READING

Mengakali Zonasi PPDB Dengan Kartu Keluarga Siluma...

Mengakali Zonasi PPDB Dengan Kartu Keluarga Siluman

Penerapan sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) membuat pusing para orang tua. Tak sedikit yang melakukan mutasi dadakan dengan menitipkan anaknya ke dalam Kartu Keluarga terdekat dengan sekolah favorit.

KEDIRI – Pindah Kartu Keluarga (KK) menjadi jurus terakhir para orang tua untuk mengakali sistem zonasi dalam penerimaan peserta didik baru. Akibatnya, terjadi penambahan anggota keluarga dadakan di Kartu Keluarga yang dekat dengan sekolah unggulan.

Fenomena titip anak ini menjadi viral setelah pemerintah menerapkan kebijakan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru. Berdalih melakukan pemerataan lembaga pendidikan, pemerintah memberi porsi besar kepada calon siswa di lingkungan sekolah untuk diterima.

Dengan demikian, sekolah unggulan juga tak lagi bisa memilih-milih calon siswa agar out put mereka bagus. Pendek kata, semua siswa mendapat kesempatan yang sama untuk mendapat sekolah terbaik.

Faktanya, pemerataan siswa dan kesempatan belajar ini tak berlaku sewajarnya. Alih-alih membatasi siswa dari luar daerah untuk mendaftar, sekolah justru tak ambil pusing dengan masuknya siswa-siswa luar daerah yang menyaru sebagai penduduk lokal.

Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto menemukan adanya manipulasi data PPDB dalam sistem zonasi di daerahnya. “Saya menerima laporan kecenderungan manipulasi kartu keluarga, ini sedang saya dalami saya perintahkan dukcapil, camat, lurah, Disdik untuk mendalami ini, ada laporan yang menitip alamat ini artinya ada ruang untuk manipulasi administrasi jadi sistem kita belum siap,” kata Bima Arya usai Musrembang, seperti ditulis koranbogor.com.

Pernyataan Bima Arya ini menggambarkan karut marut PPDB dan praktik pemalsuan Kartu Keluarga yang terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia. Lantas bagaimana sebenarnya modus pindah Kartu Keluarga dan teknis mengurusnya di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil?

Penelusuran Jatimplus.ID di lapangan menunjukkan praktik titip Kartu Keluarga yang sangat marak jelang PPDB 2019. Orang tua calon siswa yang mengetahui rencana penerapan zonasi telah jauh-jauh hari menitipkan anaknya ke keluarga yang berdomisili dekat sekolah unggulan.

Proses memasukkan data si anak ke dalam Kartu Keluarga orang lain ini ternyata tak sulit. Orang tua calon siswa tinggal mengajukan surat permohonan pindah KK untuk anaknya ke kantor kelurahan asal, dengan melampirkan surat pengantar RT/RW.

Selanjutnya permohonan pindah KK itu diteruskan ke Kantor Dispendukcapil asal untuk diteruskan kepada kantor Dispendukcapil yang dituju. Dari kantor ini kemudian diterbitkan Kartu Keluarga baru untuk keluarga yang dituju, dengan memasukkan nama anak titipan. “Statusnya bisa sebagai kerabat jauh atau kolom lain-lain di Kartu Keluarga,” kata Ahmad Baharudin, Kepala Kantor Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri kepada Jatimplus.ID.

Dia mencontohkan, skema yang sama diberlakukan kepada asisten rumah tangga yang tinggal menetap di rumah majikannya dan dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga. Statusnya bisa dimasukkan ke dalam kolom lain-lain, yang penting tercatat sebagai penghuni rumah tersebut.

Modus inilah yang dilakukan para orang tua murid demi mengejar sekolah unggulan yang jauh dari rumah mereka. Toh meski abal-abal, sistem PPDB online tak akan mendeteksi status calon siswa dalam Kartu Keluarga yang digunakan.

Terlebih lagi sistem kependudukan kita memberi ruang kemudahan sama untuk mengembalikan Kartu Keluarga ke posisi semula. Dimana nama siswa yang terdaftar, minimal satu tahun sebelum pendaftaran sekolah, bisa dikeluarkan lagi dari daftar KK dan dikembalikan kepada keluarga asalnya. (HARI TRI WASONO)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.