Mereka Pelestari Lagu Mandarin (3)

Dari tempat tersembunyi, perempuan-perempuan lansia Tionghoa di Kediri belajar menyanyi. Sepekan sekali mereka menyanyikan lagu Mandarin agar tak kehilangan akar sejarah. Jatimplus mereportase aktivitas perkumpulan yang menolak dipotret ini.  

Suasana di Jalan Dr. Setia Budi terasa lengang. Gerimis yang mengguyur Kota Kediri sejak sore membuat orang-orang malas keluar rumah. Hawa dingin begitu terasa saat menyelinap dari aliran Sungai Brantas ke sela bangunan.

Lamat-lamat terdengar suara orang menyanyi di keheningan malam. Suara itu makin keras saat mendekati sebuah rumah kuno di ujung gang. Rumah berasitektur Belanda itu terlihat kokoh meski warna temboknya mulai memudar. Demikian pula deretan rumah kuno yang berjajar di kanan kirinya.

Rumah yang berada tak jauh dari Klenteng Tjoe Hwie Kiong ini merupakan kawasan Pecinan Kota Kediri. Tak hanya satu, puluhan rumah tua yang dihuni warga Tionghoa bercokol di sepanjang aliran Sungai Brantas. Rata-rata pemilik rumah masih mempertahankan bentuk asli bangunan meski tak sedikit yang menyulapnya menjadi toko.

Salah satunya adalah rumah lawas di ujung Jalan Dr. Setia Budi. Makin malam suara nyanyian dari dalam rumah makin kencang. Sesekali terdengar suara perempuan bercakap-cakap melalui pengeras suara. Tawa mereka juga saat mendengar obrolan yang dianggap lucu. “Itu latihan nyanyi. Masuk saja kalau mau melihat,” kata seorang bapak yang nongkrong di warung nasi goreng halaman rumah.

Dari luar rumah itu seperti terpisah menjadi dua bagian. Satu bagian sebelah timur menjadi teras rumah dengan pagar besi dan pintu utama. Sedangkan bagian barat dihuni penjual nasi goreng dan warung kopi.  

Melewati pagar besi yang terbuka, sebuah pintu kayu berukuran besar menanti. Pintu berwarna kuning itu terbuka sepenuhnya hingga memperlihatkan ruangan di dalamnya.

Namun anehnya, aktivitas orang menyanyi seperti yang terdengar dari luar tak juga tampak. Rupanya suara itu berada di balik pintu bagian dalam yang berbentuk ruangan besar. Di atas gawang pintu terpasang banner bertulis huruf China. Di bawahnya diberi keterangan Bahasa Indonesia “Club Panglima”.

Seorang perempuan paruh baya yang duduk di sofa depan pintu tak bergeming. Dia tak terusik dengan kehadiran kami yang baru pertama kali terlihat di tempat itu.

Pintu besar berwarna kuning itu terbuka sedikit. Dari celah pintu terlihat tiga perempuan lanjut usia sedang memegang mikrofone. Di sebelahnya seorang pria muda asyik memainkan keyboard mengiringi biduanita lansia itu berdendang.

Cukup lama kami mengamati dari celah pintu. Beberapa lagu yang mereka nyanyikan tak satupun bisa kami mengerti. Semuanya lagu-lagu Mandarin. Tanpa melihat teks, perempuan-perempuan Tionghoa tua itu bernyanyi dengan percaya diri. Tak satupun lirik yang meleset. Tampak jika mereka telah terbiasa menyanyikan lagu Mandarin.

Sayang nyanyian itu langsung berhenti saat kami memberanikan diri masuk ke dalam. Terlihat lima perempuan Tionghoa lansia duduk terpisah. Sebagian duduk di dekat keyboard, sebagian di meja menghafal lagu.

Butuk waktu cukup lama untuk mengakrabkan diri dengan mereka. Maklum, selama ini tempat latihan menyanyi itu hanya diisi warga Tionghoa. “Adik-adik ini mau apa,” tanya salah satu dari mereka.

Tanpa bersedia menyebut nama, perempuan lansia ini menyampaikan permintaan maaf untuk tidak melayani wawancara. Mereka meminta kami untuk datang kembali besok Kamis. Sebab latihan resmi yang mereka lakukan ternyata hanya di hari Kamis. Sementara pada hari Selasa ibu-ibu itu hanya berkumpul untuk latihan kecil. “Besok Kamis banyak yang datang, langsung bicara dengan ketua kami,” katanya sopan.

Benar saja, belum pukul 19.00 WIB jalanan Dr. Setia Budi sudah terlihat ramai. Deretan mobil berjajar di depan rumah untuk mengantarkan pemiliknya latihan. Aktivitas di warung nasi goreng ikut meningkat. Pemilik warung hilir mudik mengantar pesanan pembeli yang sebagian besar adalah pengantar ibu-ibu menyanyi.

Dari sela pintu ruangan dalam, terlihat deretan perempuan Tionghoa yang mayoritas lansia duduk di bangku plastik. Mereka menghadap seorang perempuan yang menjadi pelatih vokal. Di depan mereka terdapat layar LED yang menampilkan lagu Mandarin.

Banyaknya jumlah peserta menyanyi membuat kami tak memungkinkan masuk. Namun sesuai janji, seorang perempuan lansia yang disebut ketua benar-benar menemui kami. “Wawancara di sini saja ya, jangan masuk ke dalam atau memotret,” pintanya.

Rumah kuno di kawasan Pecinan Jalan Dr. Setia Budi Kota Kediri yang menjadi tempat berkumpulnya perempuan Tionghoa untuk menyanyi. Foto Adhi Kusumo

Alasan Wulandari atau She Yek Chiauw melarang kami memotret masuk akal. Dia tak ingin anggotanya gagal fokus saat latihan ketika dipotret. Kami pun menghargai permintaan itu.

Wulandari adalah adalah anggota klub menyanyi yang ikut merintis paguyuban itu sejak 25 tahun silam. Di usianya yang telah 80 tahun, Wulandari terlihat masih energik dan sehat. Penampilannya juga elegan dan terlihat menonjol di banding peserta yang lain.

Wulandari menjelaskan aktivitas menyanyi ini telah ada sejak 25 tahun silam. Pesertanya terbuka bagi perempuan Tionghoa yang berdomisili di Kediri. Meski tak berbatas usia, namun mayoritas peserta paduan suara berusia di atas 50 tahun. “Awalnya kami latihan menyanyi di Klenteng. Saat itu baru tujuh orang saja yang latihan,” kata Wulandari yang menjadi satu dari tujuh peserta itu.

Entah siapa yang mengawali, ketujuh perempuan Tionghoa itu tergerak mengikuti latihan menyanyi di Klenteng. Lagu yang dibawakan khusus lagu Mandarin yang sebagian besar lagu lawas. Seperti lagu berjudul Yhu Tang te Hayce yang sedang dinyanyikan ibu-ibu di ruangan itu.

Menurut Wulandari, lagu itu mengisahkan kehidupan di Tibet yang jauh. Warga Tibet seperti terpisah dari daratan lain seperti Mongolia dan suku bangsa Tiongkok lainnya. Lagu itu bernada sedih.

Lambat laun jumlah peserta latihan menyanyi ini diikuti perempuan lain. Hingga pada akhirnya jumlahnya bertambah hingga 50 orang dan mampu mendatangkan pelatih sendiri di luar Klenteng.

Karena dilakukan secara mandiri, peserta latihan dipungut biaya. Jumlahnya tak banyak, hanya membayar pelatih yang didatangkan khusus dari Madiun satu pekan sekali. Belakangan aktivitas itu diikuti arisan, dengan durasi pertemuan pukul 19.00 – 21.00 WIB.

Tak sekedar memuaskan hobi. Sesekali kelompok paduan suara ini diundang tampil di Kowloon Palace International Surabaya. Mereka tampil di acara tertentu yang diselenggarakan pengelola Kowloon. Hingga kini mereka telah tampil tiga kali di Surabaya. “Itu kebanggaan karena kami dianggap bermutu,” terang Wulandari.

Di usianya yang lanjut, Wulandari memastikan tak akan pernah berhenti menyanyi. Dia akan tetap menghidupi kelompok ini dan mempertahankan kebiasaan menyanyi lagu-lagu Mandarin. Baginya, aktivitas menyanyi dan berkumpul dengan teman sebaya adalah obat menghadapi aktivitas harian. Setiap hari Wulandari masih bekerja di pabrik ban Maju mulai pukul 06.30 – 16.00 WIB. Sepekan sekali dia menyempatkan diri bernyanyi lagu Mandarin.

Malam itu, angin Sungai Brantas yang dingin tersapu alunan suara ibu-ibu Tionghoa yang menggema. Meski tak memiliki darah Tionghoa, kalbu kami terikat oleh alunan nada Mandarin yang romantis. (*)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.