READING

Menyusuri Kisah Mpu “Alutsista” Majapahit

Menyusuri Kisah Mpu “Alutsista” Majapahit

DIBANDING yang nampak, keris pusaka peninggalan Mpu Supo yang tersembunyi jumlahnya lebih banyak. Seperti kamuflase. Pusaka pusaka yang diyakini bertuah itu berserak dibawah tumpukan batu Kayangan Api. Beragam bentuknya. Ada yang panjang meliuk. Ada yang pendek lurus, dan ada pula yang berukuran medium. Dan semua masih berupa bilah yang belum bergagang.

“Namun sifatnya gaib. Tidak kasat mata dan tidak semua orang bisa melihatnya,“tutur Mbah Juli (65) juru kunci wisata Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro kepada Jatimplus.

Saya hanya menganggukkan kepala. Diksi tidak kasat mata mengingatkan saya pada novel Harry Potter karya JK Rowling. Teringat pesulap David Coperfield yang beratraksi menembus dinding Candi Boroburur. Juga dongeng kuno yang mengoyak nalar semacam cerita manusia terbang seperti Gatotkaca atau orang tua berjenggot panjang berjubah putih menyeberangi lautan hanya berbekal pelepah daun pepaya.  

Kami berada di sebuah warung kopi yang masih satu lokasi dengan Kayangan Api. Duduk berhadapan dan sama sama menyanding secangkir kopi hitam. Cita rasa kopi “kampung” hasil gorengan dan deplokan sendiri. Meski angin berhembus sepoi sepoi, udara siang itu terasa gerah. Sudah beberapa hari ini kata Mbah Juli hujan berhenti mengguyur. Mungkin musim sudah waktunya berganti.

Obrolan kami soal Mpu Supo sejenak berhenti. Berganti bunyi tembakau linting yang terbakar api. Di sela keheningan itu sebuah potret hasil jepretan kamera ponsel tiba tiba disodorkan. Saya tahu, Mbah Juli tidak sedang mempraktekkan kredo kaum milenial no pic is hoax. Tidak ada foto maka teks narasi hanyalah sekumpulan debu yang dikibas angin.

Saya yakin kehidupan kuncen Kayangan Api ini lebih banyak bergelimang urusan merawat pepohonan, menekuni sejarah (Kayangan Api), menghisap tembakau dan menikmati kopi, daripada berselancar di dunia maya.

Dan saya mengerti dia sedang menyampaikan pesan, dirinya tidak sedang  gae gae, mengada ada. Mbah Juli juga tidak sedang “bermain” semiotika. Dengan bukti visual yang disodorkan dia sudah mengatakan apa yang diucapkannya bukan bualan. “Ini coba amati baik baik, “katanya gurat wajah serius.

Foto itu tersimpan sebagai file pic di ponsel jadulnya. Sebuah gambar mirip kolam cahaya. Putih dan menyilaukan mata. Cahaya yang bersumber dari bara api kayangan api. Oleh Mbah Juli sudut pandang saya diseret pada obyek visual yang berbeda. Dia menunjukkan sejumlah garis kecil berbagai bentuk. Ada yang lurus dan ada yang berlekuk. Posisinya mengumpul berserakan.

Menurut dia itulah pusaka peninggalan Mpu Supo yang tersembunyi secara gaib. Dia berhasil menjepretnya. Jumlahnya tidak hanya sebiji dua biji. Tapi banyak. Selain keris juga terdapat mata tombak (waos), pedang, panah dan sejenisnya. “Foto ini saya ambil pada malam hari. Hanya diterangi cahaya bulan dan api, “terang Mbah Juli.

Bagi Mbah Juli foto itu menguatkan cerita soal Kayangan api yang selama ini didengarnya turun temurun sebagai tempat penempaan senjata Kerajaan Majapahit. Sebagian besar senjata para elit Majapahit, yakni terutama keris diproduksi di Kayangan Api. Begitu juga dengan senjata untuk para prajurit tamtama. Semacam Pindad (Perindustrian Angkatan Darat) atau penanggung jawab Alutsista (alat utama sistem pertahanan) di era kini.

Ada 300 model pamor keris. Kemudian sebanyak 12 sampai 13 jenis besi yang digunakan untuk mencipta keris pusaka. Karenannya pembuatan pusaka ini sebuah proyek besar dan seorang Mpu tidak bekerja sendirian. Tugas Mpu hanya membuat bilah keris pusaka. Sementara bagian warangka dan gagang  keris diurusi Mranggi. Begitu juga finishing bagian terluar keris dikerjakan oleh seorang Gemblak atau Kemasan.     

Di perapian yang menyala abadi itu metal dipanggang dan dibentuk. Tumpukan batu kali itu, kata Mbah Juli dulunya susunan batu bata candi. Konstruksinya mirip ruang penempaan. Entah apa alasannya oleh dinas terkait kemudian dibongkar dan diganti batu kali. “Sampai sekarang sisa batu bata candinya masih ada, “katanya.

Siapa Mpu Supo?

Para pembaca sejarah di bangku sekolah dasar hingga menengah, lebih akrab dengan nama Mpu Gandring dan Mpu Tantular. Yang satu pembuat keris yang telah membunuh tujuh turunan Raja Ken Arok dan satunya pengarang Kitab Sotasoma yang diabadikan sebagai nama museum purbakala. Nama keduanya banyak muncul di teks narasi buku sejarah. Sementara Mpu Supo kurang banyak didengar.

Dalam catatannya (tahun 1871), seorang peneliti asing bernama F.L Winter menyebutnya dengan nama lengkap Mpu Jaka Supa. Ada yang melafalkan sesuai bahasa Jawa dan karenanya disebut Mpu Supo. Mpu Jaka Supa atau Mpu Supo dicatat sebagai pembuat senjata, khususnya keris pusaka yang hidup di masa 1484. Namanya termasuk dalam deretan Mpu yang memproduksi keris diatas masa 1429.  Sebut saja diantaranya Mpu Umyang (1525), Mpu Ki Enom (1567), dan  Mpu Sendang Warih (1610) dan sebagainya.

Menurut Mbah Juli, Mpu Supo datang ke Kayangan Api dengan menyamar sebagai pande besi. Dia hijrah dari Tuban dan kepada penduduk setempat mengenalkan diri dengan nama Kriyo Kusumo. Di sebelah lingkaran api abadi, sebuah rumah rumahan kayu berbentuk tenda didirikan sebagai penanda petilasan Kriyo Kusumo. Pada masa itu Mbah Juli menyebut angka tahun 1333.

“ Mbah Kriyo Kusumo atau Mpu Supo masih kerabat Sunan Bonang dan Sunan Kalijogo, “tuturnya. Sebagai pande besi dia banyak beraktifitas di sekitar api abadi.  

Di lingkaran api itu metal ditempa, lalu pada tahap tertentu dibawa ke Palonan atau kolam penyepuhan. Lokasi ini berjarak sekitar 20 meter dari api abadi.

Meski dingin, air kolam penyepuhan yang berwarna kuning keruh itu seperti mendidih.  Bergelembung aktif dan mengeluarkan aroma belerang. Karenanya diberi nama mata air blekuthuk. “Mpu Supo juga yang memberi nama Kayangan Geni yang kemudian berubah menjadi Kayangan Api, “paparnya menceritakan asal usul nama.

Tidak jauh dari Palonan berdiri sebatang pohon berusia tua. Bentuknya melengkung dan membentuk lingkaran seperti gapura. Pohon yang bernama nagasari itu gagang dan warangka keris buatan Mpu Supo dibuat. Menurut Mbah Juli, dari aktivitas yang dilakukan dan tamu pembesar Majapahit yang datang, warga setempat akhirnya tahu siapa Kriyo Kusumo.

Penduduk pun semakin hormat. Sepengetahuan Mbah Juli, keris pusaka buatan Mpu Supo yang paling terkenal adalah Nagasasra dan Sengkelat. Masing masing jumlahnya hanya sembilan. Sebagian keris ini diyakini tersembunyi secara gaib. Salah satunya seperti yang diperlihatkan dalam foto hasil jepretan ponsel. Mbah Juli juga meyakini Mpu Supo tidak mati, melainkan moksa, yakni dalam tradisi Hindu hilang bersama raga.

“Karenannya sampai sekarang banyak yang meyakini Mpu Supo masih berada di Kayangan Api ini menjaga keris pusakanya.  Setiap malam bulan Suro disini selalu ramai didatangi orang orang dari berbagai daerah, tidak terkecuali pejabat, “katanya.

Di era akhir Majapahit Mpu Supo dikenal sebagai empunya empu. Secara silsilah  bisa terlacak dengan jelas hingga era modern. Dalam lampiran “Silsilah Empu Dari Zaman Majapahit, Empu Supo, Regol Megal Megol Fenomena Kosmogoni Jawa” tertulis sebanyak 16 keturunan Mpu yang bergaris darah  langsung dengan Mpu Supo .

Dari yang pertama Mpu Supodriyo (Majapahit), Mpu Jokosupo atau Jaka Supa atau Pangeran Sedayu (Majapahit), Mpu Supoanom (Tuban) sampai keturunan yang ke 15, yakni Mpu Jeno Harumbrojo (Jenggalan).  Di artikel itu penyair cum antropolog  Linus Suryadi AG menyebut Mpu Jeno Harumboyo lahir di Dusun Gatak, Kelurahan Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman Provinsi DIY.

“Berdarah empu pusaka tanah Jawa, dia (Mpu Jeno Harumboyo) keturunan terakhir Mpu Jokosupo alias Pangeran Sedayu yang tersohor sebagai empunya empu pada zaman kerajaan Majaphit periode terakhir, “tulisnya. Kakak sulung Mpu Jeno seorang wanita. Tiga kakak laki lakinya yang lain salah satunya juga menjadi empu.

Salah satu keris buatan mendiang Yoso Pangarso (kakak laki laki) yang meninggal dunia pada tahun 1980an dipesan langsung alm Sultan Hamengkubuwono IX. “Seperti ada yang mengingatkan, seperti ada hubungan gaib. Pekerjaan sebagai empu itu seperti pulung. Warisan bakat empu tidak selalu jatuh pada anaknya langsung, tetapi bisa jatuh pada cucunya, “jelas Mpu Jeno (Regol Megal Megol Fenomena Kosmogoni Jawa).

Mpu Jeno sangat kagum dengan prestasi yang pernah dicapai para empu jaman Jawa kuno.  Pra zaman besi dan zaman perunggu. Ketika pabrik besi baja belum ada. Belum ditemukan orang dan diproduksi dalam jumlah besar, para empu Jawa sudah bekerja dan membuat keris dari bahan bahan itu.

Meski berfungsi sebagai piranti pertahanan kekuasaan (keraton dan kerajaan), namun keris pusaka Jawa yang komponen pendukungnya terdiri dari dua elemen pokok (esoterik dan eksoterik) sejatinya diciptakan untuk kesejahteraan hidup manusia. (Mas Garendi)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.