Menggugat Bonus Palsu PSSI

Sejumlah klub sepak bola menagih pemberian bonus dari PSSI. Tak sedikit yang putus asa bonus itu bakal diterima.

KEDIRI – Beny Kurniawan mondar-mandir di ruang ganti pemain. Wajahnya tegang saat melewati deretan pemain yang bersandar di dinding kamar. Sore itu, kesebelasan Persik tengah menghadapi pertandingan hidup mati memperebutkan posisi Juara Liga 3 di Stadion Wijayakusuma Cilacap, Minggu 30 Desember 2018.

“Kami tegang karena beban yang diamanatkan suporter sangat besar. Ini adalah penentuan kami untuk bangkit atau tetap terpuruk,” kenang Beny Kurniawan saat berkunjung di kantor Redaksi Jatimplus.id di Jalan Banjaran II nomor 38 Kota Kediri, Rabu 27 Maret 2019.

Di tengah tekanan suporter tuan rumah yang memenuhi stadion, Beny memutar otak. Terlintas janji pengurus PSSI yang akan memberikan bonus kepada klub jika memenangkan kompetisi Liga 3. Jumlahnya cukup besar, mencapai Rp 300 juta. Di luar itu, masih ada iming-iming uang tunai sebesar Rp 15 juta yang akan dikantongi pemain terbaik dan top skor.

Spontan dia selipkan bonus itu saat memacu semangat skuadnya agar bermain maksimal meraih kemenangan. Hasilnya, Persik benar-benar menjadi juara Liga 3 meski perolehan angka pada pertandingan itu dimenangkan tuan rumah. Persik unggul agregat 3-2 setelah di leg pertama berhasil meraih kemenangan 3-1.

Namun bukan PSSI jika tak mampu membuat pemain dan klub kecewa. Hingga hampir tiga bulan berselang, janji pemberian bonus tersebut hanya angin lalu. Alih-alih memberi penjelasan kepada klub, pengurus PSSI justru berkelit saat ditagih bonus tersebut. “Kami tak pernah berhenti menanyakan ke PSSI, tapi selalu diminta sabar,” kata Beny.

Manager Persik Kediri Beny Kurniawan saat berdiskusi di kantor Redaksi Jatimplus.id

Komitmen pengurus PSSI untuk mencairkan bonus sebelum perhelatan Kongres PSSI di Bali pada hari Minggu, 20 Januari 2019, juga tak terbukti. Padahal janji tersebut disampaikan sendiri oleh petinggi PSSI sebelum memulai kongres.

Saat ini tak ada pilihan bagi manajemen dan pemain Persik yang menjadi korban “PHP” PSSI. Mereka harus sabar menunggu, meski tengara ke arah sana makin jauh.

Setidaknya Persik tak sendiri. Dua klub lain di Jawa Timur turut menjadi korban bonus palsu pengurus PSSI. Mereka adalah kesebelasan Persatu Tuban dan Blitar United.  

Fahmi Fikroni, manager Persatu Tuban bahkan sampai tak ingat persis berapa nilai bonus yang dijanjikan PSSI kepada klubnya. “Mulai awal kompetisi liga tiga sampai sekarang kami tak pernah terima sepeserpun,” katanya saat dihubungi Jatimplus.

Salah satu item yang dia ingat adalah janji PSSI untuk memberikan subsidi kepada Persatu Tuban jika berhasil masuk ke babak delapan besar. Termasuk bonus prestasi saat mengikuti laga Piala Indonesia yang hanya pepesan kosong.

Manajemen Persatu Tuban sudah sering menanyakan hak tersebut kepada pengurus PSSI. Namun sama seperti yang disampaikan kepada manajemen Persik, pengurus PSSI terus mengumbar janji yang tak pernah ditepati.

Bagi klub yang tak terlalu surplus seperti Persatu Tuban, bonus dan subsidi yang dijanjikan PSSI tentu sangat bermanfaat. Sehari-hari pengurus masih harus dipusingkan soal biaya untuk menghidupi pemain. Sementara kesempatan mendapat sponsor juga tak sebesar tim elit yang telah lebih dulu populer.

“Kalau ingin kompetisi sehat, semuanya harus dipersiapkan sejak awal. Saya berharap ke depan tak seperti ini,” keluh Fahmi.

Tabiat PSSI yang gemar menebar janji palsu ini direaksi Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi. Dia mendesak kepada PSSI agar segera membayar hadiah bonus kepada Persik Kediri yang telah dijanjikan. “Kalau itu sudah menjadi hak Persik, apalagi menjadi juara, saya kira PSSI harus segera membayar, tidak boleh lagi ditunda,” tegas Imam Nahrawi di Kediri beberapa waktu lalu.

Menpora juga mengultimatum badan yang mengurusi sepakbola ini agar tak mengulangi kebiasaan lama, menunda pembayaran bonus yang mestinya diberikan kepada klub.

“Jangan mengulangi kebiasaan lama yang dulu satu tahun kemudian baru diberikan. Apalagi klub itu tentu ingin eksis. Dan eksis itu harus sehat dari sisi keuangan, karena mereka akan mempersiapkan tim, melakukan perbaikan managemen,” katanya.

Saat ini tak ada pilihan yang lebih rasional bagi klub selain berusaha sendiri menghidupi pemain. Termasuk Persik. Manajemen tim ini tengah berbenah untuk membangun tatanan organisasi yang lebih profesional, sehat, dan transparan. Salah satunya dengan merekrut tenaga profesional untuk mengelola bisnis agar berjalan sesuai harapan. (Hari Tri Wasono)


RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.