READING

Mie Ayam Bu Minten, Legenda Sejak Tahun 1980 di Ke...

Mie Ayam Bu Minten, Legenda Sejak Tahun 1980 di Kediri

KEDIRI – Menyantap mie ayam adalah pilihan paling masuk akal di musim hujan. Tak sekedar pengganjal perut, kuah yang panas dijamin membuat tubuhmu hangat.

Jika tak punya referensi santapan mie ayam, kamu perlu mencoba mie ayam Bu Minten. Kedai mie ayam ini cukup terkenal di Kota Kediri dan memiliki pelanggan tetap. Tak heran jika setiap hari terlihat lalu lalang pengunjung di sana, utamanya di musim hujan.

Kedai atau depot mie ayam Bu Minten berada di Jalan Trunojoyo, Kelurahan Pakelan, Kota Kediri. Dari ruas jalan Brawijaya yang menjadi jalur besar Kota Kediri, kamu hanya perlu belok ke kiri sejauh 200 meter. Kedai ini sangat mudah dikenali dengan spanduk warna kuning mencolok di kanan jalan. Sementara warna kedainya dominan hijau muda.

Selain strategis, kedai ini juga terlihat bersih dan lega. Ruangannya luas dan tak berdesakan dengan pengunjung lain.

Tak ada menu aneh-aneh di sana selain mie ayam biasa dan tambahan krengsengan ayam. Jika ingin nikmat, kamu bisa memilih tambahan telur puyuh sebagai pendamping mie. Namun ingat, jangan terlalu banyak mengkonsumsi telur puyuh jika tak ingin kandungan kolesterol tubuhmu melonjak. “Sekali-kali bolehlah, biar tidak ngiler,” kata pramusaji menawarkan telur puyuh.

Tak perlu menunggu lama untuk bisa menikmati satu porsi mie ayam plus telur puyuh Bu Minten. Hanya perlu menunggu lima menit, jika tidak sedang antre, semangkuk mie ayam sudah di depan mata. Asapnya yang mengepul menebarkan aroma gurih hingga menggugah selera.

Dari kasat mata tampilan mie ayam Bu Minten cukup menggoda. Potongan daun sawi masak, suwiran daging ayam, dua telur puyuh, dan beberapa kerupuk pangsit berjajar rapi di atas mangkuk mie. Di tepi mangkuk tersemat acar segar dan cabe segar. Jakun pun terasa naik.

Jangan kaget jika mie ayam ini berwarna kuning polos, dengan kuah bening. Pemilik kedai sengaja tak menambahkan saos atau sambal merah di sana. Sehingga rasa kuahnya benar-benar orisinil. Kaldu ayamnya begitu kuat hingga meresap di setiap helai mie. Kuahnya juga tidak terlalu oily hingga tak menimbulkan efek eneg.

Menariknya, keberadaan daging ayam tak hanya di atas mie saja. Setelah dibongkar, masih ada potongan ceker dan daging ayam di balik gundukan mie. Alhasil konsumen dipaksa menikmati sensasi “krikit-krikit” daging ayam.

Hanya saja, ada yang perlu diperhatikan bagi penikmati mie ayam fanatik. Yakni mie yang diolah di kedai ini adalah mie telur instan berwarna kuning. Bukan mie khusus pangsit warna putih. Bagi pembeli yang terlanjur suka mie pangsit tak perlu risau karena rasanya benar-benar tidak mengecewakan.

Jika tak percaya, kamu bisa menanyaan berapa porsi mie yang dipesan pelanggan setiap harinya. “Setiap hari bisa ratusan mangkuk. Saya nggak menghitung jumlah pastinya,” kata pramusaji yang tak mau namanya ditulis.

Selain pilihan menu mie ayam biasa, di sini kamu bisa memesan variasi lain seperti mie ayam-ceker, kepala, sayap, ati-ampela, atau kulit. Selain semangkuk mie, kamu bisa mendapatkan bagian ayam yang dipesan dalam jumlah lebih banyak.

Hebatnya lagi, sejak dibuka tahun 1980-an lalu, hingga kini tak ada yang berubah dengan kualitas rasa mie ayam Bu Minten. Satu-satunya yang berubah adalah harga yang dibanderol demi menyesuaikan bahan pokok. Satu porsi mie ayam biasa dipatok Rp 11 ribu saja. Sedangkan mie plus ayam ekstra dihargai Rp 16 ribu per porsi. Tertarik?

Reporter : Dina Rosyidha
Editor : Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.