READING

Menjemput Lontong Sayur di Kemeriahan CAP GO MEH (...

Menjemput Lontong Sayur di Kemeriahan CAP GO MEH (1)

Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 begitu semarak. Tak sekedar menyantap lontong, warga Tionghoa di Kediri merajut damai di tengah keragaman suku dan agama. Jatimplus mereportase aktivitas di Klenteng Tjoe Hwie Kiong, serta menggali makna peringatan Imlek lebih dalam.

Shi Wu Ye atau Shi Wu Ming atau Cap Go Meh (dalam dialek Hokkian Cap Go Me) berarti malam kelima belas. Di malam bulan purnama itu perayaan tahun baru Imlek atau Sincia ditutup. Uniknya, meski menjadi penutup seluruh rangkaian Imlek, justru Cap Go Meh lah puncaknya.

Sejak Presiden RI Ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut PP No 14 Tahun 1967 dan warga Cunghua (Tionghoa) merdeka merayakan Imlek, Cap Go Meh menjadi bagian perayaan yang paling meriah.

 “Pada perayaan Cap Go Meh semua saudara, kerabat  akan berkumpul. Cap Go Meh merupakan puncak dari Imlek,“ kata  Tjoe Sen Wang atau Halim Prayogo, 29 tahun, Tata Usaha Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri.

Cap Go Meh akan jatuh pada tanggal 19 Februari 2019 mendatang. Cara menghitungnya Imlek yang jatuh tanggal 5 Februari 2019 ditambah 14 hari kedepan.  Di malam menyambut bulan purnama itu, seluruh warga Tionghoa akan kembali berbondong bondong mendatangi Klenteng.

Tidak hanya berdoa. Semua umat akan bersantap lontong sayur. Lontong menjadi penanda perayaan Cap Go Meh. Sebagaimana simbol ketupat yang dipakai umat muslim saat merayakan hari raya Idul Fitri.

Warga Tionghoa memang selalu lekat dengan simbol. Seperti naga yang disimbolkan kekuasaan dan macan sebagai perlindungan. Begitu juga warna merah sebagai kebahagiaan dan hijau sebagai kesuburan. Lontong yang berbentuk bulat diterjemahkan eratnya tali persaudaraan serta keluarga.

Ditambah sayuran dengan wadah piring, lontong Cap Go Meh juga  ditafsirkan bersatunya seluruh keragaman. “Lontong sayur Cap Go Meh tidak hanya untuk warga Tionghoa. Tapi juga dibagi bagikan kepada warga luar Klenteng, “terang Halim yang tidak sabar menyambut perayaan Cap Go Meh.

Aji “Chen” Bromokusumo dalam buku Peranakan Tionghoa dalam Kuliner Nusantara menyebut, munculnya lontong sayur Cap Go Meh dipengaruhi budaya Indonesia (akulturasi).

Di Negeri Tiongkok, perayaan Cap Go Meh menggunakan makanan yuan xiao atau ronde sebagai simbolis. Ronde yang berbentuk bulat, berbahan beras ketan dan lengket, diterjemahkan sebagai satu kesatuan keluarga.

Bagi penduduk Indonesia saat itu mungkin terlihat aneh. Karenanya, untuk memuluskan proses akulturasi, para hoakiau menyesuaikan dengan makanan pokok yang sudah ada, yakni beras nasi. Bulatan ronde dengan kuah daging babi diganti lontong dengan kuah opor ayam serta sayuran.

Pengubahan menu juga untuk menghormati penduduk muslim setempat. Konon tekhnik pembuatan lontong meniru tekhnik pembuatan bakcang atau kicang yang sudah ada ribuan tahun silam. “Saat perayaan Cap Go Meh seluruh klenteng di Indonesia juga menggunakan lontong sayur,“ kata Halim.

Bagi warga Tionghoa, Imlek tidak hanya menyangkut keyakinan. Mengekspresikan kebudayaan juga menjadi bagian yang penting.

Imlek yang populer dengan ucapan gong xi fa cai diyakini sebagai sistem penanggalan yang memberi berkah kepada kehidupan manusia. Sebuah perhitungan keadaan alam dan waktu yang tepat bagi manusia untuk bekerja. Bagi warga Tionghoa, etos kerja menyangkut harkat martabat.

Dengan bekerja manusia memperoleh hasil. Karenanya Tionghoa sejati tidak mengenal kata santai santai, nganggur atau hoream. Tak heran, saking bahagia  atas pencabutan PP No 14 Tahun 1967, warga Klenteng Tay Kak Sie Semarang pernah menggelari Gus Dur sebagai Bapak Tionghoa. 

Halim bercerita, rangkaian perayaan hari raya Imlek ke 2570 ini sama dengan sebelumnya. Urut urutannya cukup panjang. “Seminggu sebelum Imlek, di Klenteng berlangsung upacara menghantarkan dewa dewi ke langit, “papar Halim. Upacara mengantar dewa dewi diikuti dengan memandikan patung dewa dewi yang ada di Klenteng.

Klenteng Tjoe Hwie Kiong menyambut Imlek. Foto Adhi Kusumo

Sebelum dimandikan, ratusan patung itu dikeluarkan dari dalam Klenteng. Setiap  patung diseka dengan kain hingga bersih. Setelah itu dimandikan dengan air bunga. Upacara ini dipimpin pendeta Klenteng dibantu umat.

Mereka yang membantu membersihkan patung dewa ini tidak sembarangan. Saat mengikuti ritual harus dalam keadaan bertirakat, yakni  menjadi vegetarian atau tidak memakan sesuatu yang bernyawa. Bagi perempuan dalam keadaan tidak berhalangan (menstruasi).

 “Memandikan patung dewa dewi itu hanya berlangsung sehari. Pada saat itu semua patung diyakini tidak ada ruhnya,“ kata Halim menjelaskan. Setelah dimandikan air bunga dan dilap hingga kering, semua patung dewa dikembalikan ke tempat semula.

Proses pengembalian ini tidak serta merta bisa dilakukan seperti halnya mengembalikan barang. Ada ritualnya. Dewa diyakini akan menolak ketika penempatan tidak sesuai atau ada persyaratan yang kurang. 

Masih dipimpin pendeta Klenteng, prosesi dilakukan dengan melempar dua bilah kayu. Jika masing maing kayu dalam posisi terbuka dan tertutup, pengembalian dianggap sudah benar. Namun jika kedua bilah bambu dalam keadaan sama sama terbuka atau sama sama tertutup, maka dianggap ada yang salah.

“Biasanya ada yang melakukan kesalahan entah dalam kata kata atau perbuatan. Jika terjadi seperti itu, maka segera dilakukan permintaan maaf,“ jelas Halim. Dalam menyambut tahun baru Imlek, yakni Senin malam (4/2), warga Tionghoa akan bersembahyang di Klenteng.

Ritual akan berlangsung hingga pukul 12 malam atau tepat pembukaan tahun baru Imlek. Bahkan, kata Halim tidak sedikit yang bersembahyang hingga dini hari. Luapan rasa syukur atas limpahan nikmat hidup dipanjatkan setinggi tingginya. “Pas malam imlek itu semua berada di Klenteng,“ paparnya.

Perayaan itu diikuti dengan pemasangan lampion. Lampion disimbolkan sebagai jalan terang.  Bentuk lampion yang bulat seperti gentong air ditafsirkan sebagai harapan kemakmuran, keharmonisan, rezeki melimpah serta terjaganya kesehatan.

Tidak ketinggalan tradisi bagi bagi ang pao, yakni tradisi bagaimana yang tua berbagi kepada yang  muda. Atau juga yang mampu kepada yang kurang mampu. Angpao ini biasanya uang yang ditempatkan dalam amplop merah. Semacam salam tempel di masyarakat Jawa. 

Empat hari setelah Imlek, para dewa dewi diyakini akan kembali turun ke bumi. Mereka membawa kabar suka cita, yakni karma baik bagi umat manusia. Saat itu umat kembali beramai ramai mendatangi Klenteng, menyambut turunnya dewa dewi.

Sembahyang dan doa kembali dipanjatkan. Kali ini umat akan  memohon petunjuk dan panduan hidup yang harus dilakukan ke depan. Selain itu juga mencari tahu kebaikan dan keburukan yang akan terjadi pada tahun 2019 ini.

Namanya Ciamsi. Metodenya dengan menggoyang goyangkan stik kayu di dalam wadah khusus. Setiap stik ada nomor sekaligus terjemahan nasib. Satu stik sengaja  dijatuhkan secara acak, dan kemudian dibacakan peruntungan nasibnya ke depan.

Meski metodenya seperti meramal nasib, Halim mengatakan umat meyakini bukan ramalan. “Biasanya kita akan bertanya kondisi Indonesia ke depan dan khususnya Kota Kediri. Dan ini bukan ramalan,“ jelasnya. Sebelum Cap Go Meh ada lagi rangkaian acara sembahyang King Di Kong atau sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ritual ini berlangsung 7 hari setelah imlek.

Dalam ritual sembahyang ini doa kembali dipanjatkan. Selain kembali mengucap syukur, umat akan bersama sama mendoakan bangsa Indonesia terhindar dari segala malapetaka.  Karena saat ini tahun politik, yakni Pilpres dan Pileg,  doa yang dipanjatkan nanti, kata Halim adalah meminta persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia tetap terjaga.

 “Kita akan berdoa semoga persatuan tetap terjaga. Sebab semua adalah saudara. Perbedaan pilihan dalam pilpres jangan sampai berakibat pada perpecahan. Karena perbedaan politik adalah hal biasa dalam alam demokrasi,“ ungkapnya.

Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri termasuk cagar budaya. Seluruh bangunanya masih asli seperti pertama kali berdiri. Umur Klenteng Tjoe Hwie Kiong diyakini lebih dari 200 tahun, dan tertua diantara seluruh klenteng di wilayah eks karsidenan Kediri. Di Klenteng jugalah seluruh ekspresi keyakinan dan kebudayaan warga Tionghoa terjaga kelestariannya.  (*)     

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.