READING

Menghadirkan Sapi di Kebun Sawit, Upaya Membangun ...

Menghadirkan Sapi di Kebun Sawit, Upaya Membangun Kebun Berkelanjutan

Tahun 2015, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) meluncurkan RSPO NEXT sebagai kriteria tambahan sukarela pada prinsip dan kriteria RSPO (RSPO P&C). Kebijakan RSPO NEXT ini meliputi 7 faktor yang harus dipenuhi oleh anggota RSPO yaitu tidak ada deforestrasi, tidak melakukan penanam di lahan gambut, tanpa melakukan land clearing dengan pembakaran, mengurangi gas rumah kaca, penghormatan kepada hak petani kecil dan pekerja, tidak menggunakan Paraquat-pestisida yang dilarang di Uni Eropa, dan peningkatan transparansi hingga ke perkebunan.

Jatimplus.ID mengajak pembaca untuk melihat sebuah praktik perkebunan sawit seluas 8000 hektar di Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara yang menerapkan SISS (Sistem Integrasi Sapi dan Sawit). Perkebunan ini “melibatkan” sapi dalam proses produksinya.

Kehadiran sapi dalam tata kelola perkebunan sebagai tenaga kerja pengangkut hasil panen. Tenaga khususnya tenaga angkut TBS (Tandan Buah Segar) menjadi kebutuhan terbesar dalam prosentasi kebutuan tenaga di kebun sawit. Awalnya dengan tenaga manusia sebab medan yang tak semua rata. Namun kemampuannya terbatas.  Akhirnya dengan gerobag sapi sebagai solusi.

Sapi-sapi ini diberi pakan dari komponen organik sisa dari proses produksi sawit. Kemudian sapi-sapi ini “mengembalikan” material organik yang dimakannya ke kebun berupa pupuk kandang yang memperbaiki struktur tanah.

Mengembalikan kembali relasi antara tanah, tumbuhan, satwa, dan manusia dalam jejaring kehidupan. Tumbuhan (sawit) mengasilkan makanan untuk sapi. Selanjutnya sapi menghasilkan tenaga untuk mengangkut TBS (Tandan Buah Segar) dari pohon ke TPH (Tempat Pengumpulan Hasil), tak menggunakan kendaraan bermotor sehingga mengurangi bahan bakar fosil yang menimbulkan gas rumah kaca. Dari TPH ini diangkut ke pabrik yang berada di dalam lingkungan kebun dengan truk.

 Sapi pun menghasilkan kotoran yang kembali ke kebun sebagai pupuk kandang sehingga mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis. Bahkan, kotoran ini pernah dimanfaatkan untuk membuat biogas yang menghidupi kompor karyawan meski upaya ini tidak dilanjutkan lagi sebab membutuhkan kotoran yang dikumpulkan dalam satu tempat.

Tak hanya itu, sapi-sapi yang menjadi hak milik karyawan ini bisa menjadi tabungan hari tua. Seorang karyawan bisa memiliki 40 ekor sapi yang digembalakan di dalam kebun bila ia rajin merawatnya. Sebuah penghargaan untuk karyawan yang saling menguntungkan.

Tanpa sapi, pemanen yang kuat hanya bisa mengangkut maksimal 50 tandan per hari, dengan sapi, bisa dua hingga tiga kali lipat. Berat masing-masing tandan sekitar 35kg.

Sapi Meningkatkan Separuh Kinerja Pemanen

Sapi-sapi itu tak mengenakan tali kekang. Mereka bisa bengong di mana saja, duduk menekuk lutut-posisi anggun seekor sapi dari zaman ke zaman atau bahkan memejamkan mata tanpa harus disebut tidur. Kelihatannya menjadi sapi adalah liburan sepanjang hari. Duduk, bengong, mengisi perut bulatnya dengan rumput. Ternyata tidak demikian. Bila kita lihat mereka sedang bersantai, itu karena sapi betina atau pejantan yang sedang tidak bekerja menarik gerobak tandan buah kelapa sawit.

Sapi-sapi itu menggembalakan dirinya di tempat yang ia mau. Betul, menggembalakan dirinya karena begitu mereka dilepas dari kandang, satu kompi (satu rombongan) akan berjalan tenang menuju “lahannya”. Sepanjang perjalanan, mereka merenggut rumput yang dijumpai. Mereka selalu punya kode etik, selalu ada di tempat yang sama setiap harinya. Di bawah tegakan pohon kelapa sawit, sapi-sapi itu menghabiskan siangnya. Hingga senja menjelang, saatnya pemilik menggiringnya pulang, dengan berjalan kaki atau naik sepeda motor. Begitu saban harinya. Demikianlah pemandangan sekilas tentang SISS di PT. Agricinal, Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu Utara.

Kebun kelapa sawit seluas 6.000 hektar dari luas total lahan 8.904 hektar itu kini dihuni 1.700-an oleh  ekor sapi yang tersebar di 12 Afdeling. Sapi-sapi mudah ditemui di seluruh kebun karena memang dilepas. Sistem peternakan semi intensif yang diterapkan di lahan sawit ini sejak tahun 1999.

“Perkebunan besar rata-rata kekurangan tenaga kerja 10-30%,” kata Nelson Manurung, Direktur Utama PT. Agricinal memulai kisah tentang penerapan SISS di perusahaannya. Semakin hari, buruh akan semakin mahal bila dilihat dari ongkos yang harus dikeluarkan perusahaan. Mencari tenaga kerja untuk bekerja sebagai buruh di sektor perkebunan pun semakin tak mudah. Ada kecenderungan tenaga kerja beralih bekerja di sektor lain. Menurut Nelson, semua perkebunan besar khususnya perkebunan sawit mengalami kendala ini.

Sementara itu, dari sisi buruh pun, kebutuhan hidup semakin meningkat menuntut upah yang semakin tinggi. Penetapan UMR pemerintah terkadang tak mencukupi kebutuhan bila pendapatan hanya didapatkan dari upah yang dibawa pulang dari bekerja sebagai buruh perkebunan. Memandang upah buruh tak bisa satu pihak, dari buruh saja atau dari perusahaan agar solusi yang disepakati merupakan solusi yang menawarkan relasi berkelanjutan.

“Ada penelitian menunjukkan bila sistem budidaya, pengelolaan, benih, dan pemasaran dibenahi, produksi (perkebunan kelapa sawit) bisa naik sampai 30%,” tambah Nelson. Perkebunan ini dimaksudkan sebagai perkebunan inti maupun perkebunan rakyat. Peningkatan produksi tanpa memperluas lahan, artinya mengoptimalkan lahan yang ada.

Perluasan lahan sawit apalagi dengan membuka hutan yang luasannya semakin turun bukan solusi bijak memenuhi permintaan sawit dari pasar domestik maupun dunia. Intensifikasi lahan dengan sinergi dengan manusia yang ada di dalam kebun merupakan langkah yang bisa menaikkan produksi dengan cara lebih ramah lingkungan.

Tahun 1980-an, tepatnya ketika sawit di lahan PT. Agricinal mulai berbuah pasir (buah awal), Nelson sudah memikirkan menambah “tenaga kerja bantuan” yaitu ternak. Memang tak terpuji jika membandingkan tenaga kerja ternak (penghasil tenaga) dengan buruh (manusia). Hanya perlu melihat bahwa ternak dan petani sudah menjalin perkawanan demikian purba. Bukan soal bekerja sama saling menguntungkan tetapi juga menjadi komponen dalam daur ekologi, kotoran ternak menyuburkan tanah.

Pemaparan keuntungan tentang kehadiran sapi di kebun sawit dalam skema SISS  tak semua diterima dan diadopsi oleh semua pengusaha. Beberapa saja yang mau menerapkan. Nelson menerapkan SISS di Agricinal karena menjadi salah satu solusi masalah tenaga kerja, khususnya tenaga kerja panen. Ketika tenaga pemanen dibantu oleh sapi, maka kinerjanya semakin meningkat sampai 50% karena tak mudah lelah. Selebihnya, karyawan akan diuntungkan dengan adanya sapi, bisa menjadi investasi masa depan. Ternak sapi di kebun sawit tidak akan merugikan perusahaan, malah akan terbantu ketika kinerja karyawan meningkat.

“Upah sekarang tidak akan cukup untuk hari tua. Kerja (buruh perkebunan) hanya untuk hari ini. Dengan ternak nantinya penghasilannya jadi dua, kerja sebagai karyawan dan sebagai peternak. Target saya untuk buruh, penghasilan bisa Rp 9 juta per bulan,” kata Nelson. Target tersebut bisa dipenuhi ketika jumlah sapi yang ada di Agricinal mencapi jumlah optimal dan dikelola secara industri.

Dimulai dari Prestis Seekor Sapi

“Sapi sudah ada kawasan PT. Agricinal sejak tahun 1997,” kata Samuel, Wakil Kepala Bidang Peternakan PT. Agricinal memulai kisahnya. Sapi-sapi itu bukan dalam rangkan SISS tetapi inisiatif dari karyawan sendiri untuk memiliki sapi. Karyawan membeli sapi satu atau dua ekor sebagai ternak sekaligus investasi. Karyawan yang memiliki sapi ini kebanyakan karyawan yang berasal dari Jawa.

Kultur Jawa, sapi merupakan gengsi, kekayaan, ternak, dan juga investasi. Bagi masyarakat Jawa, punya sapi seperti punya mobil mewah. Semakin banyak sapinya, dia semakin kaya. Sapi identik dengan klangenan (hobi) laki-laki. Bahkan tak jarang membuat istrinya cemburu ketika suami-suami mereka lebih konsen ke sapi-sapinya. “Lebih suka melihat pantat sapi daripada pantat istri,” celetukkan macam itu sudah lazim di petani perempuan Jawa. Konsen di sini tidak hanya soal waktu, tetapi juga soal alokasi dana. Bisa jadi, saking maniaknya pada sapi, para laki-laki akan memperketat belanja untuk istrinya, menabung, demi membeli sapi. Demikian arti sapi bagi petani tradisional Jawa.

Rupanya kultur itu pun dibawa hingga ke Bengkulu, ketika mereka menjadi karyawan di perusahaan sawit. Kultur ini kelak yang menjadi dasar para petani Jawa (untuk tidak bermaksud rasis) lebih dahulu berhasil menjalankan SISS karena memang sudah punya modal awal, interaksi dengan sapi secara alami dibanding dengan petani di luar Jawa. Meskipun kemudian semuanya bisa dipelajari dan berproses. Sebelum resmi program SISS dilakukan di PT. Agricinal, perusahaan mengizinkan untuk memelihara sapi secara perorangan dan menggembalakan di kebun sawit ketika sawit sudah mulai panen. Pohonnya sudah tinggi sehingga tidak merusak sedangkan pakan tersedia. Rumput, daun sawit, dan pelepah merupakan makanan melimpah untuk sapi.

Mulyadi, salah satu peternak, sudah merawat sapi. Dulu ia merawat sapi milik neneknya, menggembalakan dan mencarikan rumput. Makanya ketika SISS masuk ke Agricinal, ia sudah terbiasa merawat sapi. Petugas Bidang Peternakan ini kini memiliki 42 ekor sapi, termasuk pemilik sapi terbanyak di PT Agricinal.

Mulyadi menyapa Bengkulu melalui program transmigrasi pada tahun 1982. Hanya baru bergabung di Agricinal pada tahun 2003. “Saya menggiring sapi bisa lama. Mencarinya saja sampai 1 jam,” katanya. Hanya itu memberikan hiburan baginya. Sapi-sapi Mulyadi agak bandel. Rombongan itu kerap berpindah-pindah di tempat yang tidak terduga sehingga perlu waktu mencari.

Seorang gembala menggiring sapi pulang ke kandang setiap malam agar mempermudah penjagaan.

Kilas Balik SISS di PT. Agricinal

Tahun 1997, secara resmi PT Agricinal mengintroduksi ternak sapi ke dalam perkebunan. Tujuan utama introduksi sapi untuk efisiensi pengangkutan hasil panen TBS (Tandan Buah Segar). Pengembangan sapi dilakukan melalui pola kredit dari perusahaan kepada pemanen dengan skala usaha 3 ekor induk per pemanen. Administrasinya diurus oleh koperasi perusahaan. Koperasi ini berperan sebagai manajer untuk menangani kredit dengan jangka waktu 4 tahun dan bunga kredit sebesar 19% per tahun.

Jenis sapi yang dipilih adalah sapi bali, sebab sapi bali mudah beradaptasi di Bengkulu Utara. Rekomendasi para pakar peternakan menyarankan untuk beternak sapi lokal, antara lain sapi bali. Jumlah sapi yang diintroduksi pada tahun 1997 sebanyak 151 ekor betina dan 12 ekor jantan. Pada tahun 2003 pengadaan sapi telah mencapai 1333 ekor betina dan 55 ekor jantan. Dari total pengadaan tersebut, telah berkembang menjadi 2.814 ekor. Kini, data terakhir (2017) justru mengalami penurunan yaitu sejumlah 1700-an ekor. Jumlah ini berubah-ubah, hanya penurunan memang tinggi disebabkan terutama karena peternak menjualnya untuk berbagai kebutuhan.

Pemeliharaan sapi di lahan kebun sawit ini menguntungkan karyawan dan juga perusahaan. Pola pengembangan sapi dilakukan dengan orientasi pada ekonomi kerakyatan yaitu sapi menjadi milik pemanen dan petani plasma dengan skema kredit, kegiatan peternakan dihimpun dalam wadah koperasi, dan perusahaan berperan sebagai pengadaan dan pemasaran sapi. Khusus untuk pemasaran, tahun ini masih orientasi ke dalam perusahaan. Sapi-sapi yang dijual karyawan melalui koperasi akan dibeli karyawan kembali.

Kehadiran sapi mengubah organisasi pekerja khususnya dalam hal sistem panen. Pada awalnya menggunakan sistem ancak giring diubah menjadi ancak tetap. Ancak giring gambarannya bahwa setiap pemanen melaksanakan pekerjaan panen seluas 10 hektar, sedangkan pada ancak tetap setiap pemanen bisa bekerja dengan luas 15 hektar dengan bantuan sapi.

Pemanfaatan sapi ini secara langsung dirasakan oleh pemanen. Efisiensi pengangkutan TBS ke TPH meningkatkan peningkatan pendapatan pemanen sekitar 50% melalui penerimaan upah panen. Peningkatan pendapatan ini memberikan peningkatan pada kepemilikan sapi, pemanen punya uang lebih untuk menambah jumlah sapinya, dari 3 ekor menjadi 5-6 ekor per kepala keluarga. Selain itu, peningkatan pemenuhan kebutuhan sekunder misalnya kepemilikan sepada motor, TV, bahkan pembelian tanah.

Barisan gerobag sapi mengawali pagi diiringi para pemanen yang siap ke kebun.

Efisiensi pengangkutan TBS dengan menggunakan tenaga sapi meningkatkan jumlah luasan hasil panen, sehingga komponen biaya upah tenaga kerja bagi perusahaan bisa ditekan. Penggunaan gerobak yang ditarik oleh sapi untuk mengangkut TBS ke TPH (Tempat Penampungan Hasil) berpeluang memperkecil luasan jalan, sehingga memungkinkan efisiensi lahan sekitar 5-10%. Lahan yang tidak digunakan sebagai jalan bisa ditanami dengan sawit sehingga meningkatkan hasil.

Perkebunan sawit mempunyai potensi besar untuk menyediakan sumber pakan yang berasal dari hasil samping pelepah, daun, maupun limbah pabrik. Dalam makalah berjudul Pengkajian Pengembangan Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi, 2003, mencatat bahwa bahan kering yang dihasilkan berpotensi untuk memberi pakan sapi sebanyak 1-3 ekor/hektar. Kebutuhan tenaga kerja sapi adalah 1 ekor untuk 15 hektar. Dengan demikian dilihat dari ketersediaan pakan, setiap keluarga berpotensi untuk memelihara sapi sebanyak 14 ekor sepanjang tahun. 

Pengembangan usaha cow-calf operation (semi intensif) di PT. Agricinal praktis tidak memerlukann biaya pakan karena menggunakan zero waste dan zero cost. Pakan didapatkan dari hijauan kebun dan limbah pabrik. Bila pengadaan sapi dilakukan melalui cara kredit komersial, maka peternak memperoleh pendapatan sebagai tenaga kerja (opportunity cost), walaupun secara nyata tidak mengeluarkan biaya pakan yang dapat mencapai 70% dari biaya produksi.

Teks/Foto: Titik Kartitiani
Editor: Prasto Wardoyo

Catatan: Makalah berjudul Pengkajian Pengembangan Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi disusun oleh Kusuma Diwyanto (Puslitbang Peternakan Bogor), Dapot Sitompul (PT. Agricinal), Ishak Manti dan Wayan Mathius (BPTP Prop. Bengkulu), Soetoro (Balai Penelitian Ternak Bogor), disampaikan dalam Lokakarya Nasional SISS, Bengkulu, 9-10 September 2003.

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.