READING

Memperjuangkan Hak Belajar Disabilitas

Memperjuangkan Hak Belajar Disabilitas

“Perjuangan penyandang disabilitas untuk mendapat persamaan hak masih jauh dari harapan. Karenanya, kesadaran untuk ikut memikirkan mereka patut diapresiasi, meski sekecil biji sawi sekalipun”

Dua bocah berseragam sekolah duduk di musholla Terminal Tamanan Kediri. Keduanya larut dalam obrolan di tengah laju kendaraan umum yang melintas. Kedua pelajar itu harusnya berada di ruang kelas mengikuti pelajaran.

Keberadaan siswa berseragam itu memantik perhatian petugas Dinas Perhubungan Kota Kediri. Kebetulan kantor dinas tersebut berada satu kompleks dengan area Terminal Tamanan.

Dua bocah itu didekati. Alih-alih melakukan penertiban, petugas Dishub justru mengantarkan keduanya pulang. “Mereka ternyata pelajar sekolah luar biasa pengidap down syndrome,” kata Kepala Bidang Manajemen Angkutan Dishub Kota Kediri Bambang Tri Lasmono kepada Jatimplus, Sabtu 15 Desember 2018.

Tak sekedar menyerahkan kepada orang tuanya, petugas mengorek alasan keberadaan dua bocah itu di musholla terminal. Ternyata keduanya tak memiliki ongkos untuk melanjutkan perjalanan menuju SLB Putra Asih yang berjarak lima kilometer dari terminal. Orang tua mereka berpenghasilan pas-pasan.

Peristiwa itu terus mengusik Bambang dan rekan-rekannya. Ketidakmampuan pelajar penyandang disabilitas untuk menjangkau sekolah menjadi beban dan tanggung jawab Dinas Perhubungan setempat. Apalagi di sisi lain, para pelajar sekolah umum telah menikmati bus sekolah yang nyaman untuk mengantar mereka pulang pergi ke sekolah.

Keterbatasan anggaran tak membuat Dishub Kota Kediri mati akal. Mereka mengetuk pemilik angkutan kota di Kediri untuk bersimpati dengan tidak menarik penumpang mulai pagi hingga siang. Sebagai gantinya, aramada yang tiap hari berseliweran mencari penumpang diarahkan ke jalur khusus menuju sekolah luar biasa. Yang dibidik adalah angkutan kota yang memiliki trayek sepi. “Kami berikan pengganti pemasukan selama armada mereka melayani adik-adik disabilitas,” kata Bambang.

Kompensasi yang diberikan Dinas Perhubungan tak sedikit. Setiap bulan mereka harus memberikan gaji tetap kepada sopir angkot senilai Rp 1,6 juta. Masih ditambah subsidi pembelian BBM sebesar 15 liter per hari dan perawatan armada sebulan sekali.

Hingga pada bulan Juni 2018, Dinas Perhubungan Kota Kediri resmi meluncurkan enam unit angkutan khusus penyandang disabilitas. Empat armada beroperasi melayani 60 pelajar SLB Putra Asih, sedangkan dua armada melayani 20 siswa SLB Nurul Hikmah di Kecamatan Blabak.

Masing-masing armada bertanggungjawab atas 10-15 pelajar untuk menjemput dan mengantarkan mereka pulang setiap hari. Pengemudi angkutan dilarang meninggalkan area sekolah selama anak-anak ini belajar.

Berbeda dengan bus sekolah yang mengangkut pelajar umum, armada bagi penyandang disabilitas ini nyaris tak memiliki keistimewaan. Tak hanya panas karena tidak adanya fasilitas AC, kondisi armada yang notabene angkutan umum rakitan lawas cukup memprihatinkan. Bangkunya berjajar menyamping dengan tambahan kursi kecil untuk menampung mereka di belakang.

Butuh Adaptasi

Perubahan kebiasaan berangkat sekolah dari yang sebelumnya diantar orang tuanya untuk beralih ke armada ini tak langsung diterima anak-anak. Mereka sempat panik saat sudah berada di dalam angkutan. “Kebanyakan adik-adik ini penderita down syndrome dan autis,” kata Bambang.

Karena itu pola penjemputan pun diubah. Jika sebelumnya anak-anak ini berkumpul di titik yang ditentukan, kini diganti menjadi door to door. Pengemudi angkutan harus menjemput dan mengantar mereka pulang hingga di depan rumah.

Pelajar penyandang disabilitas menunggu kedatangan armada di depan rumah. Foto: Dokumentasi Dishub Kota Kediri

Tak berhenti di sini. Kendala lain muncul terkait perilaku anak-anak di dalam angkot. Kebiasaan mereka bercanda kadang ‘membahayakan’. Seperti hendak meloncat keluar atau menutup mata pengemudi saat kendaraan berjalan. Untuk membantu mengawasi mereka, orang tua atau keluarga diminta ikut menemani di dalam armada.

Tingkat kesulitan itulah yang membuat Dishub menyeleksi para sopir angkutan yang mendapat tugas khusus ini. Selain terampil, mereka juga harus sabar dan memahami kondisi para penyandang disabilitas.

Tak hanya satu sopir, setiap armada juga wajib membawa kernet merangkap sopir cadangan. Sebab pernah suatu saat terjadi persoalan ketika sopir angkutan itu sakit dan digantikan orang lain. Para siswa tak mau masuk ke dalam angkot karena tak mengenali wajah sopirnya. “Dengan keberadaan sopir cadangan yang setiap hari mereka lihat, tak ada masalah jika harus berganti posisi,” kata Bambang.

Rajin ke Sekolah

Meski baru berlangsung enam bulan, keberadaan armada angkutan khusus penyandang disabilitas ini telah mampu meningkatkan tingkat kehadiran mereka ke sekolah hingga 60 persen. Tak hanya soal keterbatasan orang tua untuk membayar ongkos becak, kesadaran tentang pentingnya pendidikan formal bagi penyandang disabilitas masih perlu ditingkatkan.

Sebelum armada gratis ini lahir, para orang tua penyandang disabilitas harus merogoh kocek Rp 40.000 – 80.000 per hari untuk ongkos becak. Sebab anak-anak ini akan panik jika dipaksa naik angkutan umum yang lebih murah. Jika tidak, mereka harus diantar dengan kendaraan pribadi seperti sepeda motor. “Padahal sebagian besar anak-anak ini adalah keluarga kurang mampu,” kata Ferry Djatmiko, Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri.

Orang tua penyandang disabilitas menyuapi anaknya di dalam angkutan. Foto: Dokumentasi Dishub Kota Kediri

Dengan armada gratis ini, mereka tak perlu lagi membayar ongkos becak yang mahal. Bagi siswa yang telah berani berangkat sendirian, orang tua akan cukup punya waktu untuk bekerja. Seperti Susi, ibu dari anak penyandang disabilitas di Kelurahan Sukorame, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Di sela menunggu anaknya sekolah di SLB Putra Asih, Susi masih bisa menjahit untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebelumnya aktivitas itu terpaksa ditinggalkan karena harus mengantar dan menjemput anaknya pulang. “Kadang saya masih menemani ikut armada,” katanya.

Bagi Susi, aktivitas menemani anaknya ke sekolah cukup menyenangkan. Tak jarang dia harus menyuapi di dalam angkot jika bangun kesiangan. Beruntung sang sopir sangat sabar menghadapi perilaku anak-anak ini.

Keberadaan armada khusus pelajar disabilitas ini bagi Susi sudah lebih dari cukup. Susi tak memerlukan perayaan Hari Disabilitas yang penuh seremonial. Melainkan hak memperoleh pendidikan yang sama bagi anaknya dan penyandang disabilitas lain di Kota Kediri. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.