READING

Merayakan Kopi Rakyat Banyuwangi Yang Bebas Tengku...

Merayakan Kopi Rakyat Banyuwangi Yang Bebas Tengkulak

Dulu, biji biji kopi di kawasan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi tidak sempat menua di tangkainya. Belum juga merah, biji-biji muda itu sudah ikut dirayah.

BANYUWANGI- Di lingkungan petani kopi Gombengsari kehadiran tengkulak selalu mendapat tempat. Terutama bagi petani yang kebelet uang. Kedatangan pencekik ekonomi itu tidak jarang dianggap solusi. Diterima serupa malaikat pembagi rezeki. 

“Keadaan itu terjadi sebelum banyak wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi,“ kenang Muntaha warga Gombengsari menurutkan kisahnya. Biji-biji kopi belum matang pohon itu terpaksa ikut dipetik. Istilahnya ditebas atau dirut. Tidak ada pemilihan biji. Semua diangkut. Resikonya kopi dihargai murah.

Keadaan tidak menguntungkan itu berlangsung bertahun-tahun. Ruang itu memang sengaja diciptakan. Petani yang terjerat tentu saja kehilangan kemerdekaan. Tidak hanya soal harga yang membuat jidat mengerut. Terkadang kepada siapa harus menjual juga harus mengikuti apa kata tengkulak.

Menurut Muntaha petani tidak mampu lagi berfikir bisnis secara sehat. Tidak bisa membedakan mana kopi bagus dan mana yang tidak. Mana yang bisa mendatangkan keuntungan tinggi dan mana yang rendah. Dibenak hanya menguangkan biji kopi dengan segera. “Tentu saja keadaan itu tidak bisa terus dibiarkan,“ kata lelaki berusia 46 tahun itu.

Muntaha juga seorang petani kopi. Di lingkungan Kacanganasri, dirinya juga mengelola kopi. Bahkan mengenal tanaman keras itu sejak masih belum berumur dewasa. Bagi Muntaha, kopi sudah seperti bagian hidupnya. Dia tahu mana kopi bagus dan tidak. Mengerti mana yang berharga tinggi dan rendah.

Muntaha sadar sistem ijon sangat mencekik. Memang putaran uang bisa melaju cepat. Namun  harga kopi yang dibeli selalu terbenam. Banyak biji bermutu yang dibandrol murah. Sampai pada titik itu dirinya memutuskan melawan. “Nasib petani harus berubah lebih baik,“ kata Muntaha yang sejak tahun 1997 menjadi Ketua Kelompok Tani Tunas Harapan. 

Perlawanan dilakukan dengan menutup ruang gerak tengkulak. Para animal economic itu tidak lagi diberi kesempatan bermain. Petani memilih mengurus kopinya sendiri. Biji-biji kopi belum matang pohon tidak lagi dilepas. Para petani berusaha untuk sabar. Menerapkan cara ideal, yakni sebelum berwarna merah biji kopi tidak akan dipetik.

Lepas dari jeratan tengkulak membuat petani semakin cerdas membaca peluang. Seiring berjalannya waktu mereka juga mulai melirik potensi bisnis. Mencoba bermain di wilayah hilir yang selama ini dikuasai pedagang. Dimulai dari pemilihan biji bermutu, cara meracik kopi yang baik juga dipelajari. Menggoreng, menyeduh dan termasuk mencari celah pasar.

“Tidak hanya cara merawat kopi. Petani juga menjadi tahu bagaimana berjualan kopi,“ terang Muntaha.

Kasela, Kafe Rakyat Yang Merakyat

Seiring ramainya kunjungan wisata ke Banyuwangi, yakni khususnya di Gombengsari, warung kopi (warkop), kedai atau kafe banyak bermunculan. Selain destinasi wisata, kedai kopi juga menjadi salah satu tempat jujugan wisatawan.  

Berdasarkan catatan statistik yang ada, kunjungan ke kedai kopi Gombengsari terus meningkat. Tiap bulan  rata rata 20-30 persen. Peningkatan itu salah satunya dipengaruhi maraknya acara festival kopi dan sejenisnya. Yang menggembirakan, tidak sedikit dari owner usaha itu adalah para petani kopi.

FOTO: JATIMPLUS.ID/Widie Nurmahmudy

Muntaha salah satunya. Usaha kafe yang mulai berdiri pada tahun 2016 itu diberi nama Kasela. Akronim dari Kacangan Asri Selalu Langgeng. Muntaha menyebut usahanya sebagai kopi rakyat. Sebab semua proses awal hingga akhir melibatkan petani kopi. Keterlibatan itu membuat petani semakin mengerti bahwa lebih untung menjual kopi dalam bentuk olahan daripada masih biji.

“Semua melibatkan petani. Karena sekarang mereka sudah tahu mana biji kopi yang bermutu dan tidak,“ terangnya. Bermacam-macam produk kopi tersedia di kafe Kasela. Mulai  Kopi Luwak Arabika dan Robusta, Kopi Lanang, Kopi Arabika Original, Kopi Robusta original, Kopi Konuga Robusta, Kopi Excelsa, Green Coffee, sampai Kopi Jambe enom Spesial laki-laki.

Semua kopi hasil produksi petani Banyuwangi. Muntaha menerapkan kerjasama yang saling menguntungkan. Dia menerima penjualan kopi sesuai harga pasar, yakni diatas harga tengkulak yang selama ini merugikan petani kopi. Semua kopi itu kemudian dijualnya lagi dengan harga yang terjangkau.

Seperti kopi rebusta original ukuran 100 gram, dibandrolnya Rp 15.000. Kemudian kopi Lanang ukuran 100 gram  Rp 20.000, kopi Excelsa berukuran 100 gram dibandrol Rp 22.500  dan kopi luwak 100 gram dipatok Rp 75.000.

“Di sini menampung hasil usaha warga,” papar ayah dua anak ini. Tidak hanya semata memburu untung besar. Muntaha juga terus melakukan pemberdayaan masyarakat, yakni bagaimana cara mengelola kopi yang baik dan benar. Di Kafe yang bernuansa pedesaan itu, secara rutin digelar praktek menyangrai kopi.

Kemudian berbagi ilmu tentang cara petik dan merawat kopi. Termasuk mengedukasi jenis-jenis kopi Gombengsari sekaligus mengenalkan perputaran ekonomi di wilayah bisnisnya. Muntaha tidak pernah khawatir akan tersaingi. Dia merasa kemakmuran sudah selayaknya tidak dimonopoli. Sudah sepatutnya diraih bersama.

Di sisi lain dengan praktek pemberdayaan yang dilakukan, tingkat kunjungan ke kedai kopi justru semakin tajam. “Kafe ini memang dibuat sebagai sarana komunikasi dan edukasi,“ katanya.  

Selain dinikmati masyarakat lokal, produk kopi Muntaha sudah menyebar kemana-mana. Di antaranya ke Jember, Lumajang, Surabaya, Jakarta dan luar pulau Jawa, yakni seperti Sapeken dan Sulawesi Selatan. Sebagai wilayah yang kaya potensi, Kelurahan Gombengsari Kalipuro, menjadi jujugan penikmat kopi nusantara.

Orbitkan Excelsa Sebagai Jagoan Baru

Umumnya hanya dua jenis kopi yang familiar di masyarakat, yakni Robusta dan Arabica. Padahal ada jenis kopi Excelsa yang secara mutu dan rasa tidak kalah. Menurut Muntaha karena populasinya yang terbatas, tidak banyak petani Banyuwangi yang mengenalnya. “Padahal kopi Excelsa sudah dikenal sejak tahun 1904. Namun karena populasinya terbatas menjadi kurang dikenal,“ katanya.

Memiliki batang pohon lebih besar, yakni tinggi 9 meter, Kopi Excelsa mempunyai tingkat produktivitas yang hebat. Mampu berbuah sepanjang tahun dan bisa dipanen setiap bulannya. Tumbuh subur di dataran rendah dan lahan gambut dengan iklim sedang hingga panas, Excelsa juga lebih tahan gangguan hama serta serangan penyakit serius lainnya. Karakteristik Excelsa menyerupai kopi Liberica.

“Kopi ini khas dengan aroma nangkanya, sehingga banyak orang menyebutnya sebagai kopi nangka.”Kata pria yang akrab dipanggil Mumun ini. Dengan cita rasa yang khas, yakni bernuansa asam, Muntaha menegaskan jika Excelsa termasuk kopi yang istimewa. Varietas yang layak diandalkan.

Apalagi dari sisi harga juga tergolong bagus. Kopi Excelsa kering bisa laku antara Rp 35.000-Rp 40.000 perkilogram. Sedangkan untuk bubuk, dibandrol Rp. 175.000 per kilogram. Tidak hanya biji kopi. Kulit kopi Excelsa juga bisa diolah menjadi teh rasa kopi. Kulit kopi yang sudah melalui proses perendaman, pemecahan dan penjemuran dijual Rp 40.000- Rp 50.000 perkilogram.

“Ini disebut juga dengan istilah Cascara. Selama ini biasanya kulit buah kopi dibuang begitu saja. Padahal kalau diolah dan dimanfaatkan bisa berdaya jual tinggi. Apalagi penjualan cascara ini prospeknya cukup bagus ke depannya,” katanya.

Mengetahui cascara memiliki nilai ekonomis yang lumayan, petani semakin berdisplin dalam memetik biji kopi. Semakin selektif. Jika tidak benar benar merah, biji kopi tidak akan dipetik. Sebab cascara hanya bisa dibuat dari kulit buah kopi yang benar-benar matang.

“Kehadiran produk cascara memberi pengaruh positif pada petik biji kopi,“ terang Muntaha. Cascara tidak hanya diolah dari jenis kopi Excelsa. Jenis Arabica dan Robusta juga bisa digunakan. Bahkan kulit kopi Arabica lebih tebal dan dari sisi cita rasa lebih enak.

Di masyarakat luas cascara sudah mulai populer. Khususnya di kalangan anak muda. Teh kulit kopi itu biasanya dinikmati tanpa tambahan gula. Rasanya mirip rosela dengan masam yang lebih tajam. “Akan lebih enak bila didiamkan dulu dengan suhu ruang tertentu atau disimpan di dalam lemari pendingin. Dan yang terpenting semua diproduksi dari Banyuwangi,“ pungkasnya.

Reporter : Widie Nurmahmudy
Editor : Mas Garendi

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.