READING

Menanam Keabadian Edelweiss di Wonokitri, Pasuruan

Menanam Keabadian Edelweiss di Wonokitri, Pasuruan

Seorang pendaki dengan ransel besar dipunggung, pulang mempersembahkan bunga edelweiss untuk sang kekasih. Sebuah romantisme sebelum tahun 1990-an yang memproduksi protes berkepanjangan. Kini, tagline-nya berubah: ajak kekasihmu ke tempat bunga abadi itu tumbuh subur seperti cintamu.

PASURUAN- Tahun 1990, memetik bunga edelweiss menjadi tindakan yang melanggar UU sebab edelweiss termasuk flora yang dilindungi mengacu pada UU No. 5 tahun 1990. Pemerintah perlu memasukkan flora tersebut menjadi flora dilindungi UU sebab populasinya menurun sedangkan pengambilannya marak dilakukan seiring meningkatnya jumlah pendaki ke lokasi edelweiss tumbuh.

Edelweiss di Indonesia tumbuh di atas 1.500mpdl dengan kondisi tanah, suhu, dan air tertentu. Tumbuhan di dataran tinggi umumnya tumbuh sangat lambat, baik secara vegetatif dan generatif. Ketika tak terusik, edelweiss bisa berbiak sesuai dengan proporsinya. Namun, ketika pendaki semakin banyak, semakin banyak pula yang ingin memetik dan ada kebanggaan ketika melakukannya. Edelweiss pun tak mampu lagi memenuhi keinginan itu. Pun para pedagang menjajakan “keabadian instan”. Bagi yang tak mampu mencapai tempat edelweiss tumbuh, tersedia paket instan dari pedagang bunga. Cukup Rp 15.000,- sampai Rp 25.000,- per ikat sudah bisa membawa pulang. Populasinya pun merosot tajam.

Edelweiss (yang berwarna putih) dijual bersama bunga-bunga lain dijual di lautan pasir Bromo. Jumlahnya mulai sedikit dan digantikan dengan Verbena brasiliensis (warna ungu) dan bunga rumput yang populasi lebih banyak dan mudah tumbuh.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Sebuah berita menghebohkan pada tahun 2000-an. Saat itu belum semudah sekarang untuk jadi viral. Namun tetap tercatat sebagai sejarah penggunaan bunga edelweiss yang bersejarah. Ketika sebuah perusahaan farmasi cukup besar di Indonesia membuat blaster salah satu obat dengan ribuan kuntum edelweiss yang diambil dari komplek Pegunungan Lawu. Blaster tersebut dipamerkan di Lapangan Sumantri Brojonegoro, Jakarta dan meraih MURI. Gelombang protes dari mahasiswa pecinta alam se-Solo Raya mendapat perhatian nasional.

Meski ada klarifikasi dari perusahaan dan perangkai bunganya bahwa yang dipakai bukan edelweiss melainkan babandotan (Ageratum conyzoides). Namun, toh rekor MURI tersebut tak pernah dicabut sebagai blaster terbesar berbahan bunga edelweiss. Klarifikasi itu meragukan. Sebab dari tekstur, bunga babandotan tentu akan segera rontok setelah dipetik. Transportasi dari Jawa Tengah ke Jakarta tak memungkinkan babandotan utuh untuk dibuat rangkaian bunga. Oleh sebab itu, catatan tentang edelweiss tetap seksi hingga kini.

Edelweiss Sebagai Unsur Sesaji Suku Tengger

Di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuran, Jatimplus.ID menemui Sungkono, petani yang ikut uji coba membudidayakan edelweiss di desanya. Desa yang kerap berselimut kabut di ketinggian 1.700mpdl itu merupakan tempat yang cocok untuk bertanam edelweiss.

“Masyarakat di sini sudah lama menggunakan edelweiss untuk sesaji,” kata Sungkono. Suku Tengger yang tinggal di desa ini masih melestarikan tradisinya. Kalau belum ada edelweiss, sesaji itu dirasa belum lengkap. Masyarakat mencari edelweiss di hutan sekitar Bromo dan Semeru. Ketika kemudian menjadi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak 1982, masyarakat pun harus minta izin pihak TNBTS untuk mengambil bunga ini. Apalagi setelah tahun 1990 ditetapkan sebagai flora dilindungi, masyarakat semakin sulit mendapatkan edelweiss untuk sesaji.

Di taman-taman RT dan teras warga Desa Wonokitri kini banyak edelweiss.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Tahun 2017 akhir, TNBTS dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mendukung inisiatif kelompok masyarakat dan komunitas untuk mencoba membudidayakan bunga edelweiss di Wonokitri. Memang belum luas lahan percobaan ini, namun sudah cukup memberi ilustrasi warga bahwa edelweiss bisa ditanam sehingga tak perlu mengambil dari alam.

Efeknya, lahan percontohan ini bisa dilihat di pekarangan warga Wonokitri. Hampir semua pekarangan, teras, dan sudut-sudut area publik ditanami edelweiss. Baik ditanam di tanah maupun di pot. Ada yang ditanam di taman-taman RT dan teras rumah warga.

Sungkono menambahkan, masyarakat mendapatkan izin untuk penangkaran edelweiss ini sehingga hasilnya nanti bisa dipetik untuk sesaji, hiasan, dan tak menutup kemungkinan bisa dikomersialkan (dijual) sebagai bunga potong. Sejauh ini, tempat budidaya edelweiss sudah menarik wisatawan untuk berkunjung.

“Edelweiss itu berbunganya musiman. Dua kali setahun. Musim bunga yang banyak di bulan Agustus dan September,” terang Sungkono yang juga mengetuai kelompok tani untuk penghijauan DAS Rejoso bersama Komunitas Rejoso Kita.

Ia bersama petani yang lain menanam edelweiss dari biji dengan cara menyemai benih. Setelah dua bulan, benih baru tumbuh menjadi bibit untuk kemudian di-transplanting (dipindahkan) ke lahan. Kira-kira 8 bulan kemudian, edelweiss yang ditanam mulai menampakkan bunganya.

Edelweiss daun panjang (Anaphalis longifolia) di Wonokitri. Daun panjang dan lebih lebar dibanding dengan edelweiss jawa.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Mengapa Bunga Edelweiss Awet?

Persepsi atas Edelweiss barangkali lebih indah bayangan ketimbang kenyataan. Bila dibandingkan bunga-bunga lain macam mawar atau melati, bunga edelweiss tidak showy. Hanya, kisahnya memang menjadikan bunga ini melegenda bahkan dijuluki bunga abadi karena keawetannya.

Perlu diketahui, edelweiss yang tumbuh di Indonesia berbeda dengan edelweiss dalam lagu Rodgers dan Hammerstein dengan judul Edelweisss (1959). Lagu ini menjadi sound track film musikal The Sound of Music (1965). Syairnya mengatakan bunga putih dan mulia yang tumbuh di Alpen, jenisnya adalah edelweiss alpen (Leontopodium alpinum).

Edelweiss jawa (Anaphalis javanica) di lembah Alun-Alun Suryakencana (2750mpdl), Gunung Gede, Jawa Barat.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Edelweiss di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Georg Carl Reinwardt pada tahun 1819 di Gunung Gede. Gunung ini memang menjadi catatan awal para naturalis mencatat flora Hindia Belanda. Saat itu, Reinwardt menemukan edelweiss jawa (Anaphalis javanica). Edelweiss jawa tumbuh di ketinggian di atas 2000mpdl. Selain di Gunung Gede, juga ditemukan di Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Slamet dengan varian warna. Kelopaknya selalu putih bersih dengan variasi warna kuning, kemerahan, dan ungu.

Edelweiss jawa beraroma harum, tak hanya bunga tapi juga daunnya. Bunga majemuk (dalam satu tangkai lebih dari satu kuntum bunga) berwarna putih bersih, terkadang ada warna kuning di bagian kelopaknya. Daun lebih gilig dan pendek dengan selaput bulu halus berwarna putih. Sejauh ini, jenis edelweiss jawa ini belum bisa dibudidayakan. Jadi, jika menemukan dijual sebagai bunga potong, hampir bisa dipastikan mengambil dari alam.

Sedangkan edelweiss yang ada di Wonokitri jenisnya edelweiss daun panjang (Anaphalis longifolia). Bunganya tak seputih edelweiss jawa. Daunnya panjang, lebih lebar, dan tipis. Warna hijau daun lebih dominan. Jenis ini relatif lebih mudah tumbuh, lebih cepat, dan tak menuntut ketinggian setinggai edelweiss jawa. Di beberapa pegunungan rendah, edelweiss daun panjang ini sudah bisa ditemukan. Misalnya di Gunung Semeru menjelang pos 3 sudah bisa ditemukan. Pun di Gunung Kelud, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Banyak literatur menuliskan dengan hiperbolik, bahwa meski sudah dipetik, bunga ini masih bisa tumbuh dan mekar. Sebetulnya tak demikian. Bunga edelweiss awet karena kering. Ketika dipetik masih kuncup, bunga ini pun “terpaksa” mekar karena kering.

Sebagaimana tumbuhan yang hidup di tempat tinggi, kebanyakan memang hidup dengan hemat air. Kandungan air di alam sel-selnya pun rendah. Pada daerah ketinggian seperti di TNBTS umumnya kandungan air tanah yang bisa diserap akar rendah sehingga tumbuhan harus menyesuaikan diri untuk tahan kering.

Nah, jika mengetahui kisah edelweiss ini, agaknya tagline perlu ditambahkan lagi. Bukan hanya datang membawa kekasih ke tempat edelweiss tumbuh, tapi juga tak ada salahnya jika sesekali ikut membantu masyarakat Tengger menanam bunga-bunga ini tumbuh. Seperti menanam harapan untuk kehidupan yang akan datang. Seperti merawat cinta itu…

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.