READING

Mengintip Tiga Tradisi Besar di Museum Islam Nusan...

Mengintip Tiga Tradisi Besar di Museum Islam Nusantara Jombang

Berbeda dengan negara lain. Islam di tanah Nusantara lebih kaya akan tradisi. Bercorak ragam karena berakulturasi dengan budaya setempat. Saat menjejakkan kaki di Museum KH Hasyim Asy’ari, Jombang, Jawa Timur, sejarah itu terpaparkan dengan gamblang.  

JOMBANG –Setidaknya ada tiga perayaan akbar yang bisa dicermati. Tradisi Grebeg Besar yang biasa dirayakan setiap penanggalan Arab 10 Dzulhijah di Demak. Tradisi mengarak Tabot di Bengkulu, yakni mengenang kepahlawanan Hasan dan Husein, cucu Kanjeng Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Karbala. Serta tradisi mengarak telur hias di Bali dalam rangka menyambut Maulid Nabi.

Visual itu terpahat pada  dinding Museum Islam Nusantara. Terpasang sebagai ornamen jejak sejarah, lengkap dengan narasi keterangan. “Ternyata unik-unik tradisi Islam di nusantara ini,” tutur  Adi Wicaksono pengunjung museum asal Kota Batu menanggapi ornamen yang ada. Adi mengaku terkesan dengan tradisi Islam di Bali.

Mengarak telur hias dalam rangka menyambut kelahiran Nabi Muhammad mengingatkan pada tradisi telur paskah umat Kristiani.  Islam memang memiliki prinsip menentukan kemaslahatan. Diantaranya tidak bertentangan dengan Al Quran, tidak bertentangan dengan Sunnah, tidak bertentangan dengan prinsip Qiyas, dan memperhatikan kemaslahatan yang lebih penting atau besar.

“Dengan kemiripan ini semoga lebih mempererat kerukunan umat beragama. Terlebih di Bali sendiri yang mayoritas warganya Agama Hindu ternyata di sana ada tradisi Islam yang unik dan khas,” kata Adi. Di ruangan lain pengunjung bisa melihat bagaimana Islam tiba di Nusantara dan menyebar dari Sabang sampai Merauke.

Dalam bentuk narasi dan visual, persebaran itu terceritakan mulai era sebelum  Wali Songo hingga para ulama setelah Wali Songo. Penyebaran keyakinan dengan jalan kelembutan. Jalan merangkul. Bukan memukul dan mengintimidasi. “Dari sini kami menjadi tahu bagaimana persebaran Islam di Nusantara itu dimulai,” papar Adi.

Lain halnya dengan Nafisya. Pengunjung asal Surabaya itu lebih menyukai berlama-lama di depan ornamen yang menceritakan tokoh tokoh Islam Nusantara. Pandangannya tertuju kepada Abdul Rauf Singkel. Seorang ulama besar asal Aceh yang memiliki andil besar dalam penyebaran Islam di bumi Swarna Dwipa (Sumatera).

Bukan hanya gayanya berdakwah yang menarik. Ulama yang hidup di masa 1600an itu juga menulis sejumlah kitab yang terkenal. “Terkesan dengan tokoh ini (Abdul Rauf Singkel, Red). Selain beliau menulis naskah tasawuf Tanbih al-Masyi  juga pernah menerjemahkan Hadist Arba’in karya Imam Al-Nawawi,” terangnya.

Langkah Nafisya terhenti di sebuah ruangan yang menampilkan jejak sejarah ulama perempuan Nusantara. Pada profil Ratu Kalinyamat, yakni Bupati Jepara yang juga putri Sultan Demak Trenggono, dia tenggelam. Dalam ornamen dikisahkan bagaimana istri Pangeran Hadiri itu dengan gagah berani mengirimkan bantuan pasukan kepada Kesultanan Johor yang berperang melawan Portugis.    

“Tokoh perempuan seperti Ratu Kalinyamat hingga Laksamana Malahayati ini membangkitkan semangat kami sesama perempuan untuk berjuang di jalan Allah,” katanya takjub. Museum yang diresmikan Presiden Jokowi 18 Desember 2018 lalu itu juga memamerkan peninggalan kesultanan Islam di Nusantara.

Diantaranya sejumlah koin emas dari Kesultanan Aceh dan Kesultanan Banten. Koin yang biasa disebut dirham itu menjadi penanda betapa kerajaan Islam di Nusantara pernah begitu besar. Juga sekaligus sebagai tonggak persebaran Islam.  

Beberapa ruangan yang terlihat menyimpan banyak buku dan kitab terkait Islam Nusantara tampak terkunci. Ruang perpustakaan. Sayang, karena masih tahap penyempurnaan, para pengunjung tertahan di luar. Pengunjung hanya dibolehkan melihat lihat dari luar ruangan. Pihak pengelola museum masih memberlakukan larangan masuk.

“Padahal pengen sekali melihat koleksi buku-bukunya,“ keluh Nafisya yang juga mahasiswi UIN Malang itu. Namun setidaknya masih banyak ruangan lain yang memuaskan. Museum yang berada di komplek Pondok Pesantren Tebu Ireng itu banyak menyediakan spot foto dengan latar tokoh ulama Nusantara hingga pejuang kemerdekaan.

Ada lukisan Pangeran Diponegoro. Ada juga Bung Tomo yang terkenal dengan pidatonya membakar semangat arek-arek Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945. Desain gedung museum yang berbentuk piramida juga tidak kalah menarik perhatian pengunjung.

Reporter: Moh. Fikri Zulfikar
Editor: Mas Garendi

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.