Mengapa Pria Jawa Menyukai Perkutut?

SELAIN memiliki wisma (rumah), wanita, curiga (keris) dan turangga (kuda), seorang lelaki Jawa dewasa juga disarankan memelihara kukila (burung). Premis itu diucapkan tanpa petikan nada guyon maupun genjrengan tawa.

“Usahakan perkutut. Tapi kalau belum mampu mendapatkan, ocehan juga tidak apa apa. Yang pasti harus punya burung”. Dibarengi hisapan pipa tembakau dan sruputan kopi hitam, begitulah “fatwa” jatuh bergulir di sebuah warung kecil pinggir kali (Brantas).

Pria tua itu tidak menjelaskan alasan etnisitas. Kenapa harus lelaki Jawa?. Bagaimana dengan pria Sunda, Madura, Batak, Papua, apakah juga terkena “postulat” serupa?.

Atau itu hanya simbologi untuk melegitimasi kuasa. Bahwa lelaki harus jantan, maskulin sebagai laki laki. Harus sanggup ngayomi, kokoh, kuat, perkasa melebihi kerasnya semen tiga roda. Oleh kelompok urban pragmatis, pasti hal ini mudah disimpulkan sebagai sesuatu yang absurd. Pikiran ndeso.

Saya jadi teringat Bejo, burung perkutut milik bapak yang katanya masih trah Susi. Siapa dia?. Kata bapak perkutut piaraan keluarga Cendana. Konon Pak Harto penghobi burung yang fanatik, terutama perkutut. Dan nyaris semua perkutut milik Presiden kedua RI itu tergolong burung jadug, dan Susi salah satunya.

Seperti halnya perkutut yang lain, Bejo juga menyisil ketan hitam bercampur jewawut. Tiap pagi wadah makan Bejo selalu dicek. Sebuah tempat kecil berbentuk oval terbuat dari tanah liat. Apakah ketan hitamnya ludes, tinggal sedikit atau perlu ditambah, bapak rutin mengontrolnya. Begitu juga dengan tempat minumnya. Sepekan sekali dibilas dan diganti airnya.

Setelah itu Bejo baru digantang. Perkutut peranakan Susi, yang entah anak halal atau haram itu dikerek tinggi tinggi sejajar dengan tiang bendera. Yang saya ingat, selanjutnya bapak ngisis. Duduk santai, ngudut sambil menikmati irama.

Di ketinggian udara Bejo seperti mendapat panggung. Terlihat kemlinthi. Lebih gesit, sumringah dan sering bersuara. Mungkin karena itu dinamakan manggung. Suara koong yang keluar dari tenggorokan Bejo terdengar anggleng. Menggema. Selain keras, warna suaranya juga tebal. Soal ini saya jadi teringat ketebalan suara penyanyi kenamaan tanah air putri sastrawan alm Darto Singo yang memilih tinggal di Eropa.

Dalam buku “Perkutut”, B Sarwono menyebut sejumlah ciri mathi yang menjadi parameter suara seekor perkutut. Ciri itu tanda. Sedangkan Mathi adalah tabiat atau tingkah laku. Perkutut yang manggungnya keras, merdu, dan iramannya enak didengar, dicandra (diungkap dalam perumpamaan) dengan sebutan Nggendala Sabda. “Ia bagus dipelihara, bisa dipakai memikat burung lain, “tulis Sarwono.

Ada perkutut yang sukanya manggung bersama dengan terbitnya sang surya. Jenis ini dicandra dengan sebutan Gedong Menga atau Menga Gedong. Perkutut ini juga baik dipiara. Diyakini mendoakan pemiliknya agar senantiasa selamat dan banyak rezeki.  

Yang kurang baik dipiara perkutut yang kebiasaan berkoong di tengah malam. Dicandra dengan sebutan Durga Nguwuh. Pemiaranya diyakini akan banyak menemui banyak halangan dan kesulitan dalam berumah tangga.  

Berdasarkan tingkah laku, waktu dan cara manggung, Sarwono menuliskan ada 12 ciri mathi. Berdasarkan warna kaki dan paruh, ules, bentuk badan dan bulu ekor, ada sebanyak 31 ciri mathi.

Misalnya perkutut yang warna paruh dan sisik kakinya keputih putihan, dicandra dengan sebutan Kusuma Wicitra. Perkutut ini baik dipiara karena diyakini bisa mendatangkan rezeki. Atau perkutut yang ulesnya (warna bulu) kemerah-merahan dicandra dengan sebutan Brama Susur. Selain suaranya kurang enak, perkutut ini diyakini bisa membuat pemiliknya sakit sakitan.

Bila ciri mathi berkaitan erat dengan daya magis perkutut, maka katuranggan berkaitan dengan citra lahiriahnya. Menurut Sarwono, di kalangan masyarakat Jawa memelihara perkutut berbeda dengan memelihara burung ocehan, seperti cucakrowo, kutilang, beo, puter, deruk dan lain sebagainya.  

“Karena perkutut dianggap memiliki daya gaib tertentu, yang bisa berpengaruh terhadap baik buruknya kehidupan keluarga, “katanya.

Kembali kepada “fatwa” kenapa pria Jawa disarankan memelihara burung perkutut. Dalam “Regol Megal Megol, Fenomena Kosmogoni Jawa”, kukila yang dalam hal ini perkutut, merupakan bagian dari lima syarat (wisma, wanita, curiga, turangga dan kukila) etos pria Jawa sejati. Tanpa kukila, etos dianggap kurang sempurna.

Namun menurut budayawan cum sastrawan Linus Suryadi AG, seluruh etos persyaratan itu tidak diperoleh dari mengandalkan warisan leluhur. Melainkan berkat jerih payah hasil kerja keras cucuran keringat sendiri. Bahkan etos pria Jawa sejati itu dianggap gugur sedari awal manakala tata cara perolehan lima syarat itu bukan dari budidaya dan pergulatannya sendiri.

“Tidak ada terbertik saran dari pameo Jawa lisan, agar seorang pria sejati mengandalkan ketergantungan pada nenek moyangnya, “tulisnya. Masih soal kukila. Pameo Jawa kuna lain mengatakan, seekor perkutut tidak beda dengan sebilah keris pusaka. Kesamaan ini menyangkut perihal yoni atau isinya. Seorang Jawa yang memelihara perkutut beryoni diperumpamakan menyimpan keris pusaka lengkap dengan warangkanya.

Dalam artikel “Mengapa Orang Jawa Sayang  Burung Perkutut”, Linus Suryadi menyebutkan, “pendapat seorang ahli metafisika Jawa : yoni yang terdapat burung perkutut tidak beda dengan yoni yang terdapat pada keris pusaka”. Kendati demikian, bagi Linus memelihara burung perkutut merupakan bagian seni dan ekspresi hidup orang Jawa. Dan itu bukan monopoli orang Jawa Mataram, apalagi wabil khusus warga Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.  

“Boleh dikatakan bahwa burung perkutut bagi orang Jawa-tidak harus orang Jawa Yogyakarta tetapi juga dapat orang Tionghoa Indonesia- adalah rajanya segenap burung di Indonesia, “katanya.

Dalam obrolan klobot suatu pagi, bapak pernah bilang, selain makanannya gampang dan perawatannya tidak neko neko, perkutut Jawa itu panjang usia. Memang belum ada kepastian angka. Namun ada yang menduga umur perkutut bisa sampai 50 tahun.  Itulah salah satu alasan kenapa orang orang tua di Jawa lebih nyaman memelihara perkutut daripada jenis ocehan.

Namun selain itu, perkutut memang memiliki sejumlah sifat khusus (alamiah) yang tidak dimiliki burung lain. Kotoran perkutut tidak mengeluarkan bau. Ini berbeda dengan kotoran jenis ocehan yang  busuk. Itu mengapa orang Jawa berani menempatkan perkutut di ruang tamu, longkangan atau pendopo.

Kemudian bangkai perkutut apabila mati tidak berbau busuk. Bangkai perkutut akan mengering dan lapuk. Perkutut juga kategori hewan jinak. Apabila dipelihara sejak piyik akan sangat lulut. Setiap dipetheti dengan jari tangan akan mudah manggung. Ciri khusus lainnya adalah harga perkutut tergolong mahal dan stabil ketimbang burung lainnya. Ciri terakhir tentu menjadi dambaan para pemuja kapital.

Saya kok tiba tiba teringat roman “Kooong” karya Kebo Kenanga (Iwan Simatupang). Perkutut milik Pak Sastro tidak memiliki ciri khusus itu semua. Bahkan perkutut yang dibeli di pasar Senen setelah memastikan si Amat, anaknya yang mati terlindas kereta, tidak ada bunyinya. Namun meski dicemooh, diejek orang orang di kampungnya karena tak kunjung manggung, Pak Sastro tetap mencintai si Koong. Itulah ajaibnya perkutut. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.