READING

Meski Sakral, Manusuk Sima Digelar Secara Virtual

Meski Sakral, Manusuk Sima Digelar Secara Virtual

KEDIRI – Peringatan Hari Jadi Kota Kediri ke 1141 sebentar lagi tepatnya pada tanggal 27 Juli nanti. Namun dipastikan tidak semeriah seperti tahun-tahun sebelumnya akibat pandemi COVID-19. Ada banyak acara-acara besar yang dihapus. Rangkaian hari jadi yang dimulai dengan acara sema’an Al Quran hingga pagelaran ritual Manusuk Sima dilakukan secara virtual.

Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar menjelaskan bahwa tahun ini memang tidak memungkinkan untuk dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Meski seluruh rangkaian dilakukan secara daring, menurutnya hal ini masih relevan untuk dilakukan mengingat jumlah milenial yang melek internet mencapai 60 persen.

“Kota Kediri ini kan kota tua, usianya sudah 1141 tahun tapi penduduknya sebagian besar masih muda-muda. Jadi meskipun digelar secara virtual, mereka masih bisa terlibat. Minimal bisa nonton di channel YouTube Harmoni TV,” terang pria yang akrab disapa Mas Abu ini.

Untuk pagelaran musik dan pameran UMKM juga digelar secara virtual. Dalam kesempatan ini, Pemkot Kediri akan melaunching program IKM Go Digital yang merupakan upaya menggerakkan usaha kecil agar bisa bertahan di tengah tantangan pandemi COVID-19 ini. “Kami berharap meskipun digelar secara sederhana, tidak mengurangi makna perayaan hari jadi tahun ini,” harapnya.

Salah satu rangkaian acara yang cukup penting dalam peringatan Hari Jadi Kota Kediri adalah prosesi Manusuk Sima. Ritual ini setiap tahun digelar di Situs Kuwak, Taman Tirtayasa, Kota Kediri. Rencananya tahun ini tetap akan digelar pada Hari Senin (27/07) nanti. Hanya saja pelaksanaannya cukup terbatas yakni melibatkan tidak lebih dari 40 orang peserta dan digelar dengan protokol kesehatan.

“Pelaksanaannya tanpa penonton. Masyarakat bisa menyaksikan siaran langsungnya via YouTube,” terang Nur Muhyar, Kepada Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri.

Manusuk Sima merupakan tradisi tahunan untuk menghormati leluhur pendiri Kediri. Jadi ada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai pengingat atau tetenger kepada anak-cucu bahwa ada masa ketika Kediri ditetapkan menjadi sebuah wilayah yang berdiri dan tetap bertahan hingga sekarang. Bahkan nama Kediri masih terus dipakai dan memiliki eksistensi sejarah yang cukup kuat hingga di luar wilayah Kediri sendiri.

“Jadi ini penting sehingga kegiatan ini tidak bisa dihapus,” tambahnya.

Bagi Nur Muhyar, meski perayaan tahun ini berlangsung sederhana, diharapkan tidak mengurangi nilai dan makna dari perayaan itu sendiri. Meski sedang lesu dan bersedih, diharapkan masyarakat masih mau sama-sama membangun asa di Kota Kediri dan terus berjuang ditengah pandemi.

“Semoga semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar,” tutupnya. (pro/Dina Rosyidha)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.