READING

Mengerek Tenun Kediri ke Pentas Dunia

Mengerek Tenun Kediri ke Pentas Dunia

KEDIRI – Siapa tak kenal tenun Toraja. Kekayaan budaya nusantara ini begitu terkenal hingga ke manca negara sebagai salah satu ciri khas Indonesia. Tak hanya memiliki keragaman corak, teknik pembuatan tenun Toraja yang diturunkan secara turun temurun menjadi nilai lebih produk budaya ini.

Kepopuleran tenun Toraja ini tak bisa dilepaskan dari peran Torajamelo. Kelompok kreatif inilah yang mengendus potensi kekuatan tenun Toraja sebagai seni sekaligus industri yang bisa melejitkan bumi Toraja.

Mereka membina perempuan penenun di daerah-daerah terpencil untuk membuat kain tenun tangan asli yang memiliki banyak ragam keunikan. Hasilnya, tak hanya meningkatkan derajat perekonomian masyarakat, Torajamelo mampu memamerkan hasil karya para penenunnya untuk berdampingan dengan koleksi negara Asia.

Sabtu, 3 November 2018, Dinny Jusuf, pendiri Torajamelo, bertandang ke Kota Kediri. Bukan untuk mencicipi tahu takwa atau menyantap soto Pojok, kedatangan Dinny Jusuf untuk membangun kemegahan tenun ikat Kediri agar bisa melejit seperti tenun Toraja.

Dalam acara Talkshow Membangun Brand yang diprakarsai Dewan Kesenian Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kediri, Dinny Jusuf berbagi kisah perjalanannya membangun Torajamelo. “Saya mendirikan Torajamelo karena melihat masih banyak kemiskinan dan kekerasan yang dialami perempuan di pedesaan. Mereka harus berdaya secara ekonomi,” kenang Dinny.

Tak sekedar tertarik, membangun industri tenun juga harus dilandasi kecintaan pada kain tradisional nusantara. Sebagai Social Enterprise, Torajamelo percaya bahwa kain tenun dapat tetap eksis dan menjadi warisan bangsa yang tak bisa diklaim oleh negara lain.

Kesempatan yang sama juga bisa dilakukan pada tenun ikat Kota Kediri. Melalui langkah serius yang didukung pemerintah daerah, penciptaan branding dan pasar bisa dilakukan dengan cepat.

Ketua Dekranasda Kota Kediri Ferry Silviana Abu Bakar mengatakan persoalan terbesar membangun industri kreatif adalah membentuk kesadaran akan pentingnya brand produk yang dihasilkan. “Termasuk brand tenun ikat kita,” kata Ferry di depan 50 pelaku industri tenun Kediri.

Salah satu upaya menaikkan pamor tenun ikat Kediri adalah menggelar Dhoho Street Fashion. Menyulap jalan raya menjadi bentangan catwalk, Dekranasda Kediri mengundang partisipasi para desainer untuk berkreasi dengan media tenun ikat. Dengan kualitas bahan dan corak kain yang elegan, industrui tenun ikat Kediri diharapkan bisa sejajar dengan tenun Toraja yang telah lebih dulu mendunia. (*)

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.