Mendadak Guru Karena Virus Corona

Serangan Virus Covid-19 yang menerjang Indonesia telah menyebabkan perubahan di segala sektor kehidupan. Semua orang merasakan dampak langsung virus yang pertama kali muncul dari Kota Wuhan akhir tahun 2019 silam. Mulai dari kehidupan paling kecil lingkungan keluarga, pemerintah kabupaten, pemerintah propinsi hingga pemerintah pusat.

Di lingkungan keluarga, sejak seminggu terakhir menuntut semua orang tua harus menjadi menjadi guru sekaligus wali kelas. Setiap orangtua  dituntut  menguasai seluruh mata pelajaran yang seolah dipindah ke rumah. Pemerintah dalam kebijakan pencegahan penyebaran virus Covid-19 meliburkan seluruh pelaksanaan pendidikan mulai dari Perguruan Tinggi hingga pendidikan Sekolah Dasar. 

Pemberlakukan proses belajar mengajar dari rumah ke sekolah ini tak pelak merubah total jadwal para ibu rumah tangga. Mereka yang biasanya selepas pukul tujuh pagi bisa rebahan santai  di depan televisi sambil nonton sinetron maupun  main gadget sekarang harus memelototi anak anaknya.  Belum lagi  jika sang anak kesulitan menjawab soal yang diberikan sang guru orangtua harus memeras otak untuk mencarikan jawabannya.

Ditambah lagi kalau anak ngambek minta jajan atau minuman, sang emak juga yang harus bisa meladeni  anak yang biasanya jajan di sekolah. Tidak hanya sampai di situ,  naluri anak di rumah biasanya jadi lebih manja dan ogah ogahan saat diminta untuk mengerjakan soal yang sudah dikirimkan oleh sang guru ke handphone sang emak. Guru dadakan ini harus bisa mengeluarkan jurus-jurusnya agar anak bisa mau kembali belajar dan menyelesaikan tugasnya.

Tidak heran jika seminggu pemberlakukan belajar di rumah ini diterapkan banyak ibu rumah tangga yang pusing dan mengeluh. Apalagi jadwal berlibur maupun keluar rumah hanya sebatas untuk melepas nafsu  belanja juga dibatasi pemerintah guna mencegah penyebaran virus corona. Ujung-ujungnya mau tidak mau suka tidak suka sang emak harus bisa mengerem keinginannya sekaligus  menjadi maha guru yang harus menguasai seluruh materi pelajaran anak anaknya.

Yang menambah pusing wali murid lagi adalah tugas-tugas sekolah yang dibebankan kepada anak didik harus dilaporkan dalam bentuk foto dan video. Dengan dalih akan dilaporkan ke  masing-masing atasan sang guru, wali murid harus rela memenuhi tuntutan pembelajaran yang ekstra baru bagi ibu rumah tangga dan orangtua non guru. Belum adanya materi muatan lokal seperti kitab gandul yang membuat orangtua tambah pusingdibuatnya.

Dalam prakteknya, belajar di rumah di Jombang khususnya  seluruh anak  mendapatkan tugas pelajaran secara online dari guru. Siswa harus mengerjakan seluruh tugas dari masing-masing guru mata pelajaran, baik guru pelajaran pokok hingga materi muatan lokal. Setiap praktik pelajaran harus dilaporkan secara berkala ke guru masing-masing mata pelajaran sebagai laporan pengawasan guru kepada atasanya. Orang tua harus menyetorkan foto anaknya memegang buku dan setor hafalan materi menghafal yang ditugaskan dalam silabus selama masa belajar di rumah.

Pola yang diberikan ini sebenarnya layak seperti pekerjaan rumah yang harus dikerjakan anak didik setiap hari saat masuk sekolah. Hanya saja volume materinya lebih banyak dan cenderung padat sesuai jadwal pelajaran harian. Orangtua di posisikan sebagai guru yang harus mengawasi dan mengajari untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan sang guru. Meskipun tidak jarang banyak orangtua yang tidak memiliki kompetensi dalam memahami materi. Karena tuntutan pekerjaan rumah akhirnya berbagai cara dilakukan oleh  orang tua untuk mempelajarinya. Mulai dari browsing internet hingga menanyakan secara online kepada guru mata pelajaran yang memberikan tugas pada sang anak. Guru sekolah masih menjadi pemandu hanya saja dari kejauhan, sedang pelaksana di lapangan adalah orangtua.

Menurut Seto Mulyadi  secara etimologi home schooling adalah sekolah yang diadakan di rumah.  Sedang secara hakiki homeschooling adalah sebuah sekolah alternatif  yang menempatkan anak sebagai subyek dengan pendidikan secara at home. Harapannya anak bisa merasa nyaman belajar sesuai keinginan dan gaya belajar masing masing. Kapan saja dan di mana saja sebagaimana dia tengah berada di dalam rumah dengan jadwal jam pelajara fleksibel. 

Merujuk definisi tersebut seharusnya ada metode khusus yang diterapkan dalam praktik homeschooling yang sekarang sedang dijalankan sebagian daerah di Indonesia selama pandemi virus Corona. Sedang yang berjalan saat ini adalah metode pengajaran kelas yang di tarik ke rumah. Artinya materi dan jam waktu belajarnya tetap jam 07.00 sampai 13.00 sesuai jadwal pendidikan di dalam kelas.

Pertanyaannya mampukah orang tua menggantikan posisi guru kelas dan guru mata pelajaran yang selama ini menjadi petugas di sekolah? Tergantung kemampuan masing-masing orangtuanya. Bagi orangtua yang sudah setiap hari berprofesi sebagai guru tentu sangat mudah karena tinggal mempraktek dan menularkan ilmu ke siswa yang notabene adalah anaknya sendiri. Sedang bagi orangtua yang biasanya bergelut dengan urusan di luar dunia pendidikan tentu menjadi beban dan  kalang kabut menghadapi materi pelajaran yang  tidak ditemui di eranya sekolah silam.

Penulis berpandangan pendapat Sumardiono terkait homeschooling yang mana pendidikan dilakukan secara mandiri oleh keluarga lebih cocok dilakukan selama musim pandemik virus corona ini. Materi-materi yang dipilih harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Kekhasan dan kekuatan homeschooling paling besar adalah customized education yakni pendidikan yang sesuai dengan potensi anak dan lingkungan yang ada di sekitar. Dalam homeschooling ini keragaman anak dihargai dan seorang anak tidak dituntut untuk seragam dan serupa.

Dari jenisnya homeschooling terbagi dalam tiga kelompok yakni homeschooling tunggal, homeschooling majemuk dan komunitas homeschooling. Merujuk praktek yang saat ini dilakukan lebih pada jenis homeschooling tunggal. Jenis ini dilakukan karena adanya tujuan khusus atau alasan khusus yang dapat dikompromikan dengan homeschooling komunitas. Apalagi tujuan dari homeschooling yang rencananya akan diberlakukan sampai awal april ini dalam rangka penanggulangan penyebaran virus yang belum ada obatnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam akun instagramnya sempat mengkritik pola homeschooling yang masih memberikan beban pekerjaan anak didik terlalu banyak. Menurutnya seharusnya di tengah pandemi virus corona ini anak-anak yang sedang melaksanakan homeschooling tidak diberikan beban yang banyak. Mereka harus di dukung untuk tetap senang dengan tidak melupakan pelajaran. Membangun kondisi senang ini penting dilakukan untuk menjaga imunitas anak  dan keluarga yang sedang menghadapi masa pandemi virus. Jangan sampai karena stress memikir pelajaran anak-anak jadi tidak betah di rumah dan keluyuran ke warung wifi untuk melupakan tekanan tugas sekolahnya. Sehingga tujuan mencegah penyebaran virus corona tidak bisa di lakukan. Yang terpenting  esensi belajar tidak sampai di lupakan oleh anak dan orangtua yang  menjaga keluarganya dari ancaman serangan virus.  Semoga pagebluk ini segera berakhir dan Indonesia bisa menang melawan virus yang mulai mengganas di ibu kota dan sebagian daerah negeri Indonesia tercinta. (Lufi Syailendra

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.