READING

Mencakar, Membanting dan Menjotos Nasi Bungkus

Mencakar, Membanting dan Menjotos Nasi Bungkus

DI Yogyakarta ada istilah sego kucing. Tentu yang dimaksud bukan nasi (sego) bersanding dengan kucing. Atau nasi seukuran anak kucing. Karena sudah mainstream dan banyak yang tahu, hanya akan menyia nyiakan waktu bila terus memperdebatkannya.

Sego kucing adalah nama nasi bungkus dengan ukuran nasi sekepalan orang dewasa. Kenapa kucing?. Ada yang curiga terkait ukuran. Ada yang berasumsi merujuk lauk yang digunakan, yakni beberapa potong ikan teri serta sambal tomat dengan takaran sakdulitan atau secolekan jari.

Lalu pertanyaanya, kucing jenis apa yang doyan ikan teri (tanpa sambal)?. Jawabannya tentu bukan Anggora, Persia, apalagi Spinx. Dan yang pasti tidak ada acara cakar mencakar selama menikmatinya.

Di Tulungagung ada kuliner bernama sego bantingan. Juga sejenis sego kucing yang dibelit karet gelang atau direkatkan staples. Serupa tapi tak sama.

Kalau sego kucing memakai kertas retur koran sebagai alas nasi, sego bantingan menggunakan kertas minyak (walaupun ada juga pakai kertas koran).

Lauk sego bantingan juga lebih varian. Ada ayam, daging secuil, suiran dadar telur dan tempe. Oh ya, sambal tak pernah tertinggal. Apapun lauknya, sambalnya selalu sama.

Kenapa bernama bantingan?. Ketika ditanya, sejumlah penjaja yang jumlahnya berjubal banyak itu hanya tertawa. Penjaja sego bantingan yang lain menjawab mungkin karena mudah dilempar (dibanting). “Paling gampang dibanting ya, “katanya.

Menjawabnyapun disertai derai tawa. Artinya tidak serius. Hanya berkelakar. Kendati demikian jawaban asal itu cukup bisa diterima akal. Probabilitas kebenarannya lumayan. Meskipun faktanya tidak sulit juga membanting sego kucing.

Di Madiun loyalis kuliner “fast food” itu (baca: nasi bungkus) bisa menjumpai sego jotos. Jotos itu bogem mentah. Namun jangan khawatir. Tak usah berfikir kekerasan atau fasisme. Apalagi sampai membayangkan makan terus dipukuli sampai babak belur. Karena sego jotos tidak lebih dari nama sebuah menu makanan pokok.

Disitir dari travelingyuk.com, penyebutan nama jotos merujuk pada bentuk bungkus nasi yang menyerupai kepalan tangan. Berbeda dengan sego kucing dan sego bantingan, bungkus sego jotos memakai daun pisang. Lebih alamiah. Lebih tradisional. Namun dalam perkembangannya, banyak juga yang menggunakan kertas minyak.

Varian lauk sego jotos kurang lebih sama, yakni terutama dengan nasi bantingan. Telur, tempe dan tahu. Kombinasinya sambal pedas dan mie. Agar gurihnya lebih kena, bisa ditambahkan keripik tempe, telur puyuh atau suiran ayam pedas.

Beberapa orang mengguyur nasi jotos dengan kuah ayur lodeh lompong (talas). Santan yang membaur dengan kondimen lodeh membuat sedap sego jotos  makin menggila. Tidak cukup sebungkus. Rasa kenyang baru tergapai setelah dua tiga bungkus terlampaui.

Sego jotos memang  belum sefamiliar sego kucing yang sudah berekspansi kemana mana. Menjelajah antar kota dalam provinsi (AKDP) maupun antar kota antar provinsi (AKAP). Sego jotos masih eksis sebagai penguasa lokal pernasibungkusan di wilayah eks karsidenan Madiun.

Mungkin nasi bungkus model baru mulai bermunculan sebagai kompetitor. Namun percayalah,  bagi yang plesir ke Madiun, termasuk penyuka kuliner malam sambil kongkow, kurang afdol kalau belum mencicipi sego jotos. Apalagi hujan mulai mengguyur rutin setiap malam.

Waralaba Vs Warung Rakyat

Fenomena sego kucing, sego bantingan maupun sego jotos di warung angkringan adalah fenomena pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Secara ekonomi sosial, awalnya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan  kelompok berkantong cekak yang gemar ngelayab malam.

Di Yogya, kalangan pelajar dan mahasiswa luar kota dengan uang saku ngepres termasuk didalamnya. Uang saku yang tak cukup untuk bertransaksi gudeg, tongseng, tengkleng, brongkos, mangut atau sate klatak. Terutama situasi keuangan menjelang akhir bulan.

Kalaupun mampu (beli gudeg, brongkos, mangut atau sate klathak), sensasi gembira itu hanya bertahan sehari. Hari hari berikutnya lebih banyak dirundung penyesalan, hingga bulan baru datang.

Begitupun dengan sego bantingan dan sego jotos.  Eksistensi penjaja nasi bantingan dan jotos juga untuk menyiapi kebutuhan primer orang orang berdompet tipis. Orang orang yang bekerja sampai larut dan sebelum pulang membebaskan diri dari lilitan rasa lapar. Karenanya, dibandrol ekonomis.

Namun, dalam perjalanannya peminat nasi bungkus itu tidak hanya melulu kaum berkantong cekak. Kelompok klas sosial menengah (juga beberapa atas) mulai berbondong bondong menyatroni warung angkringan, warung rakyat. Turun dari Pajero atau New Fortuner hanya untuk melucuti karet gelang nasi bungkus.

Lalu duduk berlama lama sambil menikmati teh anget dari bibir gelas yang cuil akibat benturan dalam ember cucian. Apa yang dicari?. Alasannya beragam. Namun yang terbanyak adalah klangenan (bernostagia).

Mungkin mengenang di saat isi dompetnya masih cupet. Perutnya masih belum maju, aroma tubuhnya belum wangi, dan bajunya belum bermerek. Pendek kata, masih belum sentosa seperti sekarang.

Munculnya klas konsumen baru di warung rakyat ditangkap beberapa pemodal sebagai peluang bisnis yang prospektif. Mereka pun lalu bergegas mendirikan waralaba angkringan sego bungkus.

Sego kucing, sego bantingan atau sego jotos tidak lagi berserak diatas gothakan rombong jualan. Nasi bungkus itu dibawa ke gedung yang lebih jembar, bersih, terang benderang dan tentu saja lebih  nyaman. Konsepnya menjual rasa, suasana dan nostalgia.

Menikmati nasi bungkus diatas bangku kayu, atau berselonjor di tikar usang, sebagaimana ciri sub “budaya” angkringan warung rakyat, akan tinggal cerita. Tidak hanya makanan. Menu minuman juga disempurnakan. Tidak hanya kopi, teh, susu dan wedang jahe. Beragam jus buah dan soft drink  juga tersedia.

Waralaba angkringan ini muncul dimana mana dengan nama seragam. Kehadiranya bersifat ekspansif. Sederhananya, modal besar telah memperhadapkan diri dengan modal urunan. Waralaba kuliner versus warung rakyat.

Berapa lama angkringan angkringan warung rakyat sanggup bertahan?. Berapa lama perlawanan ekonomi kerakyatan seperti halnya pedagang ayam goreng pinggir jalan melawan raksasa KFC atau Mc Donald, warung warung kopi rakyat bersaing dengan kafe model Starbuck yang secangkir harga ratusan ribu, mampu bertahan?.

Dikutip dari catatan “Radikal itu Menjual, Budaya Perlawanan atau Budaya Pemasaran?”, disebutkan bahwa perdagangan memang telah bergerak terlalu cepat bagi siapapun untuk bisa mempunyai akar di suatu tempat.

Yang terpenting dimana uang semua orang berwarna sama. Lalu pertanyannya, apakah kapitalisme memang selalu kecenderungan datang dengan sifat homogenitasnya?. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.