READING

Mencari Pesugihan di Makam Maling Gentiri (2)

Mencari Pesugihan di Makam Maling Gentiri (2)

Kisah mistis di makam Boncolono di Kediri sangat dipercaya masyarakat sekitar. Makam itu diyakini bisa mendatangkan pesugihan bagi yang mempercayainya.

Mbah Darno, juru kunci makam di kawasan Goa Selomangleng Kediri bersaksi bahwa makam Boncolono yang dia rawat sangat mistis. Ini diperkuat lokasi makam yang berada di puncak bukit dan tak mudah dijangkau orang. Namun di hari-hari tertentu seperti Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, dan Jumat Legi selalu ada peziarah. Jumlahnya tak banyak, dan bukan warga setempat. “Orang sini malah tidak ada yang naik,” kata Mbah Darno.

Para peziarah yang datang ke tempat itu, menurut dia, selalu memiliki hajat atau keinginan. Mulai pejabat yang minta kenaikan pangkat, pedagang yang ingin laris, orang yang punya banyak hutang, sembuh dari sakit, hingga perjodohan.

Mbah Darno mengklaim orang-orang tersebut selalu berhasil saat berdoa di makam Boncolono. Dia bahkan menyaksikan sendiri ketika satu bulan lalu datang tiga remaja berboncengan satu motor ke tempat itu. “Mereka sempat menemui saya ingin kehidupannya lebih baik,” katanya.

Dua kali rombongan remaja itu mendatangi makam Boncolono. Salah satunya dilakukan pada malam hari. Dan pada kunjungan ketiga, perubahan tampak pada mereka. Tiga remaja yang sebelumnya datang dengan berboncengan motor kini sudah mengendarai mobil. Kepada Mbah Darno, mereka mengaku sudah memiliki truk sebagai bisnis angkutan. Mereka datang ke tempat itu untuk menggelar syukuran dengan membawa satu ekor ayam utuh yang dimasak (ingkung).

Demikian pula peziarah dari berbagai daerah seperti Tulungagung, Surabaya, dan Yogyakarta yang baru saja ke tempat itu. Rombongan dari Yogyakarta bahkan terdiri dari 10 orang dengan mengajak Mbah Darno berdoa di lokasi makam.

Anehnya, lelaku tersebut tak berlaku bagi masyarakat sekitar makam. Bahkan Mbah Darno yang selama 24 jam menjaga makam tersebut tak pernah dikabulkan saat mengajukan permintaan kepada Boncolono. “Nggak tahu kenapa, saya yang minta sejak dulu tak pernah dikabulkan. Kehidupan saya sejak dulu ya begini-begini saja,” keluhnya. 

Darno juru kunci yang merawat makam terduga Maling Gentiri di Bukit Maskumambang Kediri. Foto: Jatimplus/Adhi Kusumo

Selain peziarah, orang-orang yang mengaku masih memiliki kekerabatan dengan Mbah Boncolono juga kerap datang. Diantaranya adalah keluarga Japto Soelistyo Soerjosoemarno, tokoh organisasi Pemuda Pancasila. Menurut Mbah Darno, keluarga Japto kerap datang saat lebaran.

baca juga: Misteri Maling Gentiri di Bukit Maskumambang

Mereka juga yang membenahi makam Mbah Boncolono dengan membangun titian tangga menuju puncak bukit Maskumambang. Sebelumnya para peziarah harus mendaki jalan setapak menuju puncak untuk mencapai lokasi makam.

baca juga: Sejarawan Anggap Maling Gentiri Hanya Kisah Fiksi

Menilik dari prasasti pemugaran yang terpajang di pintu masuk makam, tertulis renovasi tersebut dilakukan pada tahun 2004, dan diserahkan kepada Pemerintah Kota Kediri pada hari Jumat, 10 September 2004. Kompleks makam itu dinamai sebagai Astana Boncolono yang terdiri dari makam Boncolono, Poncolono, dan Tumenggung Mojoroto.

Selain yang berkepentingan, tak ada orang yang datang ke lokasi makam. Bagi masyarakat setempat, kawasan Bukit Maskumambang yang bersebelahan dengan Gunung Klotok dikenal wingit. Tak ada yang mau melintas selepas Maghrib ke tempat itu. Selain aksi kejahatan, kawasan itu juga dikenal angker. Tak jauh dari lokasi makam terdapat area pemakaman korban pembantaian PKI.

Namun semenjak diaktifkannya kembali Brigade Infanteri Mekanis 16/Wira Yudha yang bermarkas di area itu, lokasi tersebut tak lagi rawan. Pelaku kejahatan yang kerap menyatroni tempat itu kocar kacir setelah beberapa kali diusir tentara.

Dan perlahan-lahan markas tersebut mulai menata wilayah kaki Gunung Klotok menjadi jalur olah raga dan wisata. Berbagai fasilitas dibangun seperti arena motor trail, kolam renang, taman rusa, hingga arena permainan anak. “Sejak ada markas tentara saya tak pernah pulang. Tiap hari tidur di warung di bawah makam bukit Maskumambang,” kata Mbah Darno.

Print Friendly, PDF & Email

Hari Tri Wasono

Freelance journalist | Press freedom is ur freedom

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.