READING

Menurut Gus Miek, Usaha Kuliner Punya “Kadar Halal...

Menurut Gus Miek, Usaha Kuliner Punya “Kadar Halal 120%”

Ironi pada Bulan Ramadhan, bukannya hemat malah boros. Lebih lapar mata dan tak jarang jadi gendut, baik gendut badan maupun gendut pengeluaran. Entah, duluan mana antara hasrat makan enak saat buka dan tersedianya beragam penjual ta’jil yang menggiurkan. Yang jelas, bisnis kuliner termasuk salah satu bisnis yang disarankan Gus Miek untuk jamaahnya.

KH. Agus Tijani Robet Saifun Nawas (Gus Robert) mengenakan topi laken, jaket kulit, dan bercelana warna gelap ketika saya menemuinya untuk pertama kalinya dan juga pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sebetulnya tampilan ini jauh dari prediksi saya, meski saya sudah mendengar banyak tentang kenyentrikan ayahnya, Gus Miek (KH. Hamim Djazuli) sebagai ulama yang sangat disegani. Sore itu, saya membayangkan akan bertemu dengan seorang ulama berpeci, bersarung, dan berkalung scarf. Gus Robert tak mengenakan “identitas” tersebut dalam kesehariannya. Meski kemudian menjadi mudah dikenali bahwa dia adalah salah satu pengasuh Pondok Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur ketika bertemu para santri maupun umat di mana pun berada, mereka akan mencium tangannya.

Menurut Ayu Weda, lady rocker era tahun 1990-an yang pernah mondok di Al-Falah, Gus Miek dhawuh (memerintahkan) pada para santrinya untuk selalu tampil keren. Hal yang selalu ditunjukkan Gus Miek adalam setiap kesempatan. Meski umat masih miskin dalam arti tak punya harta, tak punya busana bermerek, harus tetap berbusana rapi, bersih, dan tidak menampilkan tampang yang menerbitkan belas kasihan. Mungkin ini hal “remeh” di antara ajaran “serius” di lingkungan para pembaca kitab kuning ini.

Dzikrul Ghofilin merupakan metode dakwah yang dilakukan Gus Miek dan masih dilakukan hingga kini dan dihadiri oleh ribuan jema’ah dari berbagai kota.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI

“Gus Miek mengamalkan dhawuh Rasululloh pada umatnya. Haram bagi umat Muhammad menampilkan kefakirannya walaupun tidak punya apa-apa, harus tetap memerhatikan penampilan,” kata Gus Robert menyebukan dhawuh pertama Rosululloh yang diamalkan Gus Miek pada umatnya di antara 3 dhawuh lainnya. 

Tak hanya dalam penampilan, Gus Miek pun membangun sebuah fondasi ekonomi yang kuat untuk para jamaahnya. Hal yang kerap luput dari perhatian pengikutknya ketika cerita-cerita kontroversi dan keajaiban Gus Miek (karomah) yang lebih banyak ditulis. Meski karomah memang milik para wali seperti Gus Miek, di sisi lain, ia pun mendidik umatnya untuk rasional dalam hal kemandirian ekonomi.

“Haram bagi umat Muhammad hanya berpasrah diri tanpa dibarengi ikhtiar,” kata Gus Robert menyebut dhawuh kedua. Dhawuh ketiga yaitu untuk tidak mengeluh sebagaimana Rosul tak pernah mengeluh sejak kecil untuk semua hal.

Kuliner, Usaha yang Memanen Keberkahan

Sebagai gambaran, menurut Gus Robert, 95% umat Gus Miek adalah para fuqara. Dalam konteks ini, fuqara diartikan sebagai kaum miskin yang sudah tidak punya apa-apa untuk hidup. Gus Miek akan hadir, dalam arti hadir fisik maupun “hadir” sebagai bapak yang membimbing sekaligus hadir sebagai penasihat bagaimana menegakkan perekonomian. Bila sudah berhasil, Gus Miek akan bergeser ke jamaah lain. Demikian seterusnya sehingga umatnya semua punya persinggungan yang mengharukan dan merasa dianakemaskan.

Meski iman seseorang terkait dengan banyak hal, namun Gus Miek tetap memperhitungkan faktor ekonomi sebagai salah satu penyebab “tergelincirnya” iman seseorang. Baik itu seseorang yang terjebak kemiskinan atau justru sebaliknya, menjadi sangat kaya. Pengakuan orang-orang yang sangat kaya dan “dihabiskan” hartanya oleh Gus Miek kerap terdengar. Dihabiskan dalam arti ditata ulang sebab harta tersebut dinilai tidak halal.

Menurut Gus Robert, Gus Miek menyarankan pada umatnya untuk berbisnis yang tidak berisiko tinggi. Berdagang merupakan bisnis yang disarankan sebagaimana Rosululloh telah melakukan. Bisnis yang dimulai dari modal kecil, bukan kredit dari bank ketika belum punya kesanggupan pasti untuk mencicil.

“Menurut Gus Miek, usaha yang paling disarankan adalah kuliner. Kadar halanya 120%,” kata Gus Robert sambil tersenyum. Kadar halal di sini dimaksudkan sebagai keberkahan dan juga risikonya. Dalam bisnis kuliner, orang yang datang akan senang apalagi ketika bisa memuaskan selera. Yang didatangi pun senang ketika dagangannya laris.

Oleh sebab itu, beberapa mantan santri Al Falah sukses dalam bisnis ini. Salah satunya Zainal, laki-laki 30-an tahun sudah sukses berbisnis nasi goreng.

“Sekitar 5 tahunan lalu saya buka usaha nasi goreng ini,” kata Zainal. Idenya datang dari Gus Robert. Menjual nasi goreng yang dimasak dengan arang. Bermula dari satu gerobak di salah satu sudut Kota Surabaya. Kini Zainal sudah punya 7 cabang nasi goreng di Surabaya.

Selain kuliner, usaha di bidang pertanian juga memiliki keberkahan. Disusul dengan berdagang permata, mendirikan perusahaan (PT maupun CV) yang bergerak di berbagai bidang termasuk jasa.

Hal yang sebaiknya dihindari, menurut Gus Miek adalah usaha di bidang garment sebab harus bermodal besar dan trend-nya akan cepat sekali berganti. Beberapa usaha itu tentu saja berkembang kini. Beberapa jamaah Gus Miek pun ada yang berbisnis garment yaitu produksi busana muslim dan berhasil.

Salah satunya Hj. Lilik di Trenggalek, Jawa Timur. Ia memulai usahanya dengan menerima pesanan seragam pondok pesantren. Kini, ia pun menerima pesanan busana seragam dari berbagai instansi.

“Saya banyak dibantu Gus Miek dengan banyak petunjuknya. Kadang-kadang saya rasa tidak masuk akal. Tapi saya jalani, tanpa mengeluh. Alhamdulillah sekarang sudah bisa mandiri,” kata Hj. Lilik. Tak hanya memproduksi tetapi juga punya gerai di Kediri yang dikelola oleh anaknya. Saat Ramadhan dan menjelang Lebaran, ia menerima banyak pesanan. Memang, muaranya tetap berdagang, sebagaimana Gus Miek menyarankan.

Jama’ah yang khusyu’ menyimak Al-Quran dalam sema’an.
FOTO: JATIMPLUS.ID/TITIK KARTITIANI
Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.