READING

Mereka Yang Mencari Berkah di Makam Raja Kadiri

Mereka Yang Mencari Berkah di Makam Raja Kadiri

Prabu Jayabaya dan mitos kerajaan Kadiri santer dibicarakan warganet. Pemicunya adalah pencopotan Dirjen Imigrasi Ronny F. Sompie dan munculnya kerajaan Sunda Empire.

KEDIRI – Meski tak bertemu di wadah rasionalitas, pencopotan Ronny F. Sompie kerap dikaitkan dengan kultus tanah Kediri. Asumsi ini muncul lantaran Ronny dicopot setelah hari sebelumnya berkunjung ke Kediri untuk meresmikan Kantor Imigrasi.

Mereka meyakini jika penguasa atau pejabat manapun akan tumbang setelah menginjakkan kaki di Kediri, termasuk Ronny F. Sompie. Tanah Kediri dianggap tua dan masih menyimpan kadigdayaan Prabu Sri Aji Jayabaya sebagai penguasa tertinggi.

Meski tak bertemu di wilayah rasionalitas, dinamika itu mengusik rasa penasaran Jatimplus.ID untuk mengunjungi petilasan Prabu Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Kami cukup terkejut saat mendapati masih banyak orang yang melakukan ritual di sana.

“Setiap hari pasti ada yang datang. Tapi biasanya pas hari baik seperti Selasa Kliwon, Jumat Kliwon, dan Jumat Legi lebih ramai,” terang Suratin, juru kunci Sendang Tirta Kamandanu, salah satu bagian kawasan petilasan Sri Aji Jayabaya saat ditemui Jatimplus, Rabu 29 Januari 2020.

Suasana petilasan sore itu relatif sepi. Mendung tebal yang diikuti gerimis membuat pengunjung enggan mendatangi tempat itu. Kecuali tiga orang yang menembus gerimis dan membasuh muka di sendang. Mereka lalu beringsut ke tempat doa. Entah apa yang mereka minta di tempat itu.

Menurut Suratin, sebagian besar peziarah datang berkelompok. Namun terkadang ada pula yang datang sendirian. Mereka akan meminta jasa Suratin untuk memandu ritual atau sekedar menemani berziarah di tempat Prabu Jayabaya bersemedi.

Selain tempat itu, mereka juga bisa memilih tempat Prabu Jayabaya moksa (meninggal dengan raga menghilang) yang berada di dalam satu area. “Atau memilih petilasan Srigati, pengawal Sri Aji Jayabaya di dekat sendang,” tutur Suratin.

Tidak ada ketentuan khusus untuk menjalani ritual doa. Mereka bebas menggunakan media apa saja seperti bunga dan sebagainya saat berziarah. Biasanya bunga yang dipilih adalah bunga tujuh rupa, kembang setaman, kembang sejagat, kembang telon, ataupun kembang panca warna.

Hanya satu syarat yang tak bisa ditawar oleh peziarah adalah mandi dan keramas terlebih dulu di sendang. Tujuannya untuk mensucikan diri sebelum berdoa. Atau bisa juga mandi dan keramas di rumah masing-masing, tetapi dengan tak meninggalkan membasahi muka dengan air sendang. “Itu syarat agar bisa tersambung dengan lingkungan sini,” jelas Suratin.

Waktu berdoanya pun bebas. Bisa pagi, siang, sore, bahkan malam. Tidak jarang para peziarah memilih bermalam di area petilasan untuk berdoa. Hanya saja untuk melakukannya, para peziarah harus lapor dan izin dulu dengan juru kunci. Mereka juga harus menunjukkan kartu identitas. Ketentuan ini berlaku untuk siapa saja, baik pejabat atau orang biasa.

Jika bermalam, mereka diharuskan menginap di area petilasan. Tujuannya untuk menjaga ketenangan kawasan pemukiman di sekitar petilasan. “Jangan-jangan nanti bukannya berdoa malah mbambung (menggelandang) atau kalau bawa pasangan dikira ngelonte (melacur) di sini,” kata Suratin.

Lantas apa yang mereka minta?

Menurut Suratin, para peziarah datang dengan berbagai keinginan. Mulai meminta rezeki, disembuhkan dari sakit, urusan rumah tangga, hingga berharap menjadi pemimpin. Dengan berdoa di petilasan Sri Aji Jayabaya, doa tersebut besar kemungkinan akan dikabulkan. “Jadi bukan berdoa ke Prabu Jayabaya, tapi tetap ke Tuhan. Di sini hanya sebagai media, sebagai jembatan saja,” katanya.

Jauh berbeda dengan fenomena munculnya raja-raja dan penguasa dunia seperti Sunda Empire, para peziarah ini tak mendirikan kerajaan. Mereka hanya meyakini masih adanya kekuatan Raja Kadiri yang bisa membantu menyambungkan doa kepada Tuhan.

Satu-satunya media untuk menghormati sang raja adalah menyelenggarakan upacara adat setahun sekali. Upacara ini sifatnya lebih pada bentuk penghormatan, dan peringatan kisah dan sejarah Sri Aji Jayabaya. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tanggal 1 Sura.

“Penyelenggaranya melibatkan para budayawan dan anak-anak karang taruna sekitar sini,” kata Suratin yang pernah menjadi guru Bahasa dan Sastra Jawa di sekolah.

Pamor kesakralan petilasan Sri Aji Jayabaya sendiri sudah dikenal di berbagai daerah. Tidak hanya dari Jawa, peziarah juga berasal dari Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lain. Sesekali wisatawan dari Belanda, Cekoslavia, hingga Belanda datang ke tempat itu untuk mempelajari budaya.

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.