Mengapa Rilis Pemerintah Membosankan?

Informasi pemerintah sangat penting untuk masyarakat. Hanya terkadang cara menyampaikannya kerap kali membosankan sehingga masyarakat malas membaca. Gabriel Sujayanto, penulis, pernah lama jadi jurnalis media nasional, dan juga pernah punya pengalaman di bidang komunikasi menuliskan untuk Jatimplus.ID tentang pentingnya story telling di rilis pemerintah. Simak artikelnya.

Pada zaman digital ini, kekuatan pesan agar sampai ke tujuan justru bersumber pada  kebiasaan kuno: bercerita. Pendapat tersebut datang dari Jay Laird, pengajar media digital dari Northeasthern University. Oleh generasi milenial (generasi yang lahir pada awal tahun 1980 – 2000), konten yang bercerita ini disebut sebagai story telling.

Taruhlah itu sebuah kesuksesan, orang-orang muda ini  tak mau keberhasilan tersebut disuguhkan hanya ketika  seseorang tiba puncak karier, dengan segala atributnya. Mereka justru ingin, bagaimana pencapaian itu diraih lewat liku-liku yang tidak instan.  Mengatasi hambatan, keputusasaan, bangkit dari keterpurukan, dan berujung pada kesuksesan. Ini baru cool!

Dengan demikian, pada dasarnya  puncak prestasi adalah konsekuensi dari keteguhan perjuangan. Jalan yang berbelok-belok membuat pencapaian menjadi berarti.

Konten yang berceritera kini menjadi senjata di dunia pemasaran untuk merayu konsumen. Kekuatan produk atau merek disampaikan melalui cerita sebagai cara menumbuhkan empati dan agar tidak seperti berpromosi. 

Asumsinya, cerita pengalaman orang lain akan lebih didengar dibandingkan dengan menjejerkan  daftar keunggulan. Lewat cara ini secara perlahan memori audience dipengaruhi yang berujung pada hubungan yang lebih dalam dan loyal.

Media digital dan media cetak tak meninggalkan jenis tulisan ini. Di tengah informasi yang serba instan, jurnalisme berkisah tetap ditunggu pembaca lewat kekuatan penuturan.

Berita Pemerintah yang Lempang

Sayangnya,  tren ini tidak tercermin pada berita yang disebar oleh pemerintah. Mulai dari tingkat pemerintah daerah hingga pusat. Mereka masih menyukai pola lama. Berita keras yang langsung, lempang, dan tanpa emosi. Karena kurang menarik, wartawan pun lebih suka menggali sendiri, salah satunya lewat doorstop. Pejabat “dicegat” dan diminta menjawab pertanyaan yang sudah disiapkan oleh wartawan.

Sementara , bagi media arus utama, rilis kemudian hanya dijadikan bahan dasar tulisan, yang lantas diolah dan dimuat dengan sudut pandang sejalan dengan kebijakan media yang bersangkutan. Akibatnya, tone berita  yang muncul bisa jadi berbeda dengan yang dikehendaki oleh pembuat rilis (pemerintah).

Salah contoh adalah ketika sebuah program diluncurkan atau satu proyek diresmikan. Rilis yang disebar ke media adalah berita standar. Umumnya hanya menjawab apa, kapan, di mana, mengapa, dan kadang sekelumit dampak. Betul, rilis di atas tetap penting, tapi tidak cukup untuk memengaruhi pikiran pembaca.

Rilis macam ini kaku, datar, dan kurang membangkitkan emosi. Sebuah informasi dasar yang cepat menguap ditimpa berita hangat berikutnya. Padahal maksud pembuat rilis lebih dari itu. Mereka mau agar kabar menjadi berita besar, ditempatkan di halaman muka, dibaca, dan dapat mengarahkan pembaca untuk mendukung apa yang tengah dikerjakan oleh pemerintah.

Pada era story telling ini, pembaca ingin tahu lebih dalam, asli, bukan polesan, untold story. Taruhlah, bagaimana sebuah proyek dikerjakan, oleh siapa, adakah sumbangan generasi milenial di sana, apa kesulitannya,  untuk apa proyek tersebut dijalankan, dan benarkah mengangkat status ekonomi warga.

Jawaban atas pertanyaan tersebut lebih pas disuguhkan dalam bentuk cerita. Memuat cerita orang-orang yang terlibat dalam proyek tersebut lengkap dengan segala suka-duka perjuangannya. Penggambaran akan membawa pembaca  ke dalam situasi dan ikut merasakan apa yang menjadi kesedihan, kesukaan, dan  perjuangan pekerja serta warga yang terdampak.

Sebuah kisah tidak lekang oleh waktu, dan bisa menjadi inspirasi. Sesudahnya, diharapkan rasa solidaritas muncul dan pada akhirnya menyokong program tersebut. Inilah inti dari story telling, menyentuh alam bawah sadar pembaca, agar mereka ikut berempati.

Story Telling yang Meredam Gejolak

Story telling adalah istilah kekinian untuk menyebut tulisan yang dalam dunia jurnalistik  disebut sebagai feature atau human interest story. Tulisan berkisah ini tidak sekadar memberitakan sebuah kejadian, tetapi menceritakan apa yang ada dibalik peristiwa. Intinya berkisah tentang manusia dan sisi-sisi kemanusiaan.

 Dalam The Complete Reporter, Harriss dkk menjelaskan, human interest story, memasukkan unsur imajinatif dan kreatif hingga menyentuh keingintahuan, kekaguman, penasaran, bahkan  memicu tangis dan  tawa. Berbeda dengan  tulisan lempang (hard news), yang lurus, ringkas, dan tanpa emosi.

Karena daya pengaruhnya, tulisan human interest tidak bisa diabaikan begitu saja, bahkan bisa mengalahkan tulisan hard news yang lekas dilupakan. Human interest story sanggup bertahan lebih lama. Dan karena yang diceriterakan adalah sisi humanis, ia bisa muncul setiap waktu.

Sebagai gambaran, jika dalam rilis, Tol Trans Jawa yang mencuat tak lebih dari upacara peresmian. Maka, melalui pendekatan human interest, keberadaan tol ini bisa lebih lentur dan menarik. Misalnya, cerita soal siapa saja para insinyur milenial yang ikut dalam proyek ini. Apa  pengalaman mereka di lapangan  dan tantangan yang mereka hadapi.

Atau bagaimana angkutan penumpang bus jarak jauh kembali bergairah setelah tol ini dioperasikan, dsb. Juga berseminya harapan para pemilik  pusat-pusat kerajinan dan kuliner sepanjang jalan tol. Daftar liputan bisa bertambah panjang, karena kita percaya ada banyak kesempatan baru di sana.

Kisah-kisah tersebut sekaligus bisa  meredam kritik, soal keberadaan tol  yang  hanya menyengsarakan ekonomi rakyat di jalur arteri. Atau sekadar memfasilitasi masyarakat menengah atas yang punya mobil.

Contoh lain, bisa diambil dalam program penanganan merebaknya virus corona. Andai saja waktu pemulangan warga negara Indonesia dari Wuhan, China mengikutkan wartawan. Tentu ceritanya bakal menarik dan lebih menimbulkan empati.

Karena tak hanya menghasilkan tulisan dengan 5 W + 1 H, penulis feature mesti punya keterampilan lebih. Wawancara dan observasi lapangan yang mendalam menjadi kunci. Penulis juga wajib menuliskan dalam laporan yang rinci, rapi, dan saling bertalian.

Dalam praktiknya, wartawan harus memaksimalkan kelima panca inderanya untuk merekam apa saja yang menjadi obyek tulisan bukan hanya  tersurat, namun terlebih  yang tersirat. Menelusuri setiap detail sebuah kejadian atau peristiwa yang lantas disampaikan dengan bahasa yang lentur dan runtut.

Pilihan kata menjadi unsur penting dalam penyuguhan tulisan jenis ini. Sindhunata, rohaniawan dan juga wartawan dalam Belajar Jurnalistik Dari Humanisme Kompas mengatakan, nilai-nilai itu tak tersampaikan, jika bahasa yang digunakan adalah bahasa kering, formal, abstrak, dan rasional. Maklum humanisme tak hanya menyangkut rasio dan otak, tapi juga seluruh jiwa manusia, termasuk perasaan, intuisi, dan emosinya.

Tugas berat menanti tim kehumasan pemerintah, untuk menyampaikan hasil-hasil pembangunan menjadi “hidangan” yang enak di meja pembaca.

Barangkali ini saatnya menata kembali rilis-rilis pemerintah, agar lebih bertenaga. Tidak hanya mengungkap apa yang tersurat, tapi juga yang tersirat agar lebih tajam, dalam, dan menyentuh.

Gabriel Sujayanto, penata kata tinggal di Bekasi

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.