READING

Menyusuri Rantai Sanad Tarekat Penyuara Kiamat Sud...

Menyusuri Rantai Sanad Tarekat Penyuara Kiamat Sudah Dekat

SEBANYAK 52 orang warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo yang meninggalkan kampung halaman karena isu kiamat sudah dekat adalah pengikut tarekat (thoriqoh) Akmaliyah Ash–Sholihiyah. Mereka mengaku sebagai murid Katimun, warga setempat yang mengunduh ajaran (tarekat akmaliyah) dari Ponpes Miftahul Falahil Mubtadi’in, Desa Pulosari, Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang.

Usai melontarkan “fatwa” meteor jatuh sebagai tanda kiamat sudah dekat, Katimun hijrah ke Ponpes Miftahul Falahil Mubtadi’in. Eksodus dalam rangka mencari suaka di ponpes yang didirikan Kiai Sholeh Syaifuddin. Hijrah Katimun diikuti para pengikutnya yang sampai menjual rumah dan seluruh harta benda yang dimiliki.  

Lalu apa itu tarekat (jalan) Akmaliyah Ash–Sholihiyah?. Benarkah jalan bertasawuf (mendekatkan diri kepada Tuhan) yang ditawarkan dipengaruhi ajaran Ali Hasan atau Abdul Jalil atau dikenal dengan nama Syech Siti Jenar?. Tim redaksi Jatimplus mencoba menyusuri rantai “sanad” tarekat akmaliyah, yakni mulai sejarah kelahiran serta perkembangannya.

Dalam jurnal Pemikiran Keislaman Institute Agama Islam Tribakti Kediri (volume 24 no 1 Januari 2013), Ahmad Masrukin menyebut nama tarekat Akmaliyah terinspirasi dari ajaran Martabat Iman keempat Syech Maulana Ishak, yakni Akmalul Yaqin. Dibanding martabat Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin, martabat Akmalul Yaqin dianggap sebagai puncak iman dan kesempurnaan. Dari kata Akmalul, nama tarekat Akmaliyah dinisbatkan.

Dalam membeberkan Akmalul Yaqin, Syech Maulana Ishak menggunakan analogi Ka’bah. Seseorang yang sudah mencapai tingkatan akmalul yaqin ibarat orang yang tidak puas saja mendengar cerita tentang Ka’bah. Tidak hanya mengawasi dari kejauhan, lalu menyentuhnya. Tetapi berusaha lebih mendekat dengan masuk ke dalamnya, sehingga kemanapun arah pandangan yang ada hanya Ka’bah.

“Ini ibarat dari kemanapun seseorang menghadap, sukmanya hanya menyaksikan Allah semata (Fa ainama tuwallu fatsamma wajhullah), “tulis Ahmad Masrukin dalam risetnya.

Menurut Gus Romli Rofa’Ilallah, putra Kiai Sholeh Syaifuddin, tarekat akmaliyah sudah ada sejak zaman Kiai Syaikhona Kholil Bangkalan Madura. Kiai Kholil seperti diketahui merupakan gurunya para kiai, terutama di tanah Jawa. Hampir semua kiai ponpes tua, termasuk pendiri ormas Nahdlatul Ulama, yakni Hadratusyech Kiai Hasyim As’yari dan Mbah Manab pendiri ponpes Lirboyo Kediri, pernah nyantri ke Syaikhona Kholil . 

Hanya saja tarekat akmaliyah kata Gus Romli hanya diajarkan kepada santri pilihan yang dianggap mumpuni sekaligus mampu mengamalkannya. Salah satu santri yang terpilih itu adalah Kiai Siroj al-Arif Billah Bendosari, Kras Kediri. Dari Kiai Siroj lah, Kiai Sholeh mengunduh ajaran tarekat akmaliyah.

“Sebagaimana gurunya, Kiai Siroj hanya mengajarkan tarekat akmaliyah hanya kepada murid pilihan, yang diantaranya Kiai Sholeh Syaifuddin Pulosari, ”katanya.

Mengacu konsep martabat sab’ah (martabat tujuh) dan wihdatul wujud  atau wahdatul wujud (penyatuan wujud), tarekat akmaliyah memiliki sambungan dogma dengan tarekat Samaniyah. Tarekat Samaniyah didirikan Muhammad bin Abdul Karim al-Madani al-Syafi’i atau al- Sammani atau Syech Saman yang berdzuriyat kepada keluarga Quraisy.

Dalam mendirikan tarekat samaniyah, Syech Saman mengadopsi ajaran Syech Fadlullah al-Burhanpuri, yakni tokoh tarekat Syatariyah Nusantara. Disinilah benang merah saling bertautan. Syech Fadlullah al-Burhanpuri merupakan penganut faham wahdatul wujud sekaligus penyempurna kitab Insan Kamil Syech Abdul Karim al-Jilli.

Al-Jilli adalah cucu Syech Abdul Qodir al-Jaelani (pendiri tarekat Qodiriyah) yang juga penyempurna faham wahdatul wujud nya Syech Ibnu Arabi. Dalam “Wujudiyah di Nusantara, Kontinuitas & Perubahan”, Prof . Dr Miftah Arifin menyebut  konsep yang ditawarkan Arabi memiliki kemiripan dengan falsafah The Onenya (Yang Esa) Plotinus.  

Bagi Arabi, wujud Tuhan pada martabat ahadiyah terlepas dari sifat, nama, rupa, ruang, waktu dan lain sebagainya. Dia benar benar transenden atas segala galanya.  Ibnu Arabi menyempurnakan faham Syech Abu Mansur al-Hallaj atau dilingkungan sufi dijuluki Syechikhul Akbar.

Ditangan Syech Siti Jenar ajaran Wahdatul Wujud populer dengan nama Manunggaling Kawulo Gusti.  Dogma ini memiliki pandangan Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia. Namun hal itu baru bisa bekerja jika manusia mampu  melenyapkan sifat kemanusiannya.

Menurut Dr Abdul Munir Mulkhan dalam “Ajaran dan Jalan Kematian Syech Siti Jenar”, dasar penyatuan itu adalah adanya sifat dasar Tuhan, yakni al-lahut (sifat ketuhanan) dan an-nasut (sifat kemanusiaan). Kedua sifat dasar itu juga dimiliki manusia. Bagi Al Hallaj maupun Siti Jenar penyatuan manusia dan Tuhan sesuatu yang mungkin.

Siti Jenar berpandangan Tuhan bukan sekedar sifat formal sebagaimana yang dirumuskan dalam ilmu tauhid. Tuhan tidak bisa dikenali hanya dengan mengetahui maupun menghafal sifat yang jumlahnya 99, melainkan menyatukan diri pada yang ke 100, yakni dalam diri Tuhan sendiri.  

Bagi Siti Jenar, ritus penyembahan Tuhan tidak cukup hanya dengan memenuhi aturan formal rukun Islam. Penyembahan atau pengabdian yang benar adalah dengan menampakkan ketuhanan dalam diri dan setiap tindakan manusia dalam kehidupan yang obyektif.

Konsep kesatuan itu (manusia-Tuhan) yang kemudian menjadi persoalan, khususnya bagi elite penganut syariah formal. Seperti halnya nasib Al Hallaj, Siti Jenar dihukum mati dengan cara dipancung.

Dalam tarekat Akmaliyah yang “bersanad” pada wahdatul wujud, menurut Gus Romli, seorang calon murid wajib berpuasa tiga hari, yakni puasa tarku kulli dzi ruh serta melakukan wirid sebanyak 500 kali per hari. Setelah itu (calon murid) dibai’at yang diterjemahkan sebagai penyerahan seluruh hidup dan mati kepada Allah sampai tidak memiliki apa apa. Bahkan diri sendiri pun tidak ada.

Selama proses bai’at yang langsung dilakukan oleh guru Mursyid, calon murid harus dalam keadaan suci dari hadas besar dan kecil.  “Setelah itu (baiat) manut opo jare guru Mursyid. Pantangannya adalah tarku syariat (meninggalkan syariat) dan khianat Mursyid, “katanya. Puncak capaian tarekat akmaliyah adalah akmalul yaqin yang tidak lain penyatuan kawula dan gusti (wahdatul wujud).  

Meski dirunut dari sanatnya merupakan gabungan dari sejumlah tarekat pendahulu, yakni terutama Qadiriyah, Naqshabandiyah, Sathariyah, Sadziliyah, dan Samaniyah, tarekat akmaliyah bukan kategori mu’tabaroh atau kebenarannya telah terakui. Dr Syech Jalaludin dalam “Pertahanan Tarekat Naqsabandiyah” menyebutkan ada 41 macam tarekat yang termasuk golongan mu’tabar.

Dari semua nama tarekat yang tertera, tidak ada tarekat akmaliyah. Dalam jurnal Pemikiran Keislaman Institute Agama Islam Tribakti Kediri (volume 24 no 1 Januari 2013) tarekat akmaliyah digolongkan ke dalam tarekat ghoir al–mu’tabaroh atau tarekat sempalan.

Dengan mengeluarkan fatwa kiamat telah dekat yang itu ditandai jatuhnya meteor, membuat 52 warga Kabupaten Ponorogo hijrah ke Ponpes Miftahul Falahil Mubtadi’in, Kasembon Kabupaten Malang. Warga menjual seluruh harta benda, termasuk rumah untuk mencari suaka di Ponpes yang diyakini tidak terdampak kiamat.

Selain hijrah agar selamat dari kiamat, Katimun yang merupakan pengajar Ponpes Miftahul Falahil Mubtadi’in diduga juga menyerukan kepada pengikut tarekat akmaliyah memasang fotonya. Prinsip ajaran Katimun dikenal berjargon “Mulyo Sugih Ampuh asal Sendiko Dawuh (Menjadi terhormat kaya hebat bila patuh pada perintah)”.

Diduga ada sebanyak 500 warga Kabupaten Ponorogo dan Wonogiri Jawa Tengah yang mengikuti ajaran Katimun. Padahal  Al Qur’an Surat Al-Ahzab: 63 dengan jelas menyebutkan tidak ada yang mengetahui waktu terjadinya Kiamat kecuali Allah SWT. (Mas Garendi)


RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.