READING

Meneladani Sosok Hoegeng, Jenderal Jujur Nan Bersa...

Meneladani Sosok Hoegeng, Jenderal Jujur Nan Bersahaja

Jenderal Hoegeng ramai diperbincangkan netizen. Namanya mencuat seiring dengan viralnya seorang pemuda yang ditangkap polisi di Kepulauan Sula usai mengunggah lelucon Gus Dur yang berbunyi “Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia : patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng”. Lantas seperti apa sosok Jenderal Hoegeng yang dimaksud?

Jenderal Hoegeng lahir pada 14 Oktober 1921 di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Dia adalah putra dari Soekarjo Kario Hatmodjo dan Oemi Kalsoem. Ayahnya seorang pegawai negeri Pemerintahan Hindia Belanda dan memulai karir sebagai jaksa Lendraad (Pengadilan Negeri) di Pekalongan. Sedangkan ibunya merupakan keturunan ningrat Mataram. Makanya keluarga Hoegeng dikenal sebagai keluarga ambteenar (ningrat).

Meski demikian sejak kecil Hoegeng dididik hidup sederhana. Dia tidak sombong dan bergaul dengan siapa saja. Bahkan ayahnya sendiri tidak memiliki tanah dan rumah hingga akhir hayatnya. Bukan tidak mampu, pekerjaan yang sering berpindah-pindah membuat sang ayah lebih memilih menyewa rumah dari pada membeli.

Jenderal Hoegeng sendiri memiliki empat nama. Nama resminya yakni Hoegeng Imam Santoso adalah nama pemberian ayahnya. Sedangkan eyang putrinya memberi nama Hoegeng Iman Soedjono. Nenek buyutnya pun ikut memberi nama Hoegeng Iman Waskito. Satu nama lagi yakni Abdul Latif adalah pemberian dari teman ayahnya yang juga seorang peramal Arab.

Dari buku otobiografinya Polisi : Idaman dan Kenyataan, disebutkan nama Hoegeng ini ada asal-muasalnya. Ketika kecil Hoegeng memiliki postur tubuh gemuk. Makanya dia kemudian dijuluki si “bugel” yang gembul seperti ubi. Panggilan sehari-harinya pun berubah menjadi “bugeng” hingga “hugeng” dengan ejaan lama (hoegeng).

“Rasanya (Hoegeng) sebuah nama yang meriah sekaligus lucu mengandung ironi. Sebab dalam kenyataannya saua tak pernah lagi gemuk dan barang kali tak ingin demikian,” tulisnya.

Karir Jenderal Hoegeng

Di awal karirnya di dunia kepolisian, angkatan pertama Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini sempat berpindah institusi. Ketika sedang berada di rumah orang tuanya di Pekalongan, dirinya bertemu dengan Kolonel Laut M. Nazir. Oleh pria yang kemudian menjadi Panglima atau Kepala Staf Angkatan Laut kedua ini, Hoegeng ditawari untuk bergabung di kesatuannya.

Menurut Hoegeng, kondisi saat itu masih sangat mudah untuk berpindah kesatuan. “[Memiliki senjata] ukuran pokok waktu itu jadi pejuang atau tidak, sedangkan urusan masuk kesatuan atau barisan mana adalah soal belakangan,” katanya.

Dia pun kemudian pergi ke Yogyakarta (yang saat itu menjadi kota pusat pemerintahan) untuk melapor meninggalkan kepolisian. Pada awal 1946 Hoegeng diangkat menjadi anggota Angkatan Laut tanpa surat pengangkatan karena administrasi pemerintahan masih belum dibenahi. Dia diberi pangkat mayor dan jabatan komandan. Oleh Nazir, Hoegeng diminta kembali ke Yogyakarta untuk membentuk Penyelidik Militer Laut Khusus (PLMC).

“Saya berhasil meletakkan dasar-dasar organisasi PLMC serta merekrut sejumlah tenaga yang sebagian besar berasal dari teman-teman saya di lingkungan kepolisian,” tambahnya.

Namun dalam perjalanan karirnya, Hoegeng bertemu Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Pria ini dikenal sebagai sosok polisi yang sangat sederhana. Bahkan meski menjabat sebagai Kapolri pertama dan paling lama, Soekanto tidak memiliki rumah. Dialah yang menjadi panutan Hoegeng.

Ketika Soekanto bertemu Hoegeng di Hotel Merdeka, Yogyakarta, dia pun menyadarkan Hoegeng betapa butuhnya institusi kepolisian terhadap sumber daya manusia yang terampil saat itu. Apalagi Hoegeng pernah diajar oleh Soekanto di Sekolah kader Tinggi di Sukabumi pada zaman Jepang.

Setelah berpikir dan merenung, Hoegeng pun akhirnya kembali ke Kepolisian untuk meneruskan cita-cita masa kecilnya. Seiring berjalannya waktu, karirnya pun terus naik hingga menjabat sebagai Kapolri. Karakternya sebagai polisi jujur pun dikenal banyak kalangan hingga menjadi bahan guyonan Presiden ke-empat RI Abdurrahman Wahid.

Selama menjabat sebagai Kapolri, ada banyak kasus besar yang berhasil diungkapnya. Mulai dari kasus tertembaknya Rene Louis Coenrad, mahasiswa ITB oleh Taruna Akpol saat berlangsungnya pertandingan sepak bola persahabatan antara kesebelasan ITB dengan kesebelasan AKABRI, kasus Robby Tjahyadi yang merupakan orang dekat keluarga Cendana, hingga kasus Sum Kuning yakni kasus pemerkosaan warga Yogyakarta oleh beberapa anak penggede.

Kasus tersebut bahkan membuat Presiden Soeharto terpaksa turun tangan dan membentuk Tim Pemeriksa Pusat. Sikap Hoegeng yang tidak pandang bulu dalam mengusut kasus, membuat suami dari Mery Roeslani ini akhirnya diberhentikan dari jabatannya pada 2 Oktober 1971. Pemberhentian ini menimbulkan tanda tanya karena dilakukan sebelum waktunya.

Akhir hayat Jenderal Hoegeng

Di sisa akhir masa hidupnya, Hoegeng terus menjalani kehidupannya dengan sederhana dan apa adanya. Dia pun akhirnya meninggal dunia pada 14 Juli 2004 karena menderita stroke dan gangguan jantung. Bapak tiga anak ini kemudian dimakamkan di TPU Tonjong.

Sebelum wafat, Hoegeng sempat berpesan untuk tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Melalui rapat Petisi 50, dia menyatakan tidak ingin dikubur bersama dengan para koruptor. Salah satunya yakni Taher, salah satu pembantu Ibnu Sutowo yang diadili di Singapura karena kasus korupsi Pertamina.

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.