READING

Meski Resah Corona, Tetap Waspadai Serangan DBD da...

Meski Resah Corona, Tetap Waspadai Serangan DBD dan Chikungunya

KEDIRI – Ketika perhatian masyarakat sedang tertuju pada virus COVID-19, ternyata ada penyakit lain yang sedang mengintai keselamatan warga Kota Kediri. Demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya diketahui merebak hingga pertengahan tahun ini. Bahkan pasiennya mencapai ratusan orang. Beruntung tidak sampai jatuh korban jiwa.

Direktur RSUD Gambiran Kota Kediri, Dr. Fauzan Adima menyebutkan jumlah penderita chikungunya pada Bulan Juni ini mengalami titik tertinggi yakni mencapai 128 orang dari total 191 kasus yang tercatat sejak Januari 2020. Hal ini menunjukkan 67 persen dari total kasus terjadi di Bulan Juni.

“Kasus Bulan Juni paling banyak ditemukan di Kecamatan Mojoroto sebanyak 88 orang,” terang Fauzan (25/06).

Temuan pasien chikungunya di kecamatan tersebut tersebar di Puskesmas Campurejo sebanyak 23 orang dan Puskesmas Sukorame sebanyak 65 orang. Lokasi pasien terjangkit tercatat berasal dari Kelurahan Campurejo, Tamanan, Sukorame, Bujel, dan Mojoroto.

Sedangkan pasien terbanyak kedua di Bulan Juni berasal dari Puskesmas Pesantren yakni sebanyak 40 orang. Mereka diketahui berasal dari Kelurahan Banaran dan saat ini sedang menjalani perawatan. Jumlah ini meningkat tajam dari bulan sebelumnya Mei 2020 yang hanya 17 orang.

“Peningkatan drastis ini sama dengan yang terjadi di Kelurahan Mojoroto,” tambahnya.

Penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah DBD. Meski sama-sama ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, jumlah kasus DBD lebih kecil dari pada chikungunya. Total jumlah pasien per Januari hingga Mei tercatat sebanyak 100 orang. Angka tertinggi terjadi di Bulan Maret sebanyak 30 kasus dan mulai menurun menjadi 15 kasus saja di Bulan Mei.

“Pasien DBD tersebar merata di Kecamatan Mojoroto, Kota, dan Pesantren,” beber pria yang juga Kepala Dinas Kesehatan, Kota Kediri ini.

Meski angka penyebaran DBD lebih kecil, Fauzan mengingatkan agar masyarakat tidak menyepelekannya. Jika terlambat penanganannya, pasien bisa sampai meninggal dunia. Apalagi penyakit ini tidak mudah dikenali oleh orang awam karena gejala awalnya sama seperti flu dan demam biasa.

Baik chikungunya maupun DBD disebabkan oleh virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes Aegypti. Hanya saja jenis virus yang dibawa berbeda sehingga efek buruk dari serangan virus ini berbeda pula. Kemiripan hanya terjadi di fase awal saja makanya kerap terjadi salah diagnosis untuk pengobatannya.

Penderita dua penyakit ini tidak langsung merasakan gejala setelah digigit nyamuk karena ada masa inkubasi virus. Masa inkubasi sendiri adalah proses menyebarnya virus dari titik gigitan ke aliran darah penderita. Untuk chikungunya, masa inkubasinya sekitar 1-12 hari. Sedangkan DBD berlangsung lebih cepat yakni sekitar 3-7 hari setelah gigitan.

Pada fase pertama setelah masa inkubasi, tubuh penderita akan menunjukkan gejala yang mirip antara chikungunya dengan DBD. Gejalanya yakni demam, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta ruam. Di fase berikutnya, mulai ada perbedaan di antara keduanya.

Pada penderita DBD, pasien mulai mengalami pendarahan ringan seperti mimisan, gusi berdarah, hingga mengalami pengurangan neutrofil atau dikenal dengan istilah neutropenia. Neutrofil sendiri adalah salah satu jenis sel darah putih yang berfungsi untuk melawan infeksi bakteri.

Tanda ini bisa berlangsung mulai dari 4-7 minggu, tergantung kondisi tubuh pasien. Sedangkan untuk penderita chikungunya hanya berlangsung sekitar satu hingga dua minggu saja. Meski relatif lebih singkat, penderita chikungunya bisa berujung pada gangguan saraf.

Mengingat kedua penyakit ini tidak main-main, Fauzan mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu menerapkan pola hidup sehat. Mulai dari menjaga kebersihan diri, lingkungan rumah, dan tidak membiarkan adanya genangan air. Selain faktor kebersihan, ada kemungkinan meningkatnya penderita penyakit ini karena masyarakat khususnya anak-anak lebih banyak di rumah selama wabah corona.

Aktivitas yang terbatas selama di rumah memungkinkan mereka mudah tertidur ketika nyamuk Aedes Aegypti sedang aktif menggigit. Nyamuk ini diketahui aktif sekitar pukul 10.00 -12.00 WIB. Di beberapa kasus, nyamuk ini juga menggigit pukul 16.00-17.00 WIB.

“Dua penyakit ini memang rawan terjadi di daerah tropis. Jadi kita harus selalu waspada dengan menjaga pola hidup sehat,” pungkasnya.

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.