READING

Misteri Maling Gentiri di Bukit Maskumambang (1)

Misteri Maling Gentiri di Bukit Maskumambang (1)

Kisah Maling Gentiri begitu populer di masyarakat Kediri. Dia kerap disebut sebagai Robin Hood dari tanah Jawa.

Sejak berpuluh-puluh tahun lalu makam Boncolono di puncak Bukit Maskumambang Desa Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri dikenal wingit. Tak banyak peziarah yang datang selain memiliki hajat dan orang yang mengaku keturunannya.

Meski menjadi bagian dari obyek wisata Goa Selomangleng, satu-satunya destinasi wisata alam yang ada di Kota Kediri, makam Boncolono paling jarang dikunjungi orang. Wisatawan lebih memilih Goa Selomangleng meski hanya berjarak 100 meter dari makam Boncolono. Demikian pula Dinas Pariwisata setempat yang cenderung mengabaikan makam sang Maling Gentiri sebagai lokasi acara budaya.

Letak makam Boncolono yang berada di puncak bukit Maskumambang bisa jadi alasan terbesar enggannya pengunjung untuk singgah. Untuk menjangkau puncak bukit, harus meniti lebih dari 480 anak tangga menuju makam dengan pemandangan hutan di kanan kiri.

Meski terlihat segar dan asri, jangan pernah membayangkan perjalanan menuju makam Boncolono mengasyikkan. Titian tangga yang hampir mencapai 500 anak tangga menjadi satu-satunya jalur pendakian yang harus dilalui. Tak ada yang bisa dilihat selain belantara di kanan kiri yang sunyi. Suara serangga hutan yang acap kali terdengar membuat bulu kuduk berdiri di tengah nafas yang tersengal. Karena itu disarankan untuk melakukan pendakian bersama teman agar tak bosan dan mengantisipasi kecelakaan.

Titian anak tangga mulai mendatar saat mendekati lokasi makam di puncak bukit. Tak langsung terlihat, lokasi makam yang dikelilingi pagar tembok dan pintu kayu menambah kesan angker makam Boncolono. Dari luar pintu kayu terlihat jelas pemandangan di dalam lokasi makam.

This image has an empty alt attribute; its file name is 6-Makam-Mbah-Boncolono-Sang-Maling-Gentiri.jpg
Makam terduga Maling Gentiri di Bukit Maskumambang Kediri. Foto: Jatimplus/Adhi Kusumo

Di balik tembok pagar ternyata masih ada tembok batu yang terlihat berusia tua. Tembok batu yang mengelilingi makam itu lebih rendah, kira-kira setinggi 1,5 meter. Di dalamnya terdapat tiga buah makam yang saling berjauhan. Tiap-tiap batu nisan terbungkus kain putih yang mulai kumal. Satu diantaranya tertutup kain putih lebih banyak. Ketiga makam itu berada di bawah rerimbunan pohon Bendo yang berusia sangat tua.

baca juga: Mencari Pesugihan di Makam Maling Gentiri

Uniknya, tampilan ketiga makam itu tak senada dengan tembok batu yang mengelilinginya. Jika tembok batu terlihat cukup lama dan dipenuhi lumut, bangunan makam justru terlihat lebih baru. Dibuat dari bata dan semen, makam itu terlihat kerap ditambal dengan adanya lapisan semen baru di sana-sini.

Selain sama-sama tertutup kain putih di batu nisannya, ketiga makam itu juga menyisakan sisa sesaji. Beberapa sesaji tampak baru saja ditinggalkan pemiliknya dengan sisa bunga yang masih segar.

baca juga: Sejarawan Anggap Maling Gentiri Hanya Kisah Fiksi

Menurut Mbah Darno, pemilik warung di kaki bukit Maskumambang yang ditunjuk warga sebagai juru kunci, tiga makam tersebut adalah makam Boncolono, Tumenggung Poncolono, dan Tumenggung Mojoroto. Kedua tumenggung itu adalah anak buah Mbah Boncolono atau yang dikenal dengan julukan Maling Gentiri.

Dalam papan nama yang dipasang Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Kediri, tertulis makam Mbah Boncolono sebagai seorang sakti mandraguna yang hidup di jaman penjajajan Belanda. Selama hidupnya Mbah Boncolono berprofesi sebagai maling yang mencuri harta orang kaya untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat miskin. Dia dijuluki sebagai Maling Gentiri.

Print Friendly, PDF & Email

Hari Tri Wasono

Freelance journalist | Press freedom is ur freedom

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.