Mengapa FPI Tak Pernah Ada di Kediri?

KEDIRI – Organisasi massa Front Pembela Islam (FPI) tak pernah terbentuk di Kediri. Berkali-kali upaya membangun ormas ini selalu gagal karena rendahnya dukungan masyarakat.

Sebagai kota yang memiliki nilai toleransi tinggi, hampir semua aliran dan kelompok agama hidup berdampingan di Kediri. Tengok saja megahnya menara Pondok Pesantren Wali Barokah yang dikelola Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kelurahan Burengan, Kecamatan Kota, Kediri.

Pondok dengan ribuan santri dari berbagai daerah ini tumbuh subur tepat di pusat Kota Kediri. Meski memiliki ketentuan sendiri dalam mengelola pondok, tak pernah sekalipun terjadi konflik dengan masyarakat sekitar. Bahkan keberadaan Pondok Pesantren Wali Barokah ini memberi kontribusi ekonomi bagi warga di luar pondok.

Berjarak beberapa ratus meter dari Pondok Wali Barokah, berdiri Pondok Pesantren Assaidiyah yang dikelola KH Anwar Iskandar. Pondok pesantren beraliran Nahdlatul Ulama ini juga memiliki siswa santri sangat besar. Bahkan kerabatnya, KH Douglas Toha Yahya yang akrab disapa Gus Lik kerap menggelar pengajian terbuka yang menutup ruas jalan di jalur itu. Jalur yang sama menuju Pondok Pesantren Wali Barokah milik LDII.

“Kalau pas ada pengajiannya Gus Lik dagangan saya laris manis. Demikian juga jika ada kegiatan di pondok LDII,” kata Arif, pedagang Amsle di ruas jalan tersebut.

Tak hanya LDII dan Assaidiyah, Pondok Pesantren Kedunglo yang dikelola Yayasan Perjuangan Wahidiyah juga tak kalah dinamis. Pondok pesantren yang memilih lokasi di kawasan bantaran Sungai Brantas Kelurahan Bandar, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini memiliki ribuan siswa santri dari berbagai daerah.

Bahkan di hari pelaksanaan Mujahadah Kubro yang dihadiri jamaah Wahidiyah dari berbagai kota, tak ada keributan sama sekali di Kelurahan Bandar Lor. Padahal kawasan ini merupakan daerah padat penduduk yang harus merelakan beberapa ruas jalan mereka ditutup selama pelaksanaan Mujahadah berlangsung.

“Dulu sempat kaget dengan kegiatan ini. Semua jalan ditutup, susah untuk keluar rumah. Tapi akhirnya terbiasa dan justru senang karena banyak penjual kaki lima,” kata Fendy Lesmana, warga asal Surabaya yang menetap di Bandar Lor.

Berseberangan desa dengan Bandar Lor, yakni di Kelurahan Lirboyo, terdapat deretan pondok pesantren besar yang dirintis oleh KH Abdul Karim. Pondok ini adalah tertua dan terbesar di Kediri dengan jumlah santri mencapai puluhan ribu dari seluruh penjuru negeri.

Di hari tertentu di luar jam belajar, santri Lirboyo juga memenuhi seluruh wilayah Kelurahan Bandar Lor untuk berbelanja keperluan. Mereka juga berinteraksi langsung dengan santri Kedunglo seperti layaknya sesama Muslim.

Namun kondusifitas iklim keberagaman ini tetap tak mampu membangun lahirnya Front Pembela Islam (FPI) di Kediri. Hingga kini ormas tersebut tak pernah ada meski beberapa kali rencana pembentukannya sempat dilakukan.

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Oing Abdul Muid menduga ketidakhadiran FPI di Kediri dikarenakan tidak sesuainya dengan kultur masyarakat setempat. Hal ini menjadi penyebab gagalnya upaya pembentukan FPI meski sempat beberapa kali digagas. “Saya kira kultur masyarakat di Kediri tidak cocok dengan FPI, itu saja,” kata Gus Muid.

Sayang Gus Muid yang baru saja dilantik menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Kediri untuk periode 2019 – 2024 ini menolak menjelaskan lebih jauh soal FPI. Lantas bagaimana jika kelak tiba-tiba organisasi itu berdiri? “Semoga saja tidak,” kata Gus Muid sambil tertawa.

Penulis : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.