READING

Meski Zero Temuan Kasus Corona, Ini Penyebab WNI T...

Meski Zero Temuan Kasus Corona, Ini Penyebab WNI Tetap Dilarang Masuk Arab Saudi

Virus corona terus menunjukkan keganasannya hingga akhir Februari ini. Diketahui penyebaran virus ini telah mencapai negara-negara di Benua Amerika, Eropa dan Australia. Makanya kemudian Saudi Arabia mengambil tindakan dengan menutup sementara layanan ibadah umroh dan wisata religi di kawasannya.

Ada sekitar 22 negara dari Asia Timur, Asia Tengah dan Asia Tenggara yang dilarang masuk. Tidak terkecuali Indonesia. Padahal hingga saat ini, pemerintah Indonesia sendiri menyatakan bahwa kawasan negara kepulauan ini masih dinyatakan zero penderita corona virus. Larangan ini pasti sangat dirasakan masyarakat Indonesia karena setiap tahunnya ada ribuan muslim yang beribadah umroh ke Saudi Arabia.

Saat ini negara-negara di Asia Tenggara sendiri sudah mulai diserang virus corona. Bahkan Singapura yang posisinya sangat dekat dengan Indonesia telah menaikkan statusnya waspadanya dari kuning menjadi oranye. Per tanggal 15/02 lalu ada sekitar 72 temuan pasien penderita virus corona.

Ada yang beranggapan bahwa penyebab Indonesia masih bebas dari virus corona karena iklimnya yang tropis. Suhu udara Indonesia yang rata-rata berkisar antara 35-37 derajat Celsius dan paparan sinar matahari yang cukup tinggi membuat kawasan ini tidak cocok dengan habitat virus dengan nama resmi covid-19.

Tidak hanya itu, banyak yang mengklaim bahwa sistem imun masyarakat Indonesia cukup baik. Membuat virus ini tidak berdaya untuk menembus sistem kekebalan warga negara Indonesia. Padahal faktor imunitas ini sangat relatif dan tidak bisa dipukul rata karena kondisi kesehatan warga negara Indonesia pasti bervariasi.

Belum adanya temuan penderita virus corona ini tidak membuat tim ahli maupun negara-negara lain kagum. Justru mereka khawatir bahwa keberadaan virus ini menjadi silent killer untuk warga negara Indonesia. Ini dikarenakan karakter virus ini cukup unik dibandingkan virus-virus yang mewabah sebelumnya.

The Victorian Health (Vichealth), Australia, menyebutkan bahwa Indonesia sampai saat ini tidak ada data penderita virus corona karena pemerintah setempat memang tidak melakukan tes klinis untuk mengidentifikasi penderita. Pemerintah beranggapan tes klinis baru diperlukan ketika penderita menunjukkan gejala penyakit. Padahal virus corona terus mengalami mutasi dan memiliki masa inkubasi sehingga  tidak serta merta menunjukkan gejalanya.

Seperti yang ditulis dr. Shela Putri Sundawa, di laman www.thejakartapost.com, Covid-19 sendiri sebenarnya masih satu grup dengan virus Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Namun virus corona memiliki mekanisme penularan yang berbeda dengan dua virus tersebut.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, kasus Kapal Pesiar Diamond Princess menunjukkan bahwa hampir semua penumpangnya tidak menunjukkan gejala menderita virus corona. Namun ternyata ketika dilakukan tes klinis, 634 penumpangnya dinyatakan positif virus. Sedangkan untuk awak kapal dari Indonesia, sembilan orang dari total 78 orang kru juga dinyatakan positif. Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan pemerintah Indonesia tidak strategis dan masih rawan kebocoran.

Tidak hanya itu, Indonesia sendiri sampai saat ini masih sangat terbuka bagi para wisatawan luar negeri. Hasil penelitian Mark Lipsitch, seorang epidemiologis dari Universitas Harvard menunjukkan bahwa Indonesia seharusnya memiliki setidaknya lima kasus virus corona. Estimasi ini didasarkan pada hasil perhitungan risiko penularan yang diakibatkan keluar masuknya wisatawan dari mancanegara di Indonesia.

Tidak adanya temuan penderita virus corona di pintu-pintu masuk bandara hanya dilakukan screening berdasarkan suhu tubuhnya saja. Para pelancong juga hanya ditanyai apakah merasakan sakit pernafasan atau tidak. Padahal cara ini sangat tidak efektif karena seorang yang tertular virus corona pasti merasa sehat ketika virus ini masih dalam masa inkubasi.

Mereka tidak akan sadar bahwa mereka sudah tertular dan menjadi penyebar virus ke lingkungan sekitarnya sebelum virus ini menunjukkan efeknya. Pemerintah sendiri enggan melakukan tes klinis bagi seluruh warga negara maupun pendatang karena biaya yang dibutuhkan cukup tinggi. Bahkan para perantau dari Wuhan hanya dikarantina tanpa dilakukan pengecekan kesehatan.

Data kasus COVID-19 berdasarkan dashboard Johns Hopkins CSSE per 29 Februari 2020 Pukul 14.45

Negara Terkonfirmasi Kematian Sembuh
China 79.251 2.843 39.103
Korea Selatan 2.931 17 27
Italia 889 21 46
Iran 388 34 73
Jepang 234 5 32
Singapura 96 69
Hongkong 94 2 30
Lain-lain 705 2 168

Terkait dengan adanya asumsi ketidaksesuaian antara struktur virus corona terhadap struktur sel pernafasan warga negara Indonesia saat ini sudah terpatahkan. Pasalnya ada temuan warga negara Indonesia pun ada yang terjangkit virus corona yakni satu orang di Singapura dan sembilan orang kru kapal pesiar Diamond Princess di Jepang.

Sementara itu, Prof. dr. Soetjipto MS PhD, Koordinator penanganan Korona Universitas Airlangga seperti di tulis dalam www.suarasurabaya.com menjelaskan bahwa pihaknya sudah mencoba melakukan uji sampel dengan menggunakan reagen hasil kerja sama dengan Kobe University, Jepang. Hasil dari uji sampel dari beberapa pasien suspek virus corona, semua dinyatakan negatif.

Prof. Tjip menjelaskan bahwa reagen tersebut bisa mendeteksi apakah sampel yang diuji positif virus corona atau tidak. Tingkat akurasinya mencapai 99 persen. Hanya saja memang uji klinis yang menggunakan reagen tersebut masih sangat terbatas untuk sampel yang masuk ke Laboratorium Penyakit Tropis (LPT) Unair. Prof. Tjip sendiri menyatakan siap jika kementerian kesehatan menggandeng LPT Unair dalam menguji seluruh pasien suspek virus corona.

Penulis : Dina Rosyidha
Editor: Prasto Wardoyo

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.