Mong Gelato, Es Krim Itali di Kediri

KEDIRI – Jika ada manusia di bumi yang tak suka es krim, mungkin hanya sedang sakit. Karena tak ada alasan bagi lidah untuk menolak sensasi es krim yang dipuja semua kalangan.

Tak seperti es cendol dan es kelapa yang berwujud cair, es krim tergolong makanan beku. Sebagian besar pembuat es krim menggunakan susu yang digabungkan dengan perasa dan pemanis. Adonan itu lantas didinginkan dengan cara diaduk untuk mengurangi suhu. “Ini untuk mencegah pembentukan kristal es besar,” jelas Angga, chef kepala salah satu villa di Batu, Jawa Timur.

Membuat es krim, apalagi untuk kebutuhan bisnis tentu tak sesederhana itu. Menurut Angga, tuntutan cita rasa masyarakat saat ini telah berkembang pesat. Hingga tak heran jika produsen es krim seperti Walls atau Campina terus meng-update varian produk mereka.  

Bahkan belakangan mulai bermunculan gerai Gelato di sejumlah kota di Jawa Timur. Gelato adalah es krim (dalam Bahasa Italia). Namun dalam konteks kuliner, gelato berkembang menjadi jenis es krim yang dibuat sesuai tradisi orang Italia.

Tekstur gelato lebih padat dengan rasa susu yang lebih kuat dibanding es krim. Makanan ini juga diklaim memiliki lebih sedikit lemak dibanding es krim. Komposisi susunya juga lebih banyak dibanding krim, dengan penambahan sedikit kuning telur. Inilah alasan bagi sebagian konsumen untuk meninggalkan es krim.

Di Kediri, ada satu kedai gelato yang cukup diminati masyarakat. Namanya gelato Mong. Kedai gelato ini berada di Jalan Panglima Sudirman, bersebelahan dengan swalayan Ramayana dan tak jauh dari alun-alun Kota Kediri.

Meski gerainya tak terlalu besar, varian gelato yang disajikan lumayan banyak. Seperti Red Bean, Mocha, Cappucino, Coco Pandan, Tiramisu, Oreo, hingga Durian.

Pemilik gerai tak membandrol harga mahal untuk gelato mereka. Gelato dengan porsi cup dijual Rp 9.000, porsi big cup Rp 16.000, dan jumbo cup seharga Rp 23.000.

Makin besar ukuran cup, makin banyak pula varian rasa gelato yang bisa dicicipi. Jika small cup hanya bisa menampung satu jenis rasa, big cup menampung dua rasa, dan jumbo cup hingga lima rasa sekaligus.

Bagi yang tak menyukai cup bisa meminta cone berbahan kerupuk sebagai wadah. Sama seperti cup yang memberi tiga varian isi, cone terdiri dari ukuran small untuk satu rasa, medium untuk dua rasa, dan big untuk tiga rasa sekaligus. Penambahan topping hanya dikenakan charge sebesar Rp 2-3 ribu per cone.

Untuk rasa, gelato Mong bisa dibilang tak mengecewakan. Karena jika acuannya Gelato Gusto di Bali dan Tempo Del Gelato di Yogyakarta, gelato Mong bukan kelasnya. Namun jika untuk memenuhi rasa penasaran makanan beku asal Italia ini, sudah lebih dari cukup.

Tak hanya menjajakan es, gelato Mong juga menawarkan makanan berat seperti Tomyam chicken, Tteokbokki (makanan Korea), pancake, pancake+gelato, Churros, dan kentang goreng. Harganya tak lebih dari Rp 10.000 – 15.000 per porsi.    

Meski berada di ruko, penataan properti di gelato Mong cukup menarik. Penambahan ornamen di sejumlah dinding menjadi spot foto yang asyik.

Sabtu, 23 Maret 2019, Nayla Jasmine, remaja 13 tahun yang berkunjung di gelato Mong tampak berkutat dengan kamera ponselnya. Memanfaatkan ornamen dinding yang dipajang di belakang meja saji, gadis berjilbab ini sibuk berswafoto dengan adik-adiknya. “Tempatnya asyik untuk selfie,” katanya.

Penambahan ornamen dan spot tentu tentu bukan menjadi pertimbangan utama di bisnis kuliner. Karena tagline “rasa tak pernah bohong” akan selalu menentukan sukses tidaknya bisnis ini. (Hari Tri Wasono)

Print Friendly, PDF & Email

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.