READING

Mengenang Jejak Perjuangan Buruh di Museum Omah Mu...

Mengenang Jejak Perjuangan Buruh di Museum Omah Munir Batu

Marsinah dibunuh secara keji. Dan Munir Said Thalib tidak tinggal diam.

DI dalam ruang utama, “artefak” itu terpajang rapi di lemari kaca. Jam tangan, rompi dan buku skripsi. Barang barang pribadi itu menjadi saksi senyap saat Munir gigih mengungkap kasus pembunuhan buruh Marsinah. Tidak hanya bergerak di ruang ruang advokasi (hukum). Untuk melapis kekuatan perlawanan, dia juga mendirikan gerakan massa Komite Aksi Solidaritas Untuk Marsinah (KASUM). Organ taktis ini berdiri pada tahun 1993.

Munir sadar. Persekutuan antara pemodal dan kekuatan militer bukan lawan yang enteng. Dirinya juga tidak berpangku tangan saat 11 buruh PT Catur Surya Putra (CPS) Sidoarjo, yakni kawan seiring Marsinah, juga di PHK. Kepedulian terhadap nasib buruh itu berjejak kuat di Museum Omah Munir Jl Bukit Berbunga No. 2  Kota Batu Jawa Timur.

“Advokasi terhadap buruh ini pun dulu juga menjadi konsen kami dalam menghadirkan sosok Munir di museum ini,”ungkap Dimas Andhika Pramayuga selaku perancang grafis museum Omah Munir. Oleh Dimas satu persatu benda peninggalan Munir dikumpulkan. Barang sejarah itu ditata sedemikian rupa menjadi sebuah kronik perjalanan perjuangan buruh.

“Paska kasus Marsinah seingat saya Munir banyak menangani kasus buruh,“terang Dimas yang kini menjadi media official Persedikab Kediri. Namun sejatinya isu perburuhan bukan hal yang baru bagi Munir. Ketertarikannya pada nasib buruh mencuat sejak mahasiswa.

Mulai persoalan pengupahan hingga perlunya buruh berserikat tak pernah luput dari perhatiannya. Bahkan tugas akhir (skripsi) Munir di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (1990) juga mengangkat tema perburuhan. Aktivitas sebagai pembela kaum marjinal itu berlanjut selepas kuliah.

Pada medio 1991-1993 dia menjadi ketua Lembaga Bantuan Hukum Surabaya Pos di Malang. Di masa itu LBH yang dipimpinnya berada di garda depan untuk advokasi buruh. “Ini yang jarang kita ketahui tentang sosok Munir, “tutur Haroky mahasiswa Universitas Brawijaya Malang yang berkunjung ke Omah Munir.

Hal hal kecil menyangkut hak buruh juga tidak lepas dari perhatian Munir. Husein Anis, kawan seperjuangan Munir di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Malang  mengatakan,  Munir getol memperjuangkan jam kerja hingga cuti hamil yang menjadi hak buruh perempuan. Baginya itu semua adalah hak dasar yang harus dipenuhi perusahaan.

“Buruh dulu setahu saya cuti hamil cukup sulit hingga salat jumat pun harus ada shiftnya, itu diperjuangkan oleh Munir,”ungkap Husein dalam film dokumenter Kiri Hijau Kanan Merah produksi Watchdoc. Di medan perjuangan buruh itu juga Munir bertemu Suciwati (1991). Suciwati juga merupakan aktivis buruh.

Benih cinta kedua manusia yang sama sama peduli dengan nasib kaum marjinal itu tumbuh bersemi dan berakhir di pelaminan (1996). Dari wilayah buruh, gerakan perjuangan Munir meluas ke persoalan Hak Azasi Manusia (HAM). Munir mendirikan Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras)

Kegigihannya mengungkap kasus penculikan aktivis 1997-1998 mengusik sejumlah petinggi militer. Munir terbunuh. Dalam penerbangan GA-974 dari Singapura menuju Amsterdam Belanda, Munir ditemukan meninggal dunia (7 September 2004). Dalam tubuhnya ditemukan 460 miligram racun arsenik dosis tinggi.

Untuk menolak lupa kasus HAM yang menimpa Munir, organisasi KASUM yang awalnya untuk membela Marsinah, berganti nama menjadi  Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir. Sudah 15 tahun kepergiannya, quote pejuang kemanusiaan itu masih terkenang dengan jelas. “Kami Sudah Lelah Dengan Kekerasan”. (Moh. Fikri Zulfikar)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.