READING

Mendorong Ekosistem Start Up di Surabaya Melalui C...

Mendorong Ekosistem Start Up di Surabaya Melalui Co-Working Space

SURABAYA – Bisnis rintisan berbasis teknologi atau start up berkembang cukup pesat di Kota Surabaya. Menurut Laporan Berkarya Institute, jumlah start up lokal di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur ini per Mei 2018 mencapai 15 persen dari total 2.274 start up di seluruh Indonesia, dan berada di urutan ketiga setelah Kota Jakarta dan Bandung.

Pesatnya perkembangan usaha rintisan di Kota Pahlawan karena didukung fasilitas maupun infrastuktur yang memadai, baik yang disediakan pemerintah maupun pihak swasta. Prasarana tersebut satu di antaranya berupa ruang kerja bersama atau yang populer dengan istilah co-working space.

Selain untuk ruang kerja, co-working space memungkinkan pemilik usaha rintisan maupun freelancer membangun networking. Karena co-working space memang dirancang agar individu atau kelompok bisa berinteraksi, berbagi pengetahuan, hingga berkolaborasi.

Konsep co-working space mulai dipopulerkan pada tahun 2002 oleh Stefan Leitner-Sidl dan Michael Pool yang mendirikan Schraubenfabrik di Wina, Austria. Namun, ide soal co-working dicetuskan Bernard “Brian” DeKoven dengan mendirikan C-Base Station sebagai pusat pembelajaran komputer di Jerman pada tahun 1995.

Di Indonesia, co-working space diperkenalkan pertama kali oleh freelancer asal Bandung, Yohan Totting dengan mendirikan Hackerspace Bandung. Dia terinpirasi dari Hackerspace Singapura ketika berkesempatan berkunjung ke Negeri Singa, Yohan mendirikan Hackerspace Bandung pada November  2010.

Desain interior modern memberi semangat dan suasana kerja yang menyenangkan bagi anak-anak muda.
FOTO: JATIMPLUS.ID/ Sahrul Mustofa

Satu Atap Co-Working Space

Di Kota Surabaya, salah satu co-working space yang turut berperan dalam pengembangan start up adalah Satu Atap Co. Work and Food Station. Ruang kerja bersama yang beralamat di Jalan Pacar A-2, Surabaya, Jawa Timur tersebut, bahkan sudah memiliki 12 ribu member sejak didirikan pada November 2017 lalu.

Ide mendirikan ruang kerja bersama dengan konsep food factory yang berlokasi di belakang Kantor Pemerintah Kota Surabaya itu, diinisiasi oleh empat sekawan yang merupakan lulusan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Keempatnya adalah Ahmed Tessario Ekanuramanta, Nuryadi, Radityo Suryo, dan Bagus Mertha.

Mereka yang juga pengurus Ikatan Alumni (IKA) ITS, semula hanya ingin memiliki tempat berkumpul bersama, yang sekaligus sebagai pusat pembelajaran. Makanya, mereka tidak sekadar membangun co-working space, tapi juga membuat event dan program yang mendorong peningkatan kualitas pengetahuan anggotanya.

“Kita pingin di Surabaya ada hub yang memang bisa jadi learning center. Jadi bukan hanya kafe, bukan hanya restoran, tapi kita punya tempat yang bisa berkreativitas,” jelas Ahmed Tessario Ekanuramanta selaku CEO Satu Atap Co. Work and Food Station kepada Jatimplus.id.

Sehingga ada beberapa program rutin yang dibuat oleh Satu Atap co-working space untuk menambah wawasan anggota maupun non anggota, antara lain program Satu Atap Belajar yang memungkinkan pesertanya belajar pengembangan bisnis. Kegiatan tersebut rutin digelar saban hari Senin dan Sabtu.

Setiap hari Selasa, juga ada event Selasa Movie, yang d dalamnya membahas tentang berbagai genre film. Sementara, dalam dua kali sebulan, tepatnya tiap hari Kamis digelar diskusi politik bertajuk Surabaya Speak Up yang menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya.

“Setiap hari Jumat kita punya program namanya Jumatan Indie. Komunitas-komunitas yang punya event, kita kasih mereka panggung. Mereka bisa train event atau kita bisa discuss mengenai komunitas mereka geraknya seperti apa,” beber Tessar.

“Terus hari Sabtu kita punya Satu Atap Karaokean, jadi yang pengen karaokean kita open juga. Artinya komunitas band-band indie juga di situ,” sambungnya.

Satu Atap memang memiliki banyak komunitas yang terdaftar sebagai anggota, seperti Surabaya Hero (komunitas diskusi Bahasa Inggris), komunitas stand up comedy, komunitas start up founder, dan 29 Community (komunitas Band Indie Surabaya).

Selain menggelar event secara mandiri, Satu Atap juga bekerjasama dengan beberapa brand dan organisasi. Bahkan selama 2018, ada 162 event digelar dan turut menyumbang bertambahnya keanggotaan.

Tetapi, sekalipun co-working space semakin menjamur di Kota Surabaya, menurut Tessar, bisnis co-working bukan bidang usaha yang menjanjikan keuntungan. Karena biaya operasional yang dikeluarkan besar sekali, mulai dari sewa tempat untuk gedung, gaji karyawan, pajak dan sebagainya.

Cuman, kalau misalkan niatnya pengin jadi ekosistem builder, pingin memperkuat ekosistem kreatif Surabaya, yuk buat co-working,” tegas pemenang ajang Wirausaha Muda Mandiri 2016 kategori Industri, Perdagangan dan Jasa tersebut.

Selain itu, karena Pemerintah Kota Surabaya juga memiliki koridor co-working space, tantangan yang dihadapi menjadi lebih besar. Karena co-working space non pemerintah kurang mendapat dukungan. Sehingga dia berharap bisa berkolaborasi dengan pemerintah dan co-working yang lain untuk membangun ekosistem digital di Surabaya.

Tantangan lainnya adalah mengubah paradigma warga Surabaya cenderung gengsi untuk bertanya. Termasuk menghapus gap wilayah, antarkomunitas dan juga pelaku digital yang bekerja secara independent.

“Bagaimana caranya bisa menyatukan mereka dengan program yang relate, sehingga saling support untuk Surabaya,” harapnya.

Co-working space bukan hanya tempat berkumpul tetapi juga bertemunya berbagai keahlian.
FOTO: JATIMPLUS.ID/ Sahrul Mustofa

Fasilitas Satu Atap

Jatimplus.id mendapat kesempatan berkunjung ke Satu Atap, Senin (24/06). Tiba, pukul 15.45 WIB, kami ditemui Putri Alifah, Marketing Manager. Memakai batik bermotif bunga dibalut jilbab berwarna merah, Putri melempar senyum menyambut kedatangan kami di kantornya.

Setelah berbincang sekitar sepuluh menit, Putri kemudian memberi kami kesempatan melihat beberapa fasilitas yang tersedia di Satu Atap Co-Working Space. Dia mengantar sendiri dan menunjukkan satu per satu ruangan yang bisa dipakai untuk bekerja dan networking.

Ada tiga fasilitas yang bisa disewa di Satu Atap. Pertama adalah personal seat, fasilitas ini memungkinkan setiap orang untuk menyewa satu kursi dengan skema penyewaan harian, mingguan hingga bulanan. Ada beberapa pilihan paket yang disiapkan mulai dari paket ekonomis dengan biaya sewa Rp. 15 ribu per jam.

Fasilitas kedua adalah meeting room, sarana tersebut bisa digunakan untuk menggelar rapat maupun lokakarya dengan jumlah peserta mulai dari 10 sampai maksimal 50 orang. Sedangkan fasilitas ketiga, adalah Virtual Office, pemilik start up bisa menyewa alamat usaha yang dilengkapi dengan telepon, faks serta surat domisili.

“Member kami dari kalangan mahasiswa, youtuber, designer, konsultan pendidikan juga,” jelas Putri sambil menunjukkan beberapa brosur.

Selain kemudahan di atas, para member mendapat layanan internet super cepat serta free beverage (kopi, teh, air mineral dan snack). Tentunya, ada beberapa food station di bagian luar yang menyediakan berbagai macam pilihan menu makanan bagi yang ingin mengisi perut sambil beristirahat.

Iwan Iwe, salah satu founder emosijiwaku.com, merasakan betul manfaat keberadaan Satu Atap co-working space. Sebab, selain bisa mendapatkan tempat yang nyaman untuk bekerja, dia juga mendapat pelatihan berbisnis yang baik. Sehingga usaha yang sedang dirintisnya bisa tumbuh dan berkembang.

“Mereka juga menghubungkan kami dengan investor agar bisa berinvestasi pada bidang usaha yang kami jalankan. Terus ada juga acara yang melibatkan komunitas, sehingga kita bisa belajar segala macam,” jelas Iwe.

Selain menggarap content untuk media komunitas suporter yang dirintisnya, Iwe juga memanfaatkan co-working space untuk bertemu dengan klien bisnis. Termasuk menggelar rapat redaksi di tempat tersebut dengan fasilitas meeting room (Sahrul Mustofa).

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.