READING

Mereka yang Bergantung dari Sampah Ikutan Bahan Ba...

Mereka yang Bergantung dari Sampah Ikutan Bahan Baku Kertas Impor

Sejumlah pabrik kertas di Jawa Timur menggunakan bahan baku kertas bekas yang diimpor dari berbagai negara. Setelah diambil kertasnya, ada sisa berupa limbah plastik dan benda lainnya yang menjadi mata pencaharian ratusan pemilah sampah. Bahkan ada satu desa hidupnya bergantung dari sampah ini.

MOJOKERTO – Matahari memanggang Desa Banyuurip, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik. Tak jauh dari mulut desa, sebuah areal yang dijadikan tempat pembuangan sampah terlihat lengang. Tak terlihat aktivitas warga memilah sampah. Mengais sesuatu yang bisa dirupiahkan.

“Sudah tak ada lagi kiriman sampah semenjak pertengahan bulan Ramadhan,” kata M. Sofiq yang ditemui Jatimplus.ID akhir Juni lalu di sebuah warung yang letaknya tak jauh dari areal pembuangan. Sebelumnya, sedikitnya ada 2 truk setiap harinya  yang menurunkan sampah di lokasi pembuangan yang sudah dioperasionalkan sekitar tahun 2005 itu.

Sampah kiriman yang berasal dari sejumlah pabrik kertas di Mojokerto itu tidak gratis. “Saya membelinya dengan harga antara Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu tergantung berapa banyak kotorannya,” ungkapnya. Yang dimaksud dengan kotoran adalah sampah yang bisa dijual seperti plastik, kaleng besi dan kaleng aluminium. Dia mengaku membelinya dari tetangga satu desa yang mendapatkan sampah tersebut dari pabrik.

Dalam memilah, Sofiq membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikan pemilahan sampah sebanyak satu truk. Dari hasil mengumpulkan sampah yang memiliki nilai ekonomis itu, dirinya bisa mengantongi uang sebesar Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu. Sementara atas sisa sampah yang hampir seluruhnya berupa serpihan plastik, dia tak berhak namun milik tetangga di mana dia membeli sampah. Sampah sisa ini dijual si pemilik seharga Rp 500 ribu ke pabrik krupuk atau pabrik tahu di Sidoarjo digunakan sebagai bahan bakar untuk tungku pembakarannya.

Moh. Sofiq warga Desa Banyuurip, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik sedang memilah sampah di areal pembuangan. FOTO: JATIMPLUS.ID/ Prasto Wardoyo.

Sofiq mengaku dalam sebulan dia dapat jatah rata-rata 3 truk sampah untuk dipilah. Dia tak sendirian. “Ada 15 orang warga desa yang menjadi pemilah sampah di tempat ini,” kata Sofiq yang sudah menjadi pemilah sampah sejak tahuk 2006.  Laki-laki usia 35 tahun dengan 2 anak ini tak memiliki pekerjaan lain selain menjadi pemilah sampah. “ Yah, sekadar cukup untuk kehidupan sehari-harilah,” kata lelaki lulusan SMP ini. Saat memilah, dia terkadang menemukan uang dari berbagai negara seperti Pound sterling, Dolar Amerika, dan Dolar Singapura. “Itu bonus,” katanya seraya tertawa.

Semenjak kiriman sampah macet, dia masih belum menemukan pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya. Sementara hamparan sampah yang ada saat ini, bisa dikatakan relatif bersih dari “kotoran” yang bisa dijual.

Sebuah Desa yang Menuai Berkah dari Sampah

Kondisi berbeda bisa lihat di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Saat Jatimplus.ID ke sana akhir bulan Juni, sejumlah truk pengangkut sampah masih terlihat lalu lalang. “Itu truk pengangkut sampah dari Pakerin,” kata M. Ichsan Kepala Desa Bangun sambil tangannya menunjuk truk yang tengah melintas di jalanan desa. Pakerin adalah pabrik kertas yang beroperasi sejak tahun 1977. Bangunan pabriknya bersebelahan dengan permukiman warga. Di atas truk yang melintas itu, terlihat gundukan sampah plastik dominan warna putih. “Sampah Pakerin sudah bersih,” terang Ichsan yang sebelumnya 35 tahun menjadi Carik (Sekretaris) Desa Bangun.

Laki-laki 63 tahun ini menerangkan, sebelum tahun 2007 sampah Pakerin banyak disisipi oleh “kotoran” yang memiliki nilai jual  seperti plastik, kaleng besi, dan aluminium. Namun sekarang,  sampah yang memiliki nilai ekonomis itu jauh berkurang.

Sampai saat ini, meski warga masih mau dikirimi sampah oleh Pakerin, namun mengingat nilai ekonomisnya yang susut jauh, warga mendatangkan sampah dari luar Pakerin. Setidaknya ada 11 pabrik kertas yang berpotensi memasok limbahnya.

Seperti diakui Siti Maimanah yang ditemui saat memilah sampah di sebuah areal persis di pinggir jalan desa. Perempuan 35 tahun itu membeli sampah dengan harga bervariasi dari Rp 100 ribu sampai Rp 300 ribu pertruknya. Dalam memiliah, Siti Matmainah dibantu oleh beberapa orang pekerja. Hasilnya, dia bisa mengantongi pendapatan kotor antara Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta.  Sementara Bana, perempuan 60 tahun, di luar pekerjaanya sebagai petani, mengaku mendapatkan upah antara Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu rupiah perhari dari hasil memilah sampah.

Bana, seperti juga warga lain di Desa Bangun, berharap sampah dari Pakerin terus ada seperti sebelum tahun 2007. Sebab dari sampah itu, tersisip berkah untuk kehidupan ekonomi warga satu desa. Hanya di sisi lain, ECOTON meneliti bahwa sampah-sampah yang terbawa akhir-akhir ini semakin banyak. Bukan hanya sampah yang bisa dipilih dan dijual. Namun sampah berpotensi menjadi masalah bagi lingkungan. Sebab sampah plastik tak bisa terurai, hanya remuk menjadi mikroplastik. Senyawa yang sangat mudah menyusup ke semua tempat, termasuk tubuh manusia.

Reporter: Prasto Wardoyo
Editor : Titik Kartitiani

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.