READING

Meski Keras Mengkritik Pemerintahannya, Bung Karno...

Meski Keras Mengkritik Pemerintahannya, Bung Karno Murka Mendengar Bung Hatta Hendak Ditangkap

KABAR hendak ditangkapnya Mohammad Hatta karena dianggap terlalu vokal mengkritisi pemerintahannya, membuat Bung Karno berang. Meski dalam pemikiran politik Hatta sudah tidak sejalan, namun Soekarno tidak akan melakukan langkah segila itu.

Paska Bung Hatta memutuskan resign dari lingkaran kekuasaan dengan tidak sudi lagi menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia (1956), fakta politiknya dwi tunggal memang sudah ambyar. Faktanya lagi Soekarno dengan Demokrasi Terpimpinnya mutlak sebagai penari tunggal kekuasaan.

Dan memang, Bung Karno tidak hanya sekedar jengkel. Bahkan sangat murka ketika Hatta yang sudah berposisi di luar Istana, tiba tiba menulis artikel “Demokrasi Kita”. Tulisan itu membuat wajah kekuasaannya seperti ditampar dan diludahi.

Sistem Demokrasi Terpimpin yang dilahirkan Soekarno, kata Bung Hatta dalam artikel Demokrasi Kita, tidak akan lebih panjang umurnya dari Soekarno sendiri. Kelak tesis itu terbukti dengan tumbangnya kekuasaan Soekarno paska tragedi 1965.

Hatta mencecar dengan menuliskan demokrasi parlementer yang dijalani di Eropa tidak cocok untuk Indonesia. Sistem yang berlaku hanya membuat presiden dan wakil presiden terpaksa melindungi menteri menterinya yang semena mena.

“Hatta itu mau apa”, kata Bung Karno berulang ulang kepada setiap orang yang ditemuinya (Otobiografi Hasjim Ning, Pasang Surut Pengusaha Pejuang). Bahkan sejumlah surat kabar ibukota yang memuat tulisan Hatta, seperti Nusantara, Pedoman, Indonesia Raya, Abadi dan majalah Panji Masyarakat, langsung dibredel.

Pembrangusan itu menguntungkan Harian Rakyat dan Bintang Timur serta seluruh media massa yang berafiliasi politik dengan Partai Komunis  Indonesia. Media dengan gaya pemberitaan menghantam setiap lawan Soekarno itu semakin leluasa mempengaruhi pendapat umum.

Soekarno dan Hatta merupakan founding father. Begitu juga Sutan Sjahrir. Soekarno memang merasa tak suka dengan sikap politik Hatta. Jengkel dengan pikiran pikiran Hatta yang senantiasa menyerang, terutama setelah berada diluar ring kekuasaan.

Namun haram bagi Soekarno yang kenegarawanannya sudah tidak diragukan, memakai tangan kekuasaan untuk meringkus Hatta hanya karena alasan selisih pemikiran.

Karenanya begitu kabar rencana penangkapan Hatta itu mampir ke telinganya via pengusaha pejuang Hasjim Ning yang tak lain kerabat Hatta, Soekarno sontak melonjak kaget.

“Gila kamu bisa berfikir begitu. Tidak ada orang yang bisa berani beraninya menangkapnya (Bung Hatta), “kata Bung Karno kepada Hasjim Ning setengah berteriak.

Sejak Hatta melengserkan diri dari kursi Wapres tanpa iringan upacara kenegaraan, keterbelahan politik tanah air semakin kentara. Hatta yang merupakan salah satu proklamator, tidak pernah nongol lagi  di setiap HUT RI 17 Agustus Istana Negara.

Sejak itu Istana Negera dengan piranti kekuasaannya seolah menyetrilkan diri dari tokoh tokoh yang tidak sepaham dengan Bung Karno. Medan politik terbelah menjadi dua kutub kekuatan, yakni antara kubu di dalam dan luar Istana.

Istana hanya menyediakan tempat dan waktu untuk mereka yang sejalan dengan Bung Besar. Praktis di ring satu kekuasaan Bung Karno hanya bertengger para pembisik dan orang orang yang hanya terampil berkata “Yes Sir”.

Menurut Hasjim Ning dalam otobiografinya, sejak peristiwa mundurnya Hatta, di lingkaran Istana seperti muncul tradisi tidak mengundang Bung Hatta dan tokoh lain yang berseberangan dengan Bung Karno.

“Aku tidak tahu apakah Bung Karno sendiri yang melarang, atau ada “kroco” yang tidak mengirimkan undangan kepada Bung Hatta. Akan tetapi kepada Bung Karno dikatakan Bung Hatta tidak mau datang, padahal telah diundang, “kata Hasjim Ning dalam Otobiografinya Pasang Surut Pengusaha Pejuang.

Entah siapa yang meniupkan, di ruang publik beredar anggapan bahwa siapa kawan dari lawan Bung Karno adalah lawan Bung Karno pula. Siapa yang batang hidungnya sering terlihat bersama Bung Karno adalah kawan dan sebaliknya.

Melalui kewenangannya para petugas intel dari berbagai instansi keamanan dan juga instansi pengeluar izin juga ikut ambil bagian melakukan sensor terhadap mereka yang dianggap lawan dan hendak menemui Bung Karno.

Disisi lain partai politik yang berada di dalam lingkaran Istana berlomba lomba “mencari muka”. Salah satunya dengan cara memberi gelar keagungan kepada Bung Karno sekaligus menaburinya dengan puja puji.

Sekretariat negara ikut bermain. Tata cara protokoler untuk memamerkan kebesaran Bung Karno disusun. Panggilan “Bung” dihapus. Sementara panggilan “Bapak” dirasakan kurang bermutu. Maka dibuatkanlah panggilan “Paduka Yang Mulia”. Dan Soekarno sendiri sepertinya menikmati.

Satu satunya pemberian gelar yang pernah ditolak Bung Karno adalah “Rimbawan Agung” dari Departemen Kehutanan. “Bung Karno sendiri menyukai (gelar), karena itu akan berarti pengukuhan kekuasaannya agar lebih mutlak dalam kehidupan politik dalam negeri, dan suaranya lebih nyaring bergema di dunia internasional, “tulis Hasjim Ning.

Hasjim Ning sendiri sempat dilarang masuk Istana, bertemu Bung Karno, hanya gara gara statusnya sebagai keponakan Bung Hatta. Kolonel Sabur, ajudan Bung Karno yang blak blakan menyampaikan larangan itu.

“Saudara tidak dibenarkan lagi masuk Istana, karena saudara keponakan Hatta, lawan Presiden, “kata Sabur seperti dituliskan Hasjim Ning dalam otobiografinya.

Hasilnya ampuh. Selama enam bulan Hasjim benar benar “diasingkan” dari Soekarno. Padahal untuk bertemu pemimpin besar revolusi, baginya tidak sulit. Seluruh jalur yang biasa ia pakai bertemu Soekarno mendadak buntu.

“Kutukan” larangan bertemu Bung Karno itu lepas, setelah Hasjim Ning diundang Jendral Sukendro ke rumahnya yang saat itu ada Bung Karno. Disitulah upaya protokoler Istana menciptakan jarak presiden dengan rakyat, terbongkar.

Larangan larangan dari ring satu kekuasaan dengan tujuan menciptakan kotomi politik kelompok dalam Istana dan luar Istana, terbukti bukan keinginan Presiden Soekarno.

Dalam acara makan siang di rumah Jendral Sukendro itu, Bung Karno meradang. Interogasi kepada Kolonel Sabur dilakukan langsung di depan Hasjim Ning, dan saat itu juga ditegaskannya : “Jangan kamu campur adukkan masalahku dengan Bung Hatta. Betul aku tidak suka pada sikap politiknya, tapi dia adalah sahabat baikku”.

Terlepas dari politik kotomi yang diciptakan para pembisik ingkaran Istana Negara yang tidak mampu ia atasi sepenuhnya, Bung Karno tidak menyukai hal itu dan terbukti dilawannya.   

Tidak hanya piawai berbicara. Bung Karno merupakan seorang negarawan yang selalu menyediakan telinganya untuk mendengar. Bahkan meski suara itu datang dari lawan politiknya, Bung Karno tidak alergi mendengarnya.

Bahkan jika hal itu memang dianggap benar Bung Karno tidak segan mengambil keputusan tanpa khawatir para pembisik dan partai pendukungnya akan memusuhi. Begitulah seorang negawaran besar sepatutnya bersikap. (Mas Garendi)  

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.