Memburu Madu Asli dari Gunung Wilis

Melihat lebah-lebah memproduksi madu, peternak memanennya lalu mengemas ke dalam botol merupakan atraksi wisata yang menarik. Selain wisata edukasi, dari sanalah keaslian madu mendapat garansinya.

Gunung Wilis berada di enam kabupaten di Jawa Timur menyimpan banyak rahasia, terlebih keragaman satwa yang kaya akan manfaat. Salah satunya lebah madu. Masyarakat sekitar memanfaatkan lebah madu sebagai sumber penghasilan. Warga masyarakat yang memanfaatkan potensi lebah madu ini antara lain warga Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Wilayah yang memiliki banyak potensi wisata ini kini juga dikenal sebagai penghasil madu.

“Kami coba manfaatkan potensi alam ini, sehingga madu yang melimpah di Gunung Wilis bisa menguntungkan masyarakat sekitar,” kata Sunarwan, salah satu pembudidaya lebah madu Wilis.

Masyarakat mengembangkan lebah madu di sekitar dataran tinggi Wilis dengan ketinggian 700 Mdpl. “Banyak bunga-bunga seperti bunga randu memang berada di sekitar sini sebagai makanan pokok lebah-lebah itu,” ujarnya. Selain banyak bunga, juga tempat yang kaya sumber air.

Kotak-kotak rumah lebah madu yang ditempatkan di tebing Gunung Wilis, Desa Joho, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Moh. Fikri Zulfikar

Pada ketinggian ini, masyarakat harus menyusuri bukit dan lebatnya hutan Gunung Wilis. Terlebih jalanan yang masih bebatuan dan berpasir membuat kesulitan tersendiri. Dengan perjuangan itulah, masyarakat baru bisa meletakkan kotak-kotak rumah lebah madu di sekitar lereng dan jurang.

Kepala Desa Joho, Deddy Saputra menerangkan bahwa peternakan lebah madu ini dikembangkan masyarakat sejak tahun 1999 lalu. Karena menguntungkan, kini sekitar 30 hingga 50 kepala keluarga di desanya mengandalkan lebah madu sebagai mata pencaharian. Tak heran jika di sekitar Dusun Igir-igir, Desa Joho, kotak-kotak sarang lebah madu menghiasi perbukitan di sana.

“Dalam sebulan kami bisa memanen madu hingga dua kali,” terang bapak dua anak ini. Ia pun menghidupi keluarganya dari lebah madu.

Karena banyak warganya yang menggantungkan hidup dari lebah madu, pelesatarian lingkungan sekitar Desa Joho pun menjadi hal yang utama. Program reboisasi digalakkan, khususnya penanaman pohon randu dan bunga matahari sebagai sumber nektar untuk lebah.

“Peternakan lebah madu ini ramah lingkungan, karena harus melestarikan lingkungan,” ujar pria asal Surabaya ini.

Jika musim bunga sedang melimpah, madu yang dihasilkan warga Desa Joho pun ikut melimpah. Namun saat ini peternak lebah madu mengalami sedikit kendala karena iklim yang tak menentu. Akibat terkena hujan, bunga-bunga penghasil nektar yang di bawa lebah pun berguguran.

“Saat ini produksi madu sedikit menurun, kadang malah ada warga setiap minggunya bisa memanen kalau cuaca sedang cerah,” terang Deddy.

Dalam hal jalur penjualan, relatif tak jadi soal. Banyaknya tempat wisata yang ada Desa Joho membantu penjualan madu. Para pembelinya datang sendiri ke para petani lebah. Selain untuk wisata,  keuntungan peternak bisa lebih sebab tanpa melalui distributor. Harga sekitar Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu per botol.

Melihat potensi lebah madu yang besar ini, Deddy juga memanfaatkan banyaknya wilayah penghasil madu di sekitar Gunung Wilis terutama di desanya ini sebagai tempat pusat wisata edukasi lebah madu. Wisata ini menawarkan pada masyarakat luas yang ingin melihat langsung cara pembudidayaan lebah. Mulai dari melihat produksi madu di bukit-bukit hingga melihat pengemasan di rumah-rumah warga.

“Kami bisa siapkan kendaraan bagi wisatawan yang ingin melihat langsung budidaya di atas bukit,” tambahnya.

Kotak-kotak rumah lebah madu yang dibudidayakan masyarakat sekitar lereng Gunung Wilis.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Moh. Fikri Zulfikar

Mengemas menjadi pusat wisata edukasi lebah madu ini diharapkan wisata di desanya semakin maju. Beberapa wanawisata dikembangkan di desa ini, mulai dari wisata Sumber Podang, tempat kemping di Hidden Paradise, hingga wisata air berupa tubing mengitari sungai. Sselain sebagai tempat wisata, madu Desa Joho pun juga bisa digunakan sebagai oleh-oleh khas wisatawan setelah mengunjungi tempat wisata tersebut.  

Dengan potensi wisata dan lebah madu ini wisata di sekitar Desa Joho pun semakin bekembang. Yunia Hardianti, wisatawan asal Malang mengaku tak lengkap ke Kediri jika tidak membawa oleh-oleh berupa madu murni khas Desa Joho ini. Terlebih mengetahui madu ini diambil langsung dari rumah lebah di sekitar Gunung Wilis menambah keyakinannya akan kualitas kemurnian madu yang dijual masyarakat sekitar. “Kemurnian madu inilah yang menjadi daya tariknya,” terang Yunia.

Penulis: Moh. Fikri Zulfikar
Editor: Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.