Merayakan Toleransi di Kediri

KEDIRI – Rumah peninggalan Belanda di salah satu sudut Jalan Brawijaya Kota Kediri mendadak riuh. Halaman rumah yang biasanya sunyi dan gelap dipenuhi lampu sorot dan kilatan kamera. Malam itu, rumah milik Poedijohartono yang ‘angker’ telah berubah menjadi panggung seni gemerlap.

Jumat, 16 November 2018, menjadi hari istimewa bagi masyarakat Kota Kediri, khususnya warga Tionghoa. Malam itu, mereka merayakan peringatan Hari Toleransi Internasional bersama-sama suku dan agama lain di Kota Kediri. “Ini hari istimewa bagi kami,” kata Freddy M.A. Lempas kepada Jatimplus.

Freddy adalah warga Tionghoa yang tinggal di Jalan Doho, kawasan yang menjadi pusat bisnis dan perdagangan di Kota Kediri. Bersama anak istrinya, Freddy mengelola toko kacamata Tjiang Optical yang berada tepat di pertigaan Jalan Stasiun. Optik ini adalah toko kacamata tertua di Kota Kediri yang telah memasuki generasi keempat. Kelak jika anak-anak Freddy dewasa, mereka akan menjadi generasi kelima yang konsisten berdagang kacamata di Kediri.

Malam itu, Freddy berkesempatan memamerkan foto dokumentasi perjalanan warga Tionghoa dari Tiongkok ke Kediri dalam acara yang diinisiasi SETARA Institute. Sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang keberagaman dan demokrasi. Kota Kediri dipilih menjadi salah satu kota penyelenggara peringatan Hari Toleransi Internasional yang dilakukan serentak di Indonesia.

Baca Juga : Kisah Keluarga Naga Kediri

Tak hanya dihadiri representasi SETARA, peringatan yang dilakukan dengan menggelar pertunjukan seni lintas agama itu juga disaksikan Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, Wakil Kepala Kepolisian Resor Kediri Kota Kompol Iwan Sebastian, dan perwakilan lintas agama.

Pementasan seni ini melibatkan Barongsay dan Wushu dari Klenteng Tjoe Hwie Kiong, seni bela diri silat dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia, puisi dan musik dari Lembaga Kesenian Nahdlatul Ulama (Lesbumi), dan rebana. Tanpa memandang suku, agama, dan keyakinan, para seniman berlomba menampilkan kesenian masing-masing dalam balutan toleransi yang kuat.

Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar tak bisa menyembunyikan keharuan atas momen istimewa itu. Keragaman suku dan agama di Kota Kediri menurut dia adalah kekayaan yang luar biasa. “Makin beragam penduduk kita, makin kaya Kota Kediri,” katanya saat membuka peringatan tersebut.

Taufik al-Amin, koordinator Paguyuban Lintas Masyarakat (PaLM) Kota Kediri yang ikut dalam pembacaan puisi berpendapat sama. Kota Kediri, menurut Taufik, tak memiliki sejarah permusuhan antar agama. Bahkan semua aliran agama tumbuh subur di Kota Kediri tanpa saling bersinggungan. “Toleransi di kota kami sangat bagus,” kata dosen Institut Agama Islam Negeri Kota Kediri ini.

Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) memiliki basis massa terbesar di kota ini. Bermarkas di Kelurahan Burengan, Kecamatan Kota, LDII tumbuh dengan massif melalui penguatan sistem ekonomi.

Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo juga tumbuh di Kelurahan Bandar, Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Tak ada warga sekitar yang mengusik aktivitas mereka, meski kadang harus melakukan penutupan jalan utama selama berhari-hari.

Di kawasan bisnis dan perdagangan, penduduk Tionghoa menjalankan bisnisnya tanpa khawatir gangguan keamanan. Meski keberadaan mereka mendominasi kegiatan bisnis Kota Kediri, tak pernah ada konflik berlatar belakang dagang yang menyulut pertengkaran massal.

Keberadaan Pondok Pesantren besar seperti Lirboyo dan Al Amin Ngasinan turut memperkaya khasanah Kota Kediri. Sehari sekali setiap pekan, para santri diberi kesempatan keluar pondok untuk berinteraksi dengan masyarakat luar. Beberapa dari mereka bahkan menjadi pelanggan toko milik warga Tionghoa.

Di luar mereka, penganut aliran kepercayaan Sapta Dharma juga bebas beribadah. Aliran yang lahir di Kediri ini bahkan telah berkembang ke seluruh wilayah Indonesia, dengan jumlah pengikut terbesar di Yogyakarta dan Surabaya.

SETARA Institute mendorong partisipasi masyarakat sipil dan kelompok strategis di tingkat lokal untuk aktif mempromosikan toleransi. Halili, Direktur Riset Setara Institute, mengatakan toleransi merupakan fondasi sosial bagi bangunan harmoni dalam kebinekaan. “Sudah seharusnya seluruh masyarakat mendorong secara bersama-sama agar toleransi menjadi etika kolektif dalam merespons perbedaan identitas, keyakinan, dan pandangan,” kata Halili dalam keterangan tertulisnya. (*)

 

 

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

  1. […] Baca Juga: Merayakan Toleransi […]

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.