Menikah di Kedai Kopi, Why Not?

KEDIRI – Pernikahan adalah peristiwa paling bersejarah dalam hidup seseorang. Karena itu tak sedikit pasangan di belahan dunia yang melangsungkan pernikahan mereka dengan cara unik.

Di Kediri, Jawa Timur, pasangan Dwi Arief Priyono dan Chaterina Pipit Hapsari baru saja melangsungkan pernikahan unik. Alih-alih memilih gedung atau tempat ibadah, keduanya justru melangsungkan akad nikah di cafe.

Belakangan diketahui alasan pasangan pengantin ini memilih cafe atau kedai kopi sebagai tempat pernikahan mereka. Arief dan Pipit sama-sama menyukai kopi sebagai minuman utama mereka. Bahkan Arief tercatat sebagai salah satu pemilik kedai kopi Setia Kawan (SK Coffee Lab), tempat dilangsungkannya pernikahan.

Tak ingin kehilangan identitas sebagai kedai kopi, pasangan ini bahkan tak menggusur perabot dan peralatan masak yang ada. Para tamu yang hadir harus rela menempati deretan kursi yang ditata di depan meja bar. Sementara lokasi akad nikah hanya berjarak tiga meter dari tempat barista bekerja.

Meski berlangsung sederhana dan unik, pernikahan Arief Priyono dan Pipit pada akhir pekan lalu berjalan khidmat. Petugas dari Kantor Urusan Agama Kota Kediri yang memimpin prosesi ijab kabul juga tak terganggu dengan pelaksanaan pernikahan di kedai kopi.

“Ini bisa menjadi tren pernikahan anak muda. Simple, tak butuh gedung dan tenda yang memakan banyak biaya,” kata Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar yang menjadi saksi pernikahan mereka.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar (kanan) saat menjadi saksi pernikahan. Foto Adhi Kusumo

Tak hanya berkawan dengan Arief Priyono, Abdullah Abu Bakar ternyata menjadi salah satu pelanggan cafe itu. Karenanya wali kota muda ini langsung menyanggupi menjadi saksi pernikahan Arief dan Pipit di tempat nongkrong mereka.

Di tempat ini pula Abdullah Abu Bakar berinteraksi dengan anak-anak muda Kota Kediri. Kepada mereka, Abu Bakar selalu mendorong menjadi enterprenuer yang tak takut gagal dan malu. Termasuk tidak malu untuk bersikap apa adanya, seperti melangsungkan pernikahan di kedai kopi yang tak jamak dilakukan masyarakat sekarang.

Usai ijab kabul berlangsung, para tamu menyebar di bangku-bangku yang ditata di halaman kedai. Mencecap seduhan kopi racikan barista SK, mereka menikmati suasana sore yang tenang dan romantis. Tak ada jarak yang memisahkan para tamu untuk saling berkomunikasi.

Suasana romantis ini berlangsung hingga larut malam. Para tamu yang juga pelanggan cafe hilir mudik mendatangi hari istimewa tersebut. Tak ada hingar bingar elektone dan penyanyi yang berisik. Di bawah bentangan lampu gantung di halaman cafe, mereka larut dalam kebahagiaan mempelai.

Beberapa tamu yang sebagian tak lagi muda turut menikmati pernikahan unik ini. Meski sempat ragu dengan lokasi pernikahan yang dipilih, mereka justru mendapat pengalaman baru menghadiri kondangan. “Asyik juga menikah di cafe. Menggambarkan identitas pengantin yang dinamis dan sangat milenial,” puji Imam Mubarok, jurnalis senior di Kediri yang menghadiri pernikahan koleganya.

Pasangan pengantin berfoto dengan tamu. Foto Adhi Kusumo

Tak hanya mengelola kedai kopi, Arief Priyono juga berprofesi sebagai jurnalis. Dia pernah tercatat sebagai fotografer lembaga kantor berita nasional Antara dan kontributor sejumlah media asing. Kini, di tempatnya mengelola bisnis kopi, Arief membuka ruang belajar fotografi Kelas Pagi yang berjejaring dengan Kelas Pagi bentukan Anton Ismael di Jakarta, Yogyakarta, dan Papua. Fotografer profesional Adhi Kusumo didapuk menjadi mentor di tempat ini.

Sabtu, 2 Maret 2019, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah ini menikahi Chaterina Pipit Hapsari yang berprofesi dokter. Meski berbeda pekerjaan, Arief dan Pipit sama-sama menyukai kopi. “Bahkan pertemuan kami juga di kedai kopi,” kata Pipit.

Jika tak sedang bertugas di salah satu Puskesmas di Kota Kediri, Pipit menghabiskan waktunya di dapur cafe. Dia menyukai memasak untuk disajikan kepada para pengunjung cafe yang sebagian besar anak muda. Tak jarang dia melayani konsultasi kesehatan pelanggannya sebagai bentuk ikatan emosional.

Bagi Arief dan Pipit, kedai kopi yang mereka kelola adalah rumah utama. Meski memiliki tempat tinggal terpisah, keduanya memilih menghabiskan waktu di cafe. “Ketika kami menghidupi kopi, mereka akan menghidupi kami,” pungkas Arief. (*)

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.