READING

Memburu Sate Satak di Kaki Gunung Kelud Kediri

Memburu Sate Satak di Kaki Gunung Kelud Kediri

KEDIRI- Pada saat saat tertentu, kawanan kera itu seringkali memperlihatkan diri. Tanpa takut bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya. Seolah mereka tengah unjuk diri, berusaha mencuri perhatian, “menyapa” manusia yang berlalu lalang di sekitarnya.

Ya, Alas Simpenan, begitu hutan itu dinamakan, tempat dimana kawanan primata itu berada. Menyempil di kaki Gunung Kelud, hutan lindung itu berada di wilayah Desa Satak, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.

Tidak jauh dari habitat kera itu, terdapat kuliner sate dan gule kambing yang cukup melegenda. Sate Satak namanya, yakni merujuk dari nama Desa Satak. Meski tidak ada jaringan selular, menyusuri jalan setapak yang keluar dari jalan desa, kunjungan depot sate milik Pak Eko itu tidak pernah sepi.

Baca Juga : https://jatimplus.id/asyiknya-menikmati-sensasi-petik-strawberry-di-telaga-sarangan-magetan/

Mereka datang dari mana mana. Tidak hanya dari sekitaran wilayah Kediri. Tapi juga banyak yang berasal dari luar kota. Jangan heran, setiba di lokasi akan mendapati kendaraan yang berjajar dan orang orang yang mengantri. Hal itu setidaknya yang dirasakan Rifqi Ikhwanuddin, warga Surabaya.

Jauh jauh datang dari ibukota Jawa Timur, Rifqi tidak mengira bakal bertemu antrian panjang para penggemar sate Satak. “Lokasinya memang cukup terpencil. Tapi yang datang tidak henti henti, “tuturnya. Apa lagi kalau bukan rasa yang membuat para penggemar sate berdatangan.

Sate Satak di Desa Satak, Kecamatan Puncu Kabupaten Kediri. FOTO: JATIMPLUS.ID/moh fikri zulfikar

Selain potongannya besar besar, daging kambing yang dibakar juga empuk. Setiap penikmat sate memang kurang menyukai daging yang alot, dan memberontak saat digigit. Begitu juga dengan gulenya, disuguhkan dengan porsi besar.

Baca Juga :https://jatimplus.id/nasi-goreng-tiwul-lereng-wilis-masakan-jawa-yang-menjerat-lidah/

Daripada bumbu kecap yang juga disediakan, Rifqi lebih menyukai bumbu kacang. Apalagi ditambahi kuah gule, menurutnya terasa lebih nendang. “Karena ukurannya besar, bagi yang lambungnya kecil sebaiknya cukup seporsi berdua, “saran Rifqi yang datang bersama keluarga.

Fardani, pengunjung asal Jombang memiliki kesenangan yang berbeda. Dia lebih menyukai bumbu kecap daripada bumbu kacang. Baginya, dengan kecap daging satenya terasa lebih otentik. “Bisa menikmati rasa dagingnya tanpa terganggu rasa kacang, “katanya.  

Fardani merupakan siswa Kampung Inggris Pare. Bersama koleganya, dirinya sesekali waktu menikmati pemandangan Gunung Kelud. Sesekali itu selalu disempatkanya mencicipi kelezatan Sate Satak. Selain pelayanannya yang ramah, harga Sate Satak juga relatif terjangkau.

Baca Juga : https://jatimplus.id/banyuwangi-punya-perkawinan-makanan-khas-jawa/

Seporsi dengan 10 tusuk sate hanya Rp 30 ribu. Sebuah harga yang lumrah. Begitu juga dengan seporsi besar gulenya, Rp 20 ribu. Bagi pengunjung yang ingin berhemat bisa memesan nasi campur, yaitu nasi gule ditambah lima tusuk sate. Cukup dengan merogoh kocek Rp 20 ribu.

“Cukup terjangkau, rasa dan harga seimbang jadi cukup puas makan disini,”tutur Fardani.

Reporter : Moh. Fikri Zulfikar
Editor : Mas Garendi    

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.