READING

“Menggugat” Patung Yang Tak Mirip Bung Karno

“Menggugat” Patung Yang Tak Mirip Bung Karno

APA yang salah dari sebuah patung?. Tentu tidak ada. Toh, juga hanya karya seni. Benda mati. Buat apa dimusuhi, digugat, dilawan, apalagi sampai repot repot berfikir merobohkan. Lagipula, Blitar bukan Tuban dimana sebuah patung dipaksa diblongsong kain dengan alasan agar tidak menganggu iman.

Namun jika patung itu tidak mirip dengan sosok yang dipatungkan, itu baru persoalan. Terutama sosok yang diduplikasi itu seorang founding father, bapak bangsa, tokoh bangsa, Proklamator RI Bung Karno (BK) yang  juga ayah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri.

Apalagi  Blitar didaku sebagai dapur nasionalisme. Sebuah patung BK afdolnya harus serapat mungkin mendekati potretnya. Kalaupun tidak persis betul, setidaknya orang melintas akan berujar, “Oh, itu Pak Karno ya”. Atau ibu ibu muda yang sedang jalan jalan sore, reflek berseloroh, “Bung Besar memang gagah”.

Asumsinya, seni patung berbeda dengan seni batik, khususnya batik tulis. Kalau batik tulis, bolehlah tidak presisi, guratan canting tidak persis sama. Ketidaksamaan justru melambungkan nilai seni. Secara ekonomis lebih mahal dibanding batik cap atau printing yang motifnya dijamin seragam, tanpa meleset seinci pun.

Tapi kalau seni patung, apalagi yang dibuat patung tokoh bangsa (Bung Karno), tentu ada kesakralan sejarah yang patut dijaga. Karenannya kata anggota Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Blitar Mujib, tidak boleh sembarangan. Tidak boleh serampangan. Pembuatan patung bapak bangsa harus melalui kajian matang.

Gunanya untuk menghindari ketidakmiripan atau kesan wagu, tidak sedap dipandang. “Pemasangan patung orang, apalagi tokoh bangsa, tidak boleh sembarangan. Kudu ada yoninya kalau orang Jawa bilang, “tutur Mujib mengaku kecewa dengan patung BK yang berdiri di depan Kantor Pemkab Blitar.

Patung perunggu setinggi 9 meter itu baru dua bulan berdiri. Di patung itu, sosok BK mengenakan baju potongan ganefo, dengan tongkat komando tersengkelit di tangan kiri, dan posisi muka setengah serong ke arah kiblat, seolah menghindari tatapan.

Informasinya patung BK itu dibuat di pulau dewata. Entah digarap oleh seniman Bali atau pulau dewata hanya menjadi tempat produksi, belum ada keterangan pasti. Yang pasti untuk pembuatan patung itu, Pemkab Blitar merogoh kocek Rp 1,7 miliar.

Seperti yang dikecewakan Mujib, gestur wajah patung BK itu memang tidak mirip.

Tepatnya tidak mendekati kepersisan wajah BK. Mulai dari dokumen foto BK yang beredar di Museum Bung Karno Kota Blitar maupun yang tercetak di buku buku sejarah, tidak ada yang sama.

Juga tidak sama dengan patung BK hasil karya Pemerintah Kota Blitar. Entah rupa patung BK ini seperti wajah siapa. Bahkan dengan berani Mujib mengatakan itu patung bukan seperti patung BK. Baginya ketidakmiripan itu memalukan. Apalagi jika nanti masyarakat mulai bertanya tanya.

Ketidakmiripan dikhawatirkan hanya menjadi bahan olok olok. Tentu tidak lucu jika bapak bangsa, meski itu sebuah patung, menjadi bahan bully bullyan. Untuk menyelamatkan dari respon tidak senonoh itu, Mujib meminta patung BK untuk ditutup kain terpal.

Bahkan bila perlu dia meminta eksekutif membongkar dan membangunnya ulang. Terkait permintaannya itu Mujib mengaku sudah berkomunikasi langsung dengan Bupati Blitar Rijanto. Sebagai bagian masyarakat, dia berhak mengkritisi pembuatan patung bapak bangsa yang menurutnya tidak sesuai harapan.

“Sebaiknya ditutup terpal saja. Atau dibongkar dan dibangun ulang, “tegasnya. Hal senada disampaikan aktivis anti korupsi Blitar Raya Moh Triyanto yang menurutnya pembuatan patung kurang urgent.

Sebagai sebuah simbol memang keberadaan patung BK penting. Namun melestarikan ajaran BK jauh lebih penting. Apalagi dana yang dikucurkan untuk proyek patung itu tergolong fantastis (Rp 1,7 miliar). Karenanya dirinya meminta Badan Pemeriksa Keuangan mengaudit anggaran proyek patung BK.

“Lagipula di Blitar Raya sudah banyak patung Bung Karno. Tentu lebih penting melestarikan ajarannya. Seperti halnya pesan warisi apinya, bukan abunya, “tuturnya.

Sebagai penanggung jawab proyek patung BK Kepala Dinas Pariwisata Pemkab Blitar Luhur Sejati menyangkal jika patung itu jauh dari serupa. Duplikasi patung itu, kata dia tidak mengacu pada foto BK saat berusia tua. Tidak mengacu pada foto yang banyak beredar di masyarakat ketika BK sudah menjadi Presiden RI pertama .

Patung yang ada menjiplak sosok BK ketika masih berusia kisaran 40-50 tahun. “Karenannya beda dengan wajah Bung Karno saat menjabat sebagai presiden atau tua, “dalihnya. Karenanya itu Luhur menolak permintaan legislatif menutup patung BK dengan terpal maupun membangunnya ulang.

Teringat Polemik Wajah Gajah Mada

Polemik wajah Patung Bung Karno yang tidak mirip di Kabupaten Blitar  itu mengingatkan pada polemik wajah Gajah Mada yang dicurigai sebagai wajah Muh Yamin, penulis buku Gajah Mada, Pahlawan Persatuan Nusantara (cetakan pertama tahun 1945).

Ada yang bersyak wasangka, menduga duga,  rupa Mahapatih Kerajaan Majapahit itu sengaja dimiripkan Yamin dengan wajahnya. Namun tudingan itu tentu perlu pengkajian mendalam. Agar terhindar dari tudingan sembrono dan ngawur, harus diuji melalui forum ilmiah.

Kalaupun benar, apa kepentingannya?. Namun sayangnya hal itu sulit dilakukan mengingat Muh Yamin sudah tiada. Kalaupun bisa mengorek pembuktian dengan metode wawancara pemanggilan arwah (imajiner), tentu hal itu kurang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.    

Versi lain menyebut, wajah Gajah Mada yang dilukiskan Yamin terinspirasi dari terakota kuno yang berada di museum Majapahit Trowulan Mojokerto. Sebuah terakota berwajah manusia berpipi tembem bulat, yang berfungsi sebagai celengan. Celengan kuno itu ditemukan di sekitar Candi Wringin Lawang, Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan.

Namun benarkah wajah seorang tokoh yang namanya lebih kesohor dari rajanya (Hayam Wuruk) hanya diambil dari sebuah celengan?. Tentu hal itu juga perlu kajian mendalam.

Selain celengan kuno, di museum Trowulan juga terdapat 8 arca kepala peninggalan Kerajaan Majapahit. Dimungkinkan Yamin mengadopsi wajah Gajah Mada dari salah satu arca.

Sejawaran Agus Aris Munandar dalam bukunya, “Gajah Mada, Biografi Politik” menyebut, sosok dan gestur Gajah Mada bersumber dari Arca Perwujudan yang ditemukan di situs Gunung Penanggungan. Gajah Mada diwujudkan ke dalam arca Brajanata atau Bima.

Gambarannya berciri badan tegap, kumis melintang dan rambut ikal berombak. Sebuah ikatan rambut dan pita yang membentuk serupa tekes bertengger di puncak kepala.

Kembali pada persoalan patung BK di Kabupaten Blitar yang tidak mirip. Kalau memang tidak mirip wajah BK, lantas mirip siapa?. Apakah lebih mirip wajah Bupati Blitar?, atau pejabat pejabat Pemkab Blitar?, sepertinya juga tidak.

Lalu apakah dibiarkan saja menjadi misteri, atau menunggu datangnya reaksi masyarakat, yakni khususnya para pecinta dan pengagum BK yang beramai ramai menolaknya?. Tentu kewenangan ada ditangan pemangku kebijakan.

Politisi Gerindra Mujib menambahkan, dirinya dan masyarakat Blitar hanya bisa bersuara. Meski sebagai wakil rakyat, dirinya mengaku tidak memiliki kewenangan apa apa. “Semua kembali kepada pemerintah. Masyarakat termasuk saya hanya punya suara. Tidak punya kewenangan, “katanya. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.