READING

Mengenal S.K. Trimurti, Menteri Buruh Pertama RI

Mengenal S.K. Trimurti, Menteri Buruh Pertama RI

Pada suatu malam di tahun 1947, Surastri Karma Trimurti sedang duduk termenung di rumahnya yang berada di Yogyakarta. Hatinya bimbang setelah didatangi Setiadjit. Ketua Partai Buruh Indonesia (PBI) itu menyampaikan kabar bahwa Presiden Sukarno memintanya menjadi anggota formatur kabinet bersama A.K. Gani, dan Amir Sjarifuddin.

Trimurti sendiri oleh tim formatur diminta untuk mengisi posisi sebagai Menteri Perburuhan. Sontak Tri pun menolaknya. Perempuan kelahiran Boyolali 1912 ini merasa dirinya tidak mampu karena tidak memiliki pengalaman sebagai menteri.

“Bung Karno juga belum pernah menjadi presiden,” bujuk Setiadjit. Tidak terburu-buru, Setiadjit pun memberi waktu semalam kepada Tri untuk berpikir.

Sebenarnya tawaran menjadi menteri ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya nama Tri sempat diajukan sebagai Menteri Sosial di masa Kabinet Sjahrir III. Namun akhirnya tidak jadi karena Sutan Sjahrir menghendaki pos tersebut diisi oleh tokoh perempuan lainnya yakni Maria Ulfah.

Setelah menggalau semalaman, Trimurti pun memutuskan untuk menolak tawaran tersebut. Beban kerja dan risikonya terlalu berat karena Kementerian Perburuhan baru didirikan. Belum lagi kondisi gerakan buruh saat ini sedang tidak akur dengan situasi politik dalam negeri.

Tri pun terlelap. Keesokan harinya, ternyata pikirannya berubah. Dia menjadi malu karena tindakannya menolak menjadi menteri menjadi kontradiktif dengan apa yang diperjuangkannya selama ini. Selama masa penjajahan, Tri memperjuangkan kemerdekaan dengan begitu semangat. Tapi begitu merdeka, dia malah menolak untuk mengisinya. Akhirnya pagi itu Tri pun menganggukkan kepalanya kepada Setiadjit.

Tri kemudian dilantik oleh Sukarno di Gedung Agung pada 3 Juli 1947. S.K. Trimurti resmi menjadi menteri perburuhan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin yang diberi nama Kabinet Perdamaian. Dia pun menjabat posisi ini hingga masa Kabinet Amir Sjarifuddin II tahun 1948.

Setelah resmi menjadi menteri, Trimurti mulai bekerja. Dia senang bisa bekerjasama dengan orang-orang yang sudah dikenalnya. Wilopo yang menjabat menteri muda perburuhan, dan sekjennya, Mr. Sumarno, sudah dikenalnya sejak di Indonesia Muda.

Tri yang sebelumnya aktif sebagai jurnalis dan penulis tidak menyoal gajinya yang jauh lebih rendah selama menjadi menteri. Ketika menjadi menteri, istri Sayuti Melik ini mendapat gaji Rp750 per bulan. Padahal sebelumnya, dia bisa mengumpulkan Rp 3.000 untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Hidupnya pun tetap sederhana setelah menjadi menteri. Kesederhanaannya terpotret dalam sebuah kursus politik di “presidenan” Yogya. Trimurti berjalan ke muka peserta kursus dengan langkah besar-besar. Dia naik podium dan mulai berbicara

“Saudara-saudara kaum wanita yang bersandal dan tidak bersandal!… walaupun saya kebetulan bersandal,” ujarnya seperti dikutip Tjiptoning dalam Apa dan Siapa,

Dia juga menolak ketika mendapat tawaran sebuah rumah besar yang berlokasi di muka Istana Pakualaman. Sebuah tawaran yang menurutnya tak pantas di tengah situasi politik dan ekonomi yang gawat karena agresi militer Belanda.

Selama menjabat menteri, Trimurti mendorong organisasi-organisasi buruh untuk memperkuat diri di tengah peperangan melawan Belanda dan Jepang. Perpecahan di kalangan organisasi buruh pun menjadi perhatiannya.

Perpecahan yang terjadi terkait sikap pro-kontra mengenai Perjanjian Linggarjati, perbedaan aliran politik, bahkan menjurus ke tindakan intimidasi dan culik-menculik. Pengalamannya menyatukan buruh swasta ketika aktif dalam Gabungan Serikat Buruh Partikelir Indonesia (GASPI) dijadikan sebagai modal.

“Kaum buruh dalam kelompoknya masing-masing tentu ingin mendesakkan kepada pemerintah supaya kemauan mereka dituruti. Dan kemauan itu tidak sama. Kalau kemauan itu bertentangan satu sama lain, pemerintah harus lebih berhati-hati lagi memberikan keputusan,” ujar Trimurti seperti dikutip dalam biografinya.

Kabinet Amir Sjarifuddin saat itu juga dinilai sangat lemah dan butuh dukungan besar dari rakyat. Tri pun sering turun ke lapangan guna meyakinkan kelompok buruh agar mendukung pemerintah.

Meski menjadi menteri, jiwa penulis dalam diri Trimurti masih tertanam kuat. Ibu dua anak ini pun mengabadikan sejarah pergerakan buruh dalam dua buah buku. Usai menyelesaikan tugasnya sebagai menteri perburuhan, Tri sempat ditawari kembali menjadi Menteri Sosial di tahun 1959. Namun karena ingin konsentrasi menyelesaikan studinya, mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini menolaknya.

Sumber : historia.id dan intisari.grid.id

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.