READING

Mereka Yang Belajar Menenun Dari Balik Jeruji Besi

Mereka Yang Belajar Menenun Dari Balik Jeruji Besi

KEDIRI – Tenun ikat tak hanya menjadi monopoli warga Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Perempuan penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kediri belajar menenun sebagai bekal pekerjaan kelak.

Aktivitas menenun ini dilakukan penghuni lapas dari balik jeruji besi. Dengan tekun mereka mengoperasikan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang disediakan petugas Lapas di ruang khusus. Meski tak selincah pekerja tenun di industri profesional, hasil rajutan benang yang mereka hasilkan tak kalah menawan. “Kalau ada modal, setelah keluar dari sini bisa membuka usaha sendiri,” kata IWN, salah satu penghuni Lapas Kelas IIA Kediri kepada Jatimplus.ID, Selasa 3 Maret 2020.

Perempuan ini mengaku riang bisa memiliki aktivitas di sela menjalani masa hukuman di dalam penjara. Baginya, menenun adalah aktivitas terbaik daripada melamun atau tidur. Selain itu, pengalaman baru ini juga membuka peluang usaha jika kelak menghirup udara bebas.

Selain pelatihan dari instruktur khusus yang didatangkan petugas Lapas, penghuni Lapas tak perlu repot memikirkan semua bahan bakunya. Sebab kebutuhan benang, pewarna, hingga mesin dipenuhi Lapas sebagai bagian program pembinaan.

Kepala Lapas Kelas II A Kediri Kusmanto Eko Putro mengatakan keterampilan menenun ini merupakan program Lapas yang bekerjasama dengan salah satu pelaku industri tenun di Kediri. “Banyak sekali warga binaan yang tertarik mengikuti program ini,” katanya.

Tak sekedar mengisi kekosongan waktu, program pelatihan menenun ini sekaligus membuka kesempatan para penghuni Lapas untuk bekerja di industri tenun. Sebab pemilik usaha di Bandar Kidul siap menerima mereka sebagai karyawan jika telah menyelesaikan masa hukuman.

Peran pelaku usaha tenun ikat di Kelurahan Bandar Kidul ini cukup besar. Selain memberikan pelatihan, mereka juga berperan memasarkan produk tenun penghuni Lapas ke masyarakat. Hasil penjualannya akan sepenuhnya diberikan kepada penenun dari balik jeruji besi.

Menurut Kusmanto, hasil tenun warga binaan ini tak kalah bersaing dengan hasil tenun pekerja profesional. Hal ini secara langsung memacu kepercayaan diri mereka untuk benar-benar menggeluti bisnis ini sebagai sandaran hidup.

Kegiatan menenun sudah menjadi ciri khas masyarakat Kota Kediri sejak bertahun-tahun. Bahkan saat ini tenun ikat telah ditetapkan menjadi ikon industri Kota Kediri sekaligus kekayaan budaya.

Berbagai upaya ditempuh demi mengenalkan tenun ikat Kediri ke pasaran. Melalui Dinas Perdagangan Dan Perindustrian (Disperdagin), Dinkop UMKM, Dinas Penanaman Modal, dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) membantu dalam pelaksanaannya.

“Produknya sudah bagus-bagus sekali. Dulu hampir mati. Sekarang sudah mulai bertumbuh kembali,” terang Walikota Abdullah Abu Bakar dalam acara peluncuran Kampung Wisata Tenun Ikat Bandarkidul beberapa waktu lalu.

Kini tidak hanya berfokus pada produk tenun ikatnya saja. Melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora), Kelurahan Bandarkidul ditetapkan sebagai Kampung Wisata Tenun Ikat. Para wisatawan tidak hanya berbelanja, mereka juga bisa melakukan wisata edukasi di kampung yang digerakkan oleh ratusan penenun ATBM.

Penulis : Kanang Sutisna 
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.