READING

Misteri Naskah Pramoedya Ananta Toer yang Hilang d...

Misteri Naskah Pramoedya Ananta Toer yang Hilang di Penerbit Tan Khoen Swie, Kediri

Ternyata Pram mengawali menulis bukan menulis karya fiksi, melainkan tentang khasiat tanaman obat dan buku harian. Naskah itu tak pernah terbit karena dikabarkan hilang di penerbit Kediri, Tan Khoen Swie (TKS).

KEDIRI– Kepengarangan sastrawan Pramoedya Ananta Toer sudah tidak diragukan lagi. Terlebih selain puluhan judul novel hingga kumpulan cerita pendek (cerpen) sudah banyak beredar dan diterbitkan dalam berbagai bahasa. Misalnya novel Anak Semua Bangsa telah diterbitkan dalam 22 bahasa.

Kualitas karya Pram dari segi isi dan pesan kemanusiaan kerap mendapatkan penghargaan bergengsi dari dalam maupun luar negeri. Selain proses pembuatan karya yang penuh perjuangan, karya Pram pun pernah gagal diterbitkan dan dikabarkan naskah tersebut hilang. Penerbit itu penerbitan TKS di Kediri. 

Kisah ini bermula dari pengakuan Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung sastrawan kaliber dunia ini. Koesalah dalam catatan pribadinya berjudul Pramoedya Ananta Toer Dari Dekat Sekali menjelaskan karya hingga pandangan hidup Pram.

Koesalah memaparkan kisah perjalanan kepenulisan Pram dalam sub judul Menjadi Pengarang. Bagian ini menampilkan hasil wawancara Koesalah dengan Pram yang dilakukannya di Bojong Gede, 1 Desember 2005, pukul 11.00 WIB.

Dalam percakapan antara kakak dan adik itu memuat beberapa pertanyaan yang dijawab Pram. Hingga akhirnya Koesalah bertanya kepada Pram terkait masa awal Pram mulai menulis. Pram mulai menulis pada saat ia kelas lima SD. Walaupun tidak ingat tahun berapa, namun Pram mengaku menulis atas dorongan pribadi karena memiliki banyak adik yang harus dia tanggung dan biayai.

“Aku sangat produktif karena aku merasa punya adik banyak, nggak ada yang ngurus. Itu menjadi tanggung jawab,” ujar Pram dalam buku tersebut.

Soal tema, Pram mengaku tak bisa mengingat semuanya. Walaupun begitu dia menjelaskan bahwa sejak kecil dia sudah menulis resep-resep (obat) tradisional hingga khasiat macam-macam tumbuhan.

“Waktu itu aku suka nyatat resep-resep (resep obat dan tumbuhan berkhasiat),” ungkap Pram, pengarang tetralogi Pulau Buru ini.

Pram mengaku bahwa karya pertamanya itu dikirim sendiri melalui pos ke penerbit TKS di Kediri. Hanya soal kelanjutan naskahnya, Pram menjawab singkat: hilang.

Lebih lanjut Pram menjelaskan bahwa tulisan pertama yang dia kirim ke penerbit itu dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Jawa maupun Belanda. Bahasa Jawa dan Belanda banyak digunakan dalam buku-buku yang beredar di Hindia Belanda tahun 1930-an. “Aku kan gak suka nulis pakai bahasa Jawa dan Belanda,” aku Pram.

Selain pada awal kepenulisan Pram menulis resep pengobatan dan khasiat tumbuhan, dia juga mengaku menulis buku harian. Buku itu katanya juga hilang di penerbitan Tan Khoen Swie.

Akhirnya tahun 1947, karya Pram pertama terbit di Panji Pustaka, majalah terbitan Balai Pustaka. Karya tersebut berupa cerpen berjudul Ke Mana. Hal ini sangat menggembirakan Pram. Ia merasa bisa menggenggam dunia.

“Dunia di tangan ini, itu kekuatan, dan menyenangkan. Menulis itu menyenangkan,” terang Pram ketika saat itu  merasakan tulisannya diterbitkan pertama kali ini.

Deretan buku-buku yang diterbitkan TKS. Kebanyakan bertema sastra, budaya, dan religi.
FOTO: JATIMPLUS.ID/ Moh. Fikri Zulfikar

Konfirmasi dengan Pihak TKS

TKS berdiri sekitar tahun 1915, beberapa tahun sebelum Balai Pustaka berdiri di Jakarta. Kini, TKS tidak beroperasi lagi, namun peninggalannya masih ada dan terawat.

Menilik karya pertama Pram baru berhasil terbit tahun 1947, maka diperkirakan Pram mengirim tulisan ke TKS sebelum tahun tersebut. Untuk menelusuri keberadaan tulisan-tulisan Pram yang dikirim ke Tan Khoen Swie, Jatimplus.id mendatangi TKS di Jl. Dhoho, Kota Kediri. TKS kini menjadi toko jajanan dengan papan nama “Toko Surabaya”.

“Sekitar 1970-an, penerbitan ini sudah tidak difungsikan lagi,” ujar J. Sutjahjo Gani cucu Tan Khoen Swie. Dokter Gani, sapaan akrabnya, merupakan generasi ke-3 TKS yang merawat peninggalan TKS. Peninggalan tersebut diletakkan di lantai 3.

Ruang itu menyimpan peralatan alat cetak stensilan peninggalan TKS. Selain itu ratusan judul buku hasil terbitan TKS mulai dari tahun 1920 hingga 1970-an masih tertata rapi di rak.

“Memang kami sempat mendengar kisah karya pertama Pram yang dikirim ke penerbit kakek saya ini,” ujar Gani ketika ditemui pada Rabu (29/5) lalu. 

Gani menerangkan dari hasil pendataan naskah yang diterbitkan dan ditolak TKS, ia tidak menemukan catatan tentang naskah Pram. “Sebelum tahun 1950-an naskah yang masuk pasti tercatat oleh kakek. Tapi setelah penerbitan dipegang Michael Tan, anaknya, memang banyak catatan maupun naskah yang hilang,” ungkap Gani.

Pram mengirim naskah itu sebelum tahun 1950-an, Gani yakin akan tercatat dengan bagus. Karya Pram yang tidak bisa ditemukan dalam data penerbit TKS, bisa jadi karena naskah Pram ditolak dari awal oleh redaksi TKS.

“Bisa jadi malah karya itu ditolak sejak awal, sehingga kami tidak bisa menelusurinya,” dugaan Gani.

Gani menduga penolakan naskah Pram mungkin karena konten dan tema tidak sesuai dengan tema buku-buku yang diterbitkan TKS saat itu. TKS menyukai tema budaya, sastra jawa, filsafat, hingga tema religi penganut Tri Darma.

“Kalau melihat tema resep-resep pengobatan dan tumbuhan berkhasiat yang dikirim Pram sepertinya itu ditolak karena tidak sesuai dengan visi dan tema yang banyak digarap penerbit TKS ini,” ujarnya.

Judul-judul di rak buku menjelaskan tema-tema yang diterbitkan TKS. Antara lain karya sastra karangan R. Ng. Ronggowarsito berjudul Tiga Sastra,  Wedatama Winardi karya R. Soedjonoredjo, hingga majalah religi penganut Tri Darma yaitu Majalah Sam Kauw Hwee yang terbit tahun 1935. Tema resep dan khasiat tanaman obat karya Pram agaknya tidak sesuai dengan fokus tema yang diterbitkan TKS.

Penulis: Moh. Fikri Zufikar
Editor: Titik Kartitiani

print

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.