READING

Menyapa Jejak Kejayaan Gula di Hotel Daroessalam P...

Menyapa Jejak Kejayaan Gula di Hotel Daroessalam Pasuruan

Seperti memasuki gerbang waktu. Tiang-tiang besar arsitektur Eropa, berpadu dengan ukiran dan furnitur bergaya Tionghoa seperti menopang ingatan untuk kembali pada abad ke-18. Kini, tak hanya kembali namun bisa juga tinggal sejenak. Selamat datang di Hotel Daroessalam, Pasuruan, Jawa Timur, dua tiga abad kemudian.

PASURUAN – “Bangunan ini dibangun oleh Kwee Tjong Hook tahun 1778. Bangunannya, furniturnya, semuanya masih sama sejak dibangun. Bahkan altar doa orang Tionghoa pun masih ada,” kata Hanif Thalib, pemilik rumah yang kini menjadi Hotel Daroessalam. Ia menuangkan kopi jahe, salah satu menu khas hotel itu, yang dikemas dalam teko dan cangkir logam. Rasa kopi, rempah, dan gula teramu di lidah. Kopi, rempah, dan gula adalah komoditas yang membangun sejarah Nusantara lama. Membangun narasi Hotel Daroessalam.

Lobi hotel dengan furnitur klasik
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Awalnya, bangsa Eropa sebagai pemburu rempah ke negeri timur. Kemudian mereka menetap dan membuka perkebunan. Manisnya gula adalah pahitnya perkebunan tebu di Jawa. Penjajahan, perbudakan, dan keringat warga “pribumi” yang kerap kali menjadi pemain figuran dalam panggung sejarah. Sejarah dituliskan oleh para penguasa. Bangsa kolonial mengelompokkan masyarakat di negera jajahan Hindia Belanda dalam tiga kelompok yaitu Eropa (Belanda di dalamnya), Timur Asing, dan Pribumi. Tiongkok, Arab, dan India termasuk dalam kelompok Timur Asing. Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan etnis Tionghoa terhadap pemerintahan Belanda di Batavia yang terkenal dengan Geger Pecinan.

Altar doa yang dibingkai pintu kayu jati. Sebuah dining table besar berangka tahun 1890. Dining table ini disebut Sin Tji yang menjadi saksi kelahiran hingga kematian.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Peristiwa ini menyebabkan pengawasan Belanda terhadap etnis Tionghoa semakin ketat. Belanda pun menerapkan undang-undang wijkenstelsel yang menempatkan etnis Tionghoa dalam sebuah perkampungan khusus yang kemudian dikenal sebagai Pecinan. Setiap Pecinan ini dipimpin oleh kapiten/opsir yang berafiliasi dengan penguasa (Belanda). Geger Pecinan juga menyebabkan pergeseran hunian etnis Tiongkok di pantai utara Jawa bergeser ke arah timur, termasuk ke Pasuruan.

Pasuruan pernah menjadi kota yang sibuk, menjadi tujuan para pemburu dunia baru. Keluarga Kwee merupakan keluarga Tionghoa yang sukses di Pasuruan pada abad ke-19. Leluhurnya datang ke Nusantara pada abad ke-18 dari desa Liu Chuan, Provinsi Fuji. Kwee Tjong Hook (1754-1841) membangun rumah yang kemudian diwariskan kepada keturunannya, Kwee Sik Poo (1847-1930). Kwee Sik Poo menjabat sebagai Kapiten Cina di Pasuruan (1886-1926) dan seorang pengusaha besar di sektor gula pada abad ke-19.

Sebuah lukisan bergaya Eropa yang ada di plafon kamar tidur yang kini difungsikan sebagai ruang pertemuan, tanpa diketahui tahun lukisan ini dibuat.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Hanif menunjukkan sebuah foto keluarga Kwee Sik Poo di teras rumah (yang kini menjadi lobi hotel) yang diambil kisaran tahun 1905. Tiang besar di kanan kiri dengan latar depan berupa ukiran kayu yang masih ada hingga saat ini.

“Sayap bangunan kanan dan kiri dulu merupakan tempat perjamuan tamu-tamu Kwee Sik Poo,” terang Hanif. Sayap bangunan itu kini diubah menjadi kamar hotel.

Interior ruang pertemuan yang dibangun dengan kaca patri.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Jabatan Kapiten Cina dilanjutnya oleh anak Kwee Sik Poo, Kwee Khoen Ling (1879-1946) pun kepemilikan rumah. Ia menjabat dari tahun 1926-1933. Sayang, tahun 1938, Kwee Khen Ling mengalami kebangkrutan dan rumahnya disita bank. Pada tahun yang sama, rumah ini dibeli oleh saudagar Arab, Muhammad bin Thalib. Kemudian diwariskan kepada anaknya, Fachir Thalib (1938-2015), ayah Hanif Thalib.

“Ayah saya sangat mencintai rumah ini. Saya ingin merawatnya persis sama, tidak ingin mengubah hal yang dicintai ayah saya. Makanya saya bikin hotel,” kata Hanif. Hotel yang tak hanya menyajikan penginapan yang nyaman, namun juga narasi sejarah.

Perpaduan Gaya Tiongkok dan Eropa dengan Sentuhan Arab

“Asyik sekali. Saya lihat furniturnya furnitur kuno dari kayu jati besar-besar. Kamarnya pun nyaman,” kata Teuku Reza, pelanggan Hotel Daroessalam asal Jakarta. Beberapa malam dihabiskan di hotel ini. Tak hanya menginap, ia juga “membaca” sebagian Pasuruan dari furnitur, arsitektur, dan foto-foto lama sebagai lembar kisahnya.

D’Fahira Resto, menyediakan menu khas Daroessalam dan narasi sejarah dari foto-foto lama Pasuruan.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Reza adalah salah satu tamu membayar Rp 500.000,-/kamar/malam sebagai tarif umum hotel tersebut atau tergantung harga promo. Bagi sebagian tamu, menginap hanya untuk melewatkan malam. Namun kebanyakan yang tiba di hotel ini, akan menyempatkan untuk meraba sejarah yang disodorkan. Sesekali, Hanif akan memandu tamu-tamunya berkeliling di bangunan seluas 4.000m2 di atas tanah seluas 600m2.

“Ada 30 kamar. Pengunjungnya kebanyakan memang urusan bisnis. Pasuruan banyak perusahaan. Sejauh ini masih dari Indonesia saja. Ada juga dari luar, tapi tidak banyak,” terang Hanif. Hotel ini dibuka pada tanggal 11 Juli 2018.

Interior kamar hotel dengan furnitur berbahan kayu jati gaya lama.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Kwee Hong Sien, pengusaha bidang tanaman namun tertarik mengumpulkan silsilah keluarganya, keluarga Kwee, menuliskan di jurnal Fakutas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, tahun 2017 tentang kisah rumah Kwee Sik Poo. Menurut Hong Sien, Hotel Daroessalam berarsitektur Cina Fuji dengan ciri khas atap seperti ekor burung walet. Namun, bagian bawahnya mengambil bentuk arsitektur gaya Eropa. Gaya yang masih dipertahankan hingga kini, hanya beberapa dimodifikasi.

“Dulu, ruangan berupa kamar tidur yang tidak ada toiletnya. Bangunan Cina kan selalu toiletnya di luar. Maka ruangan ini saya fungsikan sebagai ruang meeting,” terang Hanif. Ruangan besar yang ada di sayap kanan dan kiri bangunan yang dulu digunakan untuk perjamuan.

Sedangkan ruang utama masih tetap sama. Sebuah bangunan yang menghadap pada altar pemujaan dengan dining table yang besar berangka tahun 1890. Hanif hanya menambahkan lafadz Allah di altar tersebut dan menghilangkan ukiran kepala naga. Ada penyesuaian ketika rumah beralih kepemilikan, namun secara keseluruhan masih mempertahankan ciri khasnya.

Atap rumah yang dulu digunakan sebagai sarang walet.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

“Daroessalam berarti tempat atau rumah yang aman,” terang Hanif mengenai konsep hotel. Harapannya, para tamu merasa aman dan nyaman untuk tinggal, dari mana pun mereka berasal. Apapun latar belakangnya. Sebab sejarah mencatat, Nusantara dibangun oleh berbagai keberagaman.

Eksterior hotel dengan second skin bangunan berupa ukiran kayu jati. Lapisan ini berfungsi untuk menahan sinar matahari sehingga suhu di dalam ruangan lebih sejuk.
FOTO: JATIMPLUS.ID/Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Titik Kartitiani

sunset lover, traveler, writer, and fulltime dreamer :)

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.