READING

Menginap di Riche Hotel Malang, Dekat Kemana-mana

Menginap di Riche Hotel Malang, Dekat Kemana-mana

MALANG – Seorang motivator marketing yang tak sengaja saya tonton di televisi berujar, ada tiga syarat produk properti itu laku. Yaitu lokasi, lokasi, lokasi. Yup, intinya lokasi strategis adalah alasan utama orang untuk  memilih sebuah tempat. Dan kalau bicara salah satu tempat menginap paling strategis untuk berwisata di Kota Malang, saya pasti akan merekomendasikan Riche Hotel. Kita menang banyak kalau menginap di hotel yang telah ada sejak sejak era kolonial ini. Selain bisa menikmati keindahan bangunan vintage-nya, letaknya juga di tengah kota, dikelilingi oleh tempat-tempat ikonik di Kota Malang. Well guys, let’s pack your stuff, yuk liburan ke Kota Malang !

Salah satu sudut ruangan di lobby Riche Hotel.

Kota Malang adalah tempat favorit untuk berlibur, terutama bagi orang-orang yang tinggal di kota-kota sekitar Malang seperti kota tercinta saya, Kediri. Tempatnya sejuk, seni budaya dan tradisinya masih terjaga baik, banyak bangunan kuno dengan arsitektur keren, dan ini yang paling penting, kulinernya juga beraneka ragam dan enak-enak.  Eh tapi kombinasi tempat sejuk dan makanan enak mungkin kurang pas ya bagi sebagian orang yang sedang berdiet, hehehe. Saking asiknya kota ini, bahkan para ekspatriat jaman dulu menjulukinya Paris Van East Java. Kalau di Jawa Barat ada Kota Bandung yang mempunyai julukan serupa, maka di Jawa timur kita punya Kota Malang.

Lobby Riche Hotel dengan mebel-mebel lama yang terawat baik, siap menyambut tamu hotel.

Salah satu bangunan yang menjadi saksi sejarah tumbuh kembangnya Kota Malang hingga berwujud seperti sekarang ini adalah Riche Hotel. Berdiri sejak tahun 1933, hotel ini layak dinobatkan sebagai hotel tertua di Kota Malang yang masih terjaga orisinalitasnya. Tidak seperti hotel tua lainnya di Kota Malang yang berganti nama dan bentuk bangunan, Hingga saat ini, bisa dibilang 80% bangunan Riche Hotel masih otentik, berasitektur belanda. Hanya sedikit bagian depan yang mengalami perombakan. Yang paling mencuri perhatian dari hotel ini adalah interior vintage Cafe Oey di teras bagian depan hotel. Saat sedang menikmati secangkir kopi disini, saya seperti sedang duduk di sebuah kafe pojok boulevard Saint German di Paris. Nama Oey diambil dari Oey Pek Hong, pengusaha keturunan Tionghoa yang membeli hotel ini dari pemilik aslinya di tahun 1975 dan merestorasinya hingga berwujud seperti sekarang ini.

Cafe Oey yang terletak di teras Riche Hotel, diambil dari nama Oey Pek Hong, pengusaha keturunan Tionghoa yang merestorasi hotel ini tahun 1975.

Di era kolonial Belanda, hotel ini menjadi favorit bangsa Eropa yang berkunjung ke Kota Malang, karena letaknya di kawasan alun-alun  yang menjadi pusat kota, di mana sekelilingnya terdapat gedung-gedung penunjang kehidupan kolonial seperti kantor asisten residen, kantor bupati, penjara, tempat ibadah, dan tempat hiburan bernama societeit. Societeit adalah tempat dansa-dansi yang biasanya dilengkapi meja biliar dan bar. Primadona sosieteit saat itu adalah Concordia yang letaknya tepat di seberang Riche Hotel. Selain berfungsi sebagai sarana hiburan, Concordia juga menjadi tempat para elite bangsa Eropa untuk bercengkerama dan bersosialisasi. Namun kini, bangunan itu telah tiada, berganti rupa menjadi pusat perbelanjaan bernama Plaza Sarinah.

Gerbang masuk hotel. di seberang nampak Plaza Sarinah yang dulunya adalah Sosietiet Concordia, tempat hiburan kaum elit Eropa di jaman kolonial.

Kini suasana di sekitar Riche Hotel sudah banyak berubah. Mulai bermunculan bangunan-bangunan modern di sepanjang jalan Jend. Basuki Rahmat, area dimana hotel tersebut berada. Mengapa di awal saya sebut hotel ini sangat strategis? karena hanya selemparan batu dari hotel, banyak kita jumpai tempat-tempat unik dan ikonik dari Kota Malang yang layak untuk dikunjungi. Cukup dengan berjalan kaki tak lebih dari 1 kilometer jauhnya, kita sudah bisa menikmati indahnya arsitektur Gereja Katolik Hati Kudus Yesus, megahnya Masjid Agung Jami, dan asrinya alun-alun Merdeka. Bagi yang suka mengubek-ubek pasar, pasti akan terpuaskan dengan mengunjungi pasar burung Splindit yang letaknya tak jauh juga dari hotel. Sedangkan bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana Malang termpo dulu, bisa mengekplorasi Kampung Wisata Heritage Kayutangan yang lokasinya tepat di belakang hotel.

Pasar Burung Splindit, tempat bagi yang ingin mencari pengalaman wisata unik di Kota Malang.

Bagi yang hobi wisata kuliner, tempat-tempat jajan di sekitar Riche Hotel sangat memanjakan lidah. Hanya beberapa jengkal dari hotel, terdapat Toko Oen. Berdiri sejak 1930, suasana restoran ini kental dengan nuansa tempo dulu. Bahkan beberapa menunya masih menggunakan bahasa Belanda. Cobalah Risoles atau Es Krimnya yang legendaris. Bergeser sedikit di seberang alun-alun, akan kita jumpai Depot Hok Lay. Menu utamanya adalah Cwie Mie dan Lumpia Semarang. Namun yang justru paling legend dari depot ini adalah Fosco, yaitu racikan susu coklat segar dalam botol Coca-Cola. Melangkah agak jauh di sekitar Pasar Besar, akan kita jumpai jujugan para penggemar rawon sejati, yaitu Rawon Nguling. Selain itu ada juga Nasi Buk Gang Semarang. Bagi yang mau blusukan ke Pasar Besar, terdapat “mutiara kuliner terpendam” yaitu Warung H. Ridwan yang telah ada sejak tahun 1925 (!) Cobalah Sate Komoh atau Krengsengan Sapi-nya, dijamin nagih. Menutup petualangan kuliner kita hari ini bisa dicoba semangkuk hangat Wedang Ronde Titoni untuk mengusir dinginnya udara Kota Malang di malam hari.

Bagi yang ingin merasakan nuansa Malang tempo dulu, bisa berkunjung ke Kampung Wisata Heritage Kayutangan, yang lokasinya tak jauh dari Riche Hotel.

Ibarat mantan yang susah move-on, Riche Hotel berdiri di antara bangunan yang telah banyak berganti rupa, namun dia sendiri tetap terjebak di masa lalu. Tapi walau bangunannya kuno, jangan salah, fasilitas disini tak kalah dengan hotel-hotel masa kini. Di tiap kamar tersedia akses internet, AC, LED TV, tempat tidur nyaman, dan kamar mandi modern. Selain itu ada juga meeting room, cafe, restoran, dan pelayanan spa. Tingginya nilai historis Riche Hotel tak membuat tarif menginap di hotel ini ikutan tinggi. Cukup dengan dua ratus ribuan per malam, kita sudah bisa menikmati pengalaman menginap di hotel dengan nuansa tempo dulu yang tak terlupakan.

Interior vintage dari Cafe Oey yang Instagramable bagi para pengunjung hotel.

Teks dan Foto oleh Adhi Kusumo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.