READING

Mengingat Paskah dari Katedral Duomo, Sebuah Gedun...

Mengingat Paskah dari Katedral Duomo, Sebuah Gedung Tanpa Ujung

Apa yang ingin dibangun oleh ketergesa-gesaan? Selain hanya terseret sepatu waktu yang berlari semakin cepat. Lebih cepat. Tak lagi sempat mengendap. Terseok. Terpental dari poros ketika kecepatan diri sudah tak bisa mengimbangi. Lalu kesepian datang tanpa salam. Sangat kesepian. Di sisi lain, ada monumen yang dibangun dari sebuah kelambatan yang mengesankan. Waktu 600 tahun membeku. Menjelma tubuh Duomo.

Piazza del Duomo, menjelang tengah malam. Bangunan pualam itu berdiri pucat di bawah cahaya purnama ketika saya mengunjunginya, hari ini setahun silam. Megah. Detail. Bangunan itu seperti kemegahan raksasa yang terus tumbuh. Seperti pohon yang terus bertunas, saat panas dan hujan. Demikianlah Duomo berkisah tentang zaman, tentang Yang Kudus, dan tentang lorong tambang Candoglia.

Saat itu, saya tak banyak menyimpan preteks untuk menjelaskan sesuatu yang seolah-olah tergelar tiba-tiba dengan begitu sempurna. Saya hanya tahu bahwa bangunan ini dibangun selama 600 tahun lebih dan tak selesai hingga kini. Betul, belum selesai. Sebab perbaikan itu terus dilakukan dan ini ada kisahnya sendiri. Kisah tentang marmer dari tambang Candoglia. Sebuah aktivitas yang memutilasi kulit bumi lalu tersaji sebagai pesona.

Salah satu menara dari 135 menara Katedral Duomo.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

Gedung tanpa ujung, istilah yang cocok untuk Duomo. Sementara saya hanyalah seseorang dengan keterpanaan asing, berdiri gemetar di hadapannya. Getar yang susah saya jelaskan. Setahun kemudian baru bisa saya urai satu demi satu ketika menuliskan ingatan ini.

Duomo adalah jantung kota Milan, Italia. Bila dilihat dari udara, maka jalanan utama kota Milan berpusat di katedral ini.  Bangunan yang bisa menampung 40.000 orang di dalamnya. Sebuah kemolekan raksasa yang disusun oleh 135 batang menara, 3.400 buah patung, fasad setinggi 56m, lima aula, 52 interior setinggi 24m, dan 200 lembar relief. Relief yang ada di pintu Duomo inilah hati saya tertambat.

Golden Shake Hand, Isyarat Cinta di Hari Paskah

Duomo mulai dibangun pada tahun 1386 ketika gaya gothik sedang berada di puncak kejayaannya. Hanya saja, Gian Galeazzo Visconti, Lord of Milan pertama yang memerintah Italia Utara, sebagai pemrakarsa pembangunan Duomo ini ingin menampilkan hal yang berbeda. Maka ia memerintahkan Veneranda Fabbrica del Duomo, kontraktor yang ia bangun untuk proyek ini, mengambil marmer dari Candoglia. Duomo dibangun dari marmer, hal yang tak lazim untuk bangunan di Italia saat itu. Di Italia banyak menggunakan batu bata dari suku Lombard yang umum digunakan untuk bangunan gothik. Sejak itulah kulit bumi di Candoglia digali.  

baca juga: Kesenyapan Nan Agung Pada Jumat Agung di Puhsarang

Kisah panjang pembangunan Duomo mencatatkan narasi karya para pemikir, para arsitek, pekerja, dan para pastor yang menghidupkan katedral ini. Meski struktur utuhnya sudah ditetapkan, detail sana sini selalu berubah dari zaman ke zaman. Sebagaimana pada abad ke-20, tepatnya antara tahun 1909 dan 1965. Di tengah konflik yang berkecamuk. Duomo mematut dirinya dengan menambahkan pintu tembaga dengan relief yang sama mengagumkannya sebagaimana yang diwariskan dari abad ke-14.

Seorang fotografer sedang memotret relief di pintu Duomo. Relief yang dibangun pada abad ke-20, salah satu kisah bagaimana Duomo adalah bangunan yang terus tumbuh.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

Seorang fotografer tengah memotret bagian fasad Duomo malam itu. Dengan tenang, tanpa ketergesa-gesaan. Ia pun menyilakan ketika ada pengunjung yang ingin berfoto, menghentikan aktivitas memotretnya, menunggu, lantas memotret kembali. Memotret dengan kecepatan rendah dan diafragma sempit untuk mendapatkan detail relief yang ada. Relief pintu tembaga ini mengisahkan penyaliban Yesus. Kisah yang diperingati mulai dari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, hingga Minggu Paskah.

baca juga: Wisata Yang Bisa Kamu Kunjungi di Sekitar Gereja Puhsarang

Saya muslim. Hanya memandangi kisah di relief itu, ada perasaan teriris. Pun melihat orang-orang yang datang mempersembahkan cinta yang menusuk di bagian entah mana, saya tersentuh. Teman perjalanan saya beragama Kristen segera melepaskan jaketnya. Milan sedang menyambut kedatangan musim semi, hanya bagi tubuh tropis kami tetaplah dingin. Kemudian ia diam, mungkin berdoa, di hadapan relief itu dengan busana serapi mungkin. Hal serupa pun dilakukan oleh pengunjung yang mendekat. Ada yang menggambar tanda salib dengan isyarat tangannya. Ada yang berdoa dengan khusyu’.

Salah satu relief yang menarik bagi saya adalah relief yang menampakkan warna emas dibagian betis. Ada pula di bagian siku Yesus. Tampak bahwa bagian itu kerap diusap. Bila yang mengusap ribuan orang, maka warna tembaga pun berubah menjadi keemasan. Pengunjung menyebutnya ritual “golden shake hand” untuk menunjukkan cintanya pada Yesus. Ini bukan soal kepercayaan bila mengusap akan berakibat tertentu. Bukan itu. Saya melihat sebuah cinta yang  melebihi sekat iman dan percaya.


Bagian yang kerap diusap pengunjung berwana keemasan. Merupakan ritual golden shake hand yang dilakukan untuk menunjukkan cinta pada Yesus Kristus.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

Pun ketika ada narasi yang mengatakan sisi legenda dari Duomo. Ada yang menuliskan bahwa Duomo menyimpan salah paku dari tragedi penyaliban Yesus. Santo Ambrosius sendiri yang menemukannya di tempat kerja tukang pandai besi. Santo Ambrosius merupakan tokoh gereja pada abad ke-4 di Milan yang berpengaruh. Paku ini meski sudah dipalu, namun tak tergores sedikitpun. Paku ini konon tersimpan di sisi kanan dari sebuah lorong di Duomo ini. Ini merupakan eksotika Duomo dari sisi selain keindahan bangunannya. Sisi lainnya adalah kisah tambang tempat keindahan ini berasal.

Kemegahan Duomo dan Lorong Gelap Tambang Candoglia

Marmer yang membangun tubuh Duomo berasal dari Candoglia, sebuah bukit di Val d’Ossola, 50km dari Milan.  Veneranda membutuhkan 100 meter kubik marmer per tahun untuk membangun Duomo. Sejak masa kekuasan Gian Galeazzo yang belum kenal mesin hingga abad mekanisasi yang menghasilkan alat lebih canggih untuk memotong kulit bumi di lembah Candoglia. Dari tempat “mutilasi” ini, potongan-potongan marmer itu diangkut dengan kapal melalui Sungai Toce, Danau Mergozzo, Sungai Ticino. Kemudian menyusuri kanal Vaviglio Grande hingga akhirnya berlabuh di Dermaga Sant’Eustorgio di Milan.

Dengan alur yang masih serupa, bongkahan pualam itu masih berdatangan dari tambang kuno itu untuk memulihkan tubuh Duomo. Betul, memulihkan tubuh sebab hal yang tak diduga oleh Lord of Milan pada saat mencetuskan ide menggunakan materi ini adalah kerapuhannya. Tak sampai 100 tahun, tubuh Duomo itu rontok sedikit demi sedikit. Oleh sebab itu, para kontraktor di Veneranda tetap menambal tubuh Duomo, hingga kini, 600 tahun lebih kemudian.

Tak heran jika kini, galian itu meninggalkan lubang sedalam 150m dengan lebar 30m. Dari rahim kegelapan inilah marmer yang menyusun gemerlapnya Duomo dilahirkan.

Saya tak hendak menghakimi soal tambang dan bagaimana bumi dikuliti demi sebuah kemegahan. Sejenak saja, bagi saya, biarlah Duomo tinggal sebagai ingatan indah yang pernah dilahirkan oleh dunia arsitektur gereja, para arsiteknya, dan para penguasa yang merealisasikan megaproyek ini.

Meski selalu ada yang sinis terhadapnya. Selalu demikian untuk sebuah karya. Sebagaimana Oscar Wilde, penyair Irlandia yang makamnya penuh dengan ribuan atau mungkin jutaan bekas bibir pemujanya. Ia mengunjungi Milan pada tahun 1875 lantas menulis cerita pada ibunya. Terjemahan bebas dari tulisannya, katedral ini adalah sebuah kegagalan yang mengerikan. Desain luarnya buruk dan seperti dibuat oleh orang yang tak tahu seni. Detailnya keterlaluan sehingga malah tidak menghasilkan apa-apa. Ada sesuatu yang keji di dalamnya.

Kita tak harus sepakat dengan Wilde. Hanya saja, kelindan kisah tambang marmer ini hadir bukan untuk mencari pemenang dan pecundang. Namun seyogyanya mengutamakan kemanusiaan dan harapan yang lebih luas, membahagiakan lebih banyak makhluk. Selalu ada sisi lain dari sebuah keindahan.

Peradaban mencatat, semakin nyaman fasilitas yang ditawarkan maka semakin besar biaya eksternalitas yang harus dibayarkan untuk lingkungan, untuk bumi. Semakin mulia sebuah jalan yang ditempuh, maka kepedihan yang harus ditanggung pun semakin dalam. Kadang, kepedihan yang tak bisa tertanggungkan oleh manusia biasa. Di sanalah, kisah penyaliban Yesus untuk mengabadi dan menjadi jalan terang bagi umat yang mengimani-Nya.

Demikianlah catatan kecil saya dari Milan. Dari sebuah kota yang tiap sudutnya adalah desain. Tiap jalan dan lorongnya adalah runway. Sungguh, Milan adalah kota yang demikian modis. (Titik Kartitiani)

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.