Mengenang 40 Hari Didi Kempot Wafat

“Jangan cari uang, tapi berkaryalah”. Pesan itu terucap dari sang ayah, Ranto Edi Gudel, mengiringi kepergian Didik Prasetyo menapak – mengamen di Jakarta 35 tahun silam. Belakangan masyarakat mengenal pria kelahiran Surakarta ini sebagai Didi Kempot.

Panggung di DPR-RI Jakarta, awal November 2019 menjadi momen sangat emosional bagi seorang Didi Kempot. Malam itu, Lord Didi tampil pada Harlah ke-20 Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa. Penontonnya membludak, termasuk petinggi partai dan sejumlah menteri.

Tata panggung yang apik, musik, sorot lampu, serta sound yang menggelegar menambah kesemarakan pertunjukan malam itu. Lagu-lagu Lord Didi disambut antusias. Jogedan dan nyanyian koor syair-syair lagu sang maestro membahana sepanjang pertunjukan.

Bagi Didi Kempot, panggung itu bukan panggung biasa. Tempat manggung itu hanya selemparan batu dari tempat Didi Kempot memulai perjuangan sebagai pengamen jalanan di Bundaran Slipi, Jakarta, tahun 1986. Kini bundaran itu sudah tidak ada. Namun situasi Slipi secara umum tak berubah. Perempatannya membagi empat penjuru. Jalan KS Tubun, Palmerah Utara, dan Gatot Subroto pada dua arahnya.

Bus kota dan angkot masih lalu-lalang dan berhenti di sana. Jika malam, warung kaki lima bertebaran di sepanjang KS Tubun dan Palmerah. Gedung DPR tempat Didi manggung hanya seratusan meter dari bundaran Slipi.

Saat menginjakkan kaki di ibukota, Didi Kempot tak menyangka akan bisa meraih mimpi yang digenggamnya dari kampung. Ia jalani rutinitas. Mengamen di terminal, naik-turun bus, memasuki lorong pemukiman, jalanan, hingga menyusuri trotoar sepanjang hari. Dari jalanan pula tercetus nama Kempot, kependekan dari  Kelompok Pengamen Trotoar. Nama yang kemudian terbukti ngrejekeni.

“Masa-masa mengamen di jalanan itu saya anggap sebagai  tirakat, saya nulis (lagu) tiap hari, saya ingin membahagiakan bapak ibuk,” ungkapnya suatu waktu. Tirakat adalah sebuah langkah prihatin. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur kendati dalam situasi sulit. 

Ia terus mengingat kata-kata ayahnya saat pamit untuk hidup menjadi pengamen di Jakarta. “Jangan cari uang, tapi berkaryalah maka uang akan datang,” pesan seniman legendaris di Surakarta pada Didi Kempot.

Pesan itu diugemi (dipatuhi) Didi yang tak pernah putus mencipta lagu dan dibawakan setiap kali mengamen. Ide lagu bisa datang di mana saja di jalanan. “Saya ambil kertas apa saja yang ada. Kadang bungkus rokok. Nanti sesudah sampai rumah saya tulis ulang dan tambah,” katanya saat diwawancarai medeon.id.

Didi tak lelah berkarya. Ia serap segala pergulatan hidup, rasakan, renungkan, dan tuangkan dalam syair. Dari sini lantas lahir tembang-tembang yang khas dan mengena. Lirik yang melukiskan hati  tersakiti dan terkhianati. Nggrantes tapi  tegar. Hingga muncul istilah “sad boys/sad girls” di kalangan penggemarnya.

Apapun frasa yang muncul atas lagu-lagunya, semuanya bermuara pada perasaan ambyar (hancur), hingga julukan The God Father of Broken Heart tersemat kepadanya. Lagunya diidentikkan dengan perasaan kehilangan. Mendengarkan liriknya, seperti mendapat jaminan perasaan kecewa yang tiada tara. Tengok saja lirik berikut:

Wis sak mesthine ati iki nelongso

Wong sing tak tresnani mblenjani janji

Opo ora eling naliko semono semono

Kebak kembang wangi jroning dodo

(Lagu: Cidro -1989)

 “Penggunaan bahasa Jawa, bahasa ibu, serta syairnya yang sederhana dan mudah dicerna membuat semua lapisan masyarakat terhipnotis,” kata GM Kussardoyo, psikolog asal Surabaya mencermati lagu Didi Kempot.

Di tahun-tahun terakhir, sosok yang rendah hati ini terus mengeluarkan lagu-lagu baru. Seperti Banyu Langit yang ditulis hanya dalam waktu seminggu. Lagu yang selalu berada di song list saat Didi manggung ini begitu lekat di kepala sad boys/sad girls. Meski liriknya menceriterakan keindahan sebuah tempat di Ngglangran, Wonosari, Yogyakarta, namun ujungnya tetap menggambarkan pribadi yang diblenjani (ditipu).

Janjine…lunga ra nganti semene suwene

Nganti kapan tak enteni, sak tekane ..

Seperti menembus batas, komposisi campursari yang dibawakan Didi Kempot sukses menggaet para milenial sebagai penggemarnya. Agar tak terkesan udik, beberapa penampilannya dikawinkan dengan orkestra  megah dan musisi rock. “Wah aku ra nyongko, laguku sing sederhana iso dadi koyo ngene apike,” kata Didi mendapati wajah baru lagunya.

Masuknya @sandyriaervinna sebagai penggesek biola pada September 2019, memperkaya komposisi musiknya. Satu-satunya personil perempuan di grup Didi Kempot ini makin berwarna ketika memainkan gimik romantis bersama @doryharsa, si penggebuk kendang, dalam lagu Kangen Nickerie.

Bulan-bulan terakhir sebelum wafat, Didi merekrut @#sintyamarisca sebagai penari yang progresif. Ini membuktikan betapa luwesnya Didi dalam bermusik dan tak mengkotak-kotakkan genre.

Pada akhirnya, karya yang ia tanam dan rawat puluhan tahun berbuah manis melampaui mimpinya sendiri. Raganya memang menyatu dengan tanah. Namun tembangnya akan terus berkumandang dan menjadi ingatan abadi di hati penggemarnya, para kempoters.

Penulis: @gabrielsujayanto
Editor: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.