READING

Menggali Jejak Raja Airlangga di Jombang

Menggali Jejak Raja Airlangga di Jombang

JOMBANG – Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur mengeskavasi situs petirtan yang diduga peninggalan Raja Airlangga di abad 11. Situs ini terpendam di dasar sendang dengan kedalaman 2-3 meter dari permukaan tanah.

Upaya menemukan kembali jejak Raja Airlangga ini bukan perkara mudah. Tim BPCB harus menyisir dengan hati-hati dasar sendang yang masih dipenuhi air. Sendang itu merupakan sarana irigasi yang berstatus tanah kas desa di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang.

Identifikasi patirtan ini berdasarkan pada bentuk situs yang menyerupai parit atau saluran air, dinding pembatas, dan pancuran. Panjang parit yang berhasil digali mencapai 14,1 meter dengan ketinggian 0,69 meter. Sedangkan dinding pembatas patirtan yang berbentuk kotak memiliki ukuran 19,7 x 17,1 meter. Sementara pancuran utamanya berukuran 6×6 meter.

Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog BPCB Jawa Timur yang memimpin ekskavasi menduga situs patirtan ini dibangun sebelum Majapahit. Bahkan besar kemungkinan situs ini didirikan di era Airlangga. “Ada arca pancuran berbentuk Garuda yang merupakan mitologi burung setengah manusia. Sebagai penganut Hindu Syiwa, Airlangga sangat memuja Dewa Wisnu,” kata Wicaksono menjelaskan dugaannya.

Secara kasat mata, arca Garuda yang menempel di dinding patirtan ini masih sempurna. Bahkan bentuk bagian-bagiannya masih terlihat jelas. Tangan kirinya memegang kendi kecil dengan lubang air sebagai pancuran, kaki kirinya menginjak kepala ular, dan tangan kanannya memegang ekor ular. Arca itu terbuat dari batu andesit yang telah tertimbun endapan lumpur dan air dalam waktu lama.

Selain arca, tim eskavasi juga menemukan pecahan keramik porselen yang diduga berbentuk asal guci. Benda itu diperkirakan dibuat pada zaman Dinasti Song dan Yuan yang berkuasa sejak abad 10–13 Masehi dan 13-14 Masehi. Soal usia peradaban benda-benda itu juga dikuatkan dengan penemuan batu bata berukuran lebih besar dari batu bata era Majapahit.

Atas temuan ini BPCB merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Jombang untuk ditetapkan sebagai cagar budaya daerah. “Situs ini unik dan penting. Bukan patirtan biasa, tetapi patirtan bangsawan,” kata Kepala BPCB Jawa Timur Andi Muhammad Said.

Legenda Samudra Manthana

Arca pancuran air Garuda di area Situs Petirtaan Sumberbeji, Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang, Jawa Timur. Foto Jatimplus/Ishommudin

Penemuan arca Garuda di lokasi patirtan ini memicu spekulasi arkeolog tentang kisah Samudra Manthana. Kisah itu menceritakan perjuangan Dewa Wisnu dan raksasa Garuda yang mencari air suci agar hidup kekal.

Keduanya diceritakan harus mengaduk lautan susu menggunakan Gunung Mandhara sebagai poros, dan ular naga yang dililitkan untuk memutar poros. “Agar gunung Mandhara tak tenggelam, Wisnu berubah wujud jadi kura-kura raksasa,” kata Wicaksono yang mendasarkan cerita itu dari Mahabharata.

Wujud kura-kura raksasa itu diduga kuat tergambar dalam temuan situs patirtan di Sumberbeji. Sebab melihat konstruksi batu bata pancuran utamanya, sepintas terlihat sebagai lekukan badan kura-kura.

Selain patirtan dan pecahan guci, tim eskavasi juga menemukan benda-benda lain yang menguatkan kisah itu. Diantaranya adalah reruntuhan menara, arca jaladwara bermotif ukiran kepala naga, dan benda diduga shankha atau hewan kerang sebagai terompet Dewa Wisnu.

Reruntuhan menara diduga menjadi simbol gunung Mandhara. Sedangkan arca jaladwara bermotif kepala naga adalah ular yang menjadi pengikat poros dalam kisah Samudra Manthana.

Penulis : Ishommudin
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.