Mudik, Pulang ke Udik?

KEDIRI – Mudik adalah salah satu aktivitas wajib yang dilakukan masyarakat di hari lebaran. Benarkah mudik hanya dilakukan oleh orang-orang udik?

Meski bukan seorang Muslim, Anton telah mengemasi barang pribadinya. Ini adalah hari kedua puluh pelaksanaan ibadah puasa di bulan ramadan. Artinya, sebentar lagi aktivitas mudik akan terjadi, dimana Anton menjadi bagian dari kegiatan itu. Padahal dia tidak puasa, dan juga tidak berlebaran.

“Saya memang tidak berlebaran. Tapi karena perusahaan saya libur panjang, saya ikut mudik ke Surabaya,” kata Anton, Jumat 24 Mei 2019.

Sejak menikah dengan istrinya, Anton tinggal di Kediri. Pegawai pabrik kertas milik PT Gudang Garam Tbk ini bahkan telah memiliki rumah dan berganti Kartu Tanda Penduduk sebagai warga Kota Kediri. Namun setiap lebaran, dia selalu pulang ke rumah orang tuanya.

Hal yang sama dilakukan Wenny Riza Ummamy, staf Dinas Kesehatan Kota Kediri yang mudik ke Bondowoso. Sebelum lebaran tiba, Wenny harus sudah berada di Bondowoso untuk mempersiapkan lebaran bersama orang tuanya. “Membuat kue adalah aktivitas wajib di kampung,” katanya.

Selain memenuhi toples makanan, Wenny juga akan mengikuti ibadah sholat Tarawih di masjid kampungnya. Dia rindu suasana ramadan di Bondowoso yang penuh dengan suara mengaji. Meski berdekatan, tiap-tiap musholla akan memperdengarkan suara mengaji melalui pengeras suara.

Selembar tiket kereta api telah digenggamnya. Kereta itu akan mengantarnya pulang ke kampung halaman, menjemput kenangan ramadan yang tak didapatnya di perantauan.

Anton dan Wenny adalah potret pemudik di tanah air. Bagi mereka, mudik adalah pulang ke kampung halaman. Tak peduli apakah kota asal mereka lebih kecil atau lebih besar dari tempat perantauan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebut mudik sebagai berlayar, pergi ke udik (pedalaman). Dengan kata lain mudik adalah pergi dari kota menuju kampung. Bahkan tak jarang kita menyebut orang yang berperilaku kampungan sebagai orang udik.

Jika memakai pengertian itu, apa yang dilakukan Anton tak termasuk di dalamnya. Sebab dia merantau di Kediri dan pulang ke Surabaya, yang notabene adalah kota lebih besar. Sementara dia menyebut aktivitasnya sebagai mudik, yang dimaknai dengan kampung halaman.

Kosakata mudik mulai populer di tahun 1970-an, dimana banyak sekali warga pedesaan yang merantau mencari pekerjaan ke Jakarta. Belakangan perantauan itu juga merambah ke kota-kota besar lain.

Di hari tertentu, khususnya tiap perayaan lebaran, mereka akan berbondong-bondong pulang ke kampung halaman masing-masing. Sehingga mereka yang melakukan mudik disebut sebagai pemudik.

Pemudik di era sekarang tentu berbeda dengan identifikasi pemudik di era lampau. Jika dulu pemudik terdiri dari para pekerja kasar atau level menengah bawah, kini semua orang yang pulang ke kampung halaman disebut sebagai pemudik.

Mudik telah menjadi tradisi bagi seluruh lapisan masyarakat yang rindu kampung halaman. Mudik juga bukan menjadi monopoli umat Islam di hari lebaran.

Jadi, mau mudik kemana kamu tahun ini? (HARI TRI WASONO)

Print Friendly, PDF & Email

RELATED POST

Your email address will not be published. Required fields are marked *

By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.