READING

Menyimak Cerita Masduki dan Sepeda Onthel Tuanya M...

Menyimak Cerita Masduki dan Sepeda Onthel Tuanya Menembus Jalanan Kota

KEDIRI – Wabah virus corona nyatanya berhasil merontokkan sendi kehidupan banyak orang. Tidak terkecuali para juru parkir (jukir). Masduki, salah satu jukir resmi Pemkot pun merasakan hal yang sama. Meski demikian, pria 65 tahun ini tetap berusaha bekerja dengan baik selama pandemi.

Di usianya yang telah masuk kategori lansia, tidak membuat semangat Masduki melemah. Tubuh rentanya masih telaten mengayuh sepeda onthel dari rumahnya di Plosoklaten, Kabupaten Kediri menuju ke tempat kerjanya di sekitar Stasiun Kota Kediri yang berjarak sekitar 22 km. Untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung ke wajahnya, Masduki hanya menggunakan caping bambu yang terlihat bertengger manis di stir sepeda.

Sepedanya pun tidak kalah tuanya. Hampir seluruh bagian terlihat sudah berkarat. Pedalnya pun tidak utuh lagi. Hanya berupa rangka besi tanpa karet. Membuat kakinya terkadang terpeleset dari pedal ketika mengayuh. Sedangkan sadel kulitnya dibungkus dengan kresek hitam agar pantatnya tidak ikut basah jika sepedanya kehujanan.

“Sepeda ini mungkin sudah 40 tahun. Tidak pernah ganti. Eh, pernah ganti sekali karena waktu itu sepeda saya yang seperti ini juga, hilang,” curhat Masduki.

Perjuangannya mengayuh sepeda onthel pulang-pergi lebih dari 40 km setiap harinya, tidak membuat Masduki tertarik untuk mengajukan kredit kendaraan seperti yang dilakukan rekan-rekannya. Bapak lima anak ini lebih senang ngonthel karena membuatnya lebih banyak bergerak.

“Ini saja cukup. Kalau sepedaan lebih sehat,” katanya sambil tersenyum.

Tidak hanya itu, pria yang sudah dikaruniai delapan cucu ini pun lebih senang mengalokasikan penghasilannya yang tidak seberapa untuk anak keturunannya. Pasalnya saat ini Masduki masih memiliki tanggungan dua anak lagi yang harus dibiayai. Makanya keputusan pemerintah menangguhkan sementara segala bentuk angsuran kredit tetap tidak membuatnya tergiur.

“Uangnya untuk nyangoni anak cucu saja,” tambahnya.

Apalagi selama wabah, pendapatan Masduki pun menurun seperti jukir kebanyakan. Sebagian besar kendaraan yang datang ke tempatnya bertugas sebenarnya telah mengikuti parkir berlangganan. Namun beberapa pengendara terkadang masih memberi sedikit uang sebagai ucapan terima kasih. Di hari normal, Masduki bisa mengantongi Rp 50.000 per hari. Namun kini, Masduki hanya mendapatkan seperlimanya saja.

“Karena semua dianjurkan untuk berada di rumah saja jadi ya sepi,” jelasnya.

Makanya Masduki sangat bersyukur sekali ketika tahu dia tetap berhak mendapatkan bantuan sembako. Meski dirinya bukanlah warga Kota Kediri, pria asli Plosoklaten ini tetap dimasukkan dalam daftar penerima bantuan dari program Si Jamal (Sinergi Jaring Pengamanan Sosial ) Pemerintah Kota Kediri.

“Saya berterima kasih pada Kota Kediri. Walaupun rumah saya bukan di kota, tapi tetap dapat,” terang Masduki usai pembagian Si Jamal di Balai Uji Dishub Tamanan, Kota Kediri (16/04).

Usai menerima bantuan, Masduki pun meletakkan bungkusan paket bantuan di boncengan sepedanya dengan suka cita. Setelah dibungkus dengan plastik besar, paket tersebut kemudian diikat erat-erat. Masduki pun kemudian mengayuh sepedanya dengan bersemangat menuju Stasiun Kediri, tempatnya bertugas.

Sementara itu, M. Ferry Djatmiko, Kepala Dishub Kota Kediri, menjelaskan bahwa memang pemberian bantuan dalam rangka wabah COVID-19 ini diperuntukkan untuk semua jukir resmi yang bertugas di kawasan Kota Kediri. “Terlepas yang bersangkutan ber-KTP mana, tetap kita data dan kita berikan bantuan,” pungkasnya.

Penulis : Dina Rosyidha

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.