ulang atas peristiwa masa silam melalui framing sejarah. Beberapa kejadian masa lampau yang sebelumnya dianggap sebagai pemberontakan, menurutnya tidak bisa murni disebut pemberontakan.

Misalnya peristiwa PRRI-Permesta di Sumatera Barat. Menurut Hilmi hanyalah wujud kritik atas pembangunan yang Jakarta sentris. “Kritik dianggap pemberontakan sudah ada sejak dulu. Ini juga yang harusnya diluruskan,”ungkap dosen asli Kota Malang ini.

Andri Gultom, dosen Universitas Brawijaya asal Medan menilai Indonesia Timur memiliki akses informasi yang cukup sulit dijangkau. Hal itu membuat masyarakat Indonesia Timur kurang bisa menampilkan kelebihan dan kekayaan daerahnya. “Sebenarnya banyak kelebihan, tapi jarang disorot media, ”ungkapnya.

Andri berharap kepada para mahasiswa Indonesia Timur yang belajar di Malang atau mana saja, untuk juga menimba ilmu publistik dan jurnalistik. Saat kembali ke kampung halaman, mereka yang sudah terbekali pengetahuan, bisa mengeksplor daerah melalui media yang dimiliki sendiri.  

“Saya membayangkan ada perusahaan media besar sekelas MNC disana. Agar potensi mereka bisa diketahui masyarakat luas dan stereotip negatif bisa segera dihilangkan, ”harapnya.

Komunitas Lapak Diskusi baru berusia setahun. Setiap  Kamis malam, komunitas ini memiliki tradisi menggelar diskusi di Kafe Pustaka. Mereka yang tergabung di dalamnya selalu mengangkat isu yang lagi berkembang di masyarakat.  

Sebelum ramai isu Papua dan pembangunan Indonesia Timur, komunitas ini juga pernah membincang tentang Budaya Panji dan film Lewa di Lembata. Forum yang ada ini diharapkan bisa menjadi ruang berfikir bersama antara masyarakat dan kalangan akademisi.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor :  Mas Garendi 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.